JAKARTA– Salah satu pimpinan Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3), Amien Rais meminta agar Allah mencabut kekuasaan dari para penguasa di negeri ini apabila tidak memberikan manfaat kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan dirinya saat memberi sambutan dalam acara doa dan tahlilan yang digelar TP 3 untuk mengenang 100 hari kematian 6 Laskar Front Pembela FPI dalam bentrok dengan polisi di Jalan tol Jakarta-Cikampek pada Selasa (16/3).
“Ya Allah, kalau masih bermanfaat kekuasaan dari para otoritas negeri ini, ya tetap berikanlah kepada mereka. Tetapi kalau tidak, tolong dicabut,” kata Amien menirukan doa yang sudah diucapkan sebelumnya.
Dia menilai, doa tersebut bermakna sangat dalam. Amien pun meminta kepada seluruh umat Islam agar terus berdoa untuk penyelesaian perkara pembunuhan ini.
“Intinya adalah berikan keadilan, bukan hanya kepada enam laskar, tapi kepada bangsa Indonesia ini dan juga mudah-mudahan kezaliman bisa pelan-pelan berlalu,” ucapnya lagi.
Kepada Bergelora.com dilaporkan, mantan Ketua MPR itu meyakini bahwa enam Laskar FPI tersebut telah dibunuh, dianiaya dan dibantai oleh para pelaku. Sehingga, dia pun tetap mendesak agar penuntasan perkara tersebut dapat segera dirampungkan.
Amien, mengatakan bahwa dirinya bakal ikut berjuang untuk membuktikan tuduhan-tuduhan yang selama ini pihaknya kemukakan.
“Enam Syuhada yang nanti akan kita buktikan itu torture dianiai, dibantai, dibunuh secara judicial killing,” jelasnya.
Pimpinan TP3 yang lain, Abdullah Hehamahua mengatakan bahwa pihaknya telah sepakat untuk merintih dan mengadu kepada Allah agar segera campur tangan dalam perkara ini.
“Maka hari ini kami sepakat, merintih, kami mengadu, mengetuk pintu langit untuk Allah campur tangan,” kata Abdullah.
Dia pun menitipkan kepada umat beragama untuk turut mendoakan para penguasa di negeri ini agar dapat lebih serius dalam menangani kasus pembunuhan ini. Dia menyinggung agar mereka didoakan kembali pada ajaran-ajaran Islam, konstitusi, dan berdasarkan Pancasila.
Hanya saja, Abdullah tak mengatakan lebih lanjut mengenai sikap ataupun perbuatan pemerintah yang dinilainya jauh dari ajaran-ajaran agama, ataupun konstitusi dalam penanganan perkara ini.
“Mudah-mudahan Allah mendengar rintihan kita pada malam hari ini,” tandas dia. (Web Warouw)

