JAKARTA- Paris Agreement on Climate change mengharuskan dunia untuk mengurangi secara signifikan, untuk akhirnya tidak lagi memakai sumber energi listrik yang kotor yang banyak menghasilkan emisi GRK (gas rumah kaca), terutama emisi Karbon. Hal ini diingatkan pakar energi, Dr. Kurtubi dari Anchorage, Alaska, Amerika Serikat kepada Bergelora.com di Jakarta, Jumat (18/6).
Ia menyampaikan, emisi GRK banyak dihasilkan oleh energi fosil. PLTU Batubara diketahui paling banyak menghasilkan emisi karbon dan polutan. Sehingga Lembaga Keuangan atau bank-bank International sudah tidak mau lagi memberi pinjaman untuk pembiayaan membangun PLTU.
Artinya menurutnya, kedepan listrik bersih bebas dari GRK dan polutan berasal dari EBT (energi baru dan terbarukan) yang harus banyak dibangun. Terutama listrik dari PLTN. Karena energi nuklir selain bersih juga bersifat Non-Intermitten.
“Oleh karenanya, para ahli nuklir dan masyarakat muklir harus kompak untuk ikut mendukung tren kebijakan energi dunia ini dengan memberikan pemahaman dan edukasi kepada masyarakat tentang kemajuan reknologi PLTN yang semakin efisien murah dan semakin aman,” ujarnya.
Kecelakaan PLTN Fukushima menurut Kurtubi tidak bakalan terulang seperti yang ditawarkan oleh PLTN berbasis Thorium Gen IV type MSR (molten salt reactor).
*Kita tahu listrik dari energi terbarukan itu intermitten. Padahal listrik dari Batubara kedepan, suka tidak suka akan menghilang. Logika dan Science menyatakan bahwa yang bisa menggantikan PLTU menjadi komponen utama dalam struktur base load yang kuat handal dan efisien adalah PLTN Generasi IV,” jelasnya.
Listrik Intermiten seperti PLTSurya dan PLTBayu menurut Kurtubi, tidak bisa berfungsi sebagai komponen utama dalam struktur base load. Tetapi harus dibangun karena bersih. Listrik Intermiten bisa masuk ke sistem grid transmisi PLN harus dibantu oleh Pembangkit Listrik Non-Intermitten dan Bersih, yakni PLTN atau PLTPanas bumi.
“Kalau tersambungnya listrik intermitten ke sistem grid transmisi PLN dibantu oleh listrik dari fosil seperti PLTDiesel, PLTMG yang gampang dihidupkan dan dimatikan, maka sama juga boong, karena bertambahnya jumlah PLTSurya dan PLTBayu yang dibangun malah akan selalu diikuti oleh penambahan emisi GRK,” ujarnya.
Hal ini menurut Kurtubi sudah dibuktikan oleh Jerman sebagai negara yang sangat banyak membangun pembangkit listrik bersih intermiten dari Tenaga Surya dan Tenaga Bayu tetapi menutup PLTNnya karena Jerman adalah negara Anti PLTN.
“Namun fakta dan science tidak bisa bohong. Fakta menunjukkan bahwa Carbon Intencity dari setiap kwh listrik yang dihasilkan di Jerman jauh melampaui/ diatas yakni 8 kali Carbon Intencity Perancis yang 75% dari Energy Mix nya berasal dari energi nuklir,” jelasnya.
Hal ini diperkuat dengan fakta juga bahwa sekarang Jerman menjadi negara Uni Eropa dengan listrik yang paling kotor dan dengan tarif listrik yang paling mahal.
“Saya optimis, tidak hanya Indonesia, bahkan duniapun yang sangat membutuhkan PLTN,” kata alumnus Colorado School of Mines, Amerika Serikat dan Ecole Nationale Superieure du Peterole et des Moteurs – IFP, Perancis juga Universitas Indonesia ini menjelaskan.
Mencairnya glacier di Alaska yang sudah berlangsung sangat lama menurutnya adalah bagian dari dampak perubahan iklim karena kenaikan suhu bumi. Selain semakin seringnya bencana kebakaran hutan, antara lain di California, bencana angin puting beliung juga di Amerika dan banyak negara lain, naiknya permukaan air laut, dan lainnya,” ujarnya. (Web Warouw)

