Jalan Sumenep 17, Menteng, Jakarta, 1 Oktober 1965
Dinihari sekitar pukul 02.30 derap sepatu lars memecah keheningan di kediaman Mayjen TNI (Anumerta) Sutojo Siswomihardjo. Suara prok….prok….prok…puluhan sepatu lars menapaki lantai ubin rumah Sumenep, mengagetkan seluruh penghuninya. Sutojo dan istrinya RA Suparmi, serta tiga putera puteri mereka, Agus Widjojo, Nani Nurrachman Sutojo, dan Ari Wisaksono, serta Tante Liliek, sepupu Jenderal Sutojo terbangun.
Suasana keheningan dinihari di dalam rumah kawasan Menteng itu pun berubah gaduh. Orang-orang bersepatu lars bisa masuk dengan mudah ke dalam rumah Jenderal Sutojo lantaran situasi yang tidak menguntungkan dan berbeda dengan bayangan orang secara umum. Tidak menguntungkan situasinya karena mereka sedang merenovasi rumah sehingga garasi yang terhubung dengan pintu belakang rumah terbuka. “Ini yang menyebabkan kelompok yang mengambil ayah saya bisa masuk lewat belakang.” Agus Widjojo mengenang peristiwa dinihari, 48 tahun silam.
Situasi tidak menguntungkan lainnya, mereka tak memiliki penjagaan dan gudang penyimpanan senjata. Dengan banyaknya pasukan yang masuk ke rumah Jenderal Sutojo, apalagi bersenjata, maka sulit bagi keluarga itu melakukan pembelaan diri. Menyadari keadaan tidak menguntungkan bagi keluarganya, Jenderal Sutojo memilih menyelamatkan keluarga dengan menemui puluhan tamu tak diundang itu di ruang tamu. “Bertahan jelas tidak mungkin. Jadi pilihan yang diambil oleh ayah saya mengikuti kemauan mereka untuk menyelamatkan keluarga,” cerita Agus.
Sebelum menemui mereka, Jenderal Sutojo memberikan perintah kepada sang istri. “Jangan sekali-sekali keluar kamar.” Sang ibu sigap mematuhi perintah itu dan menyampaikan perintah itu kepada Agus dan dua adiknya yang bersebelahan kamar dengan ayah dan ibu mereka. “Kunci kamar dan tidak boleh keluar kamar.” Dua kamar keluarga itu saling berhubungan karena memiliki pintu connecting door.
Keduanya berbagi tugas. Agus mengunci kamar yang terhubung menuju dapur,sementara Nani adiknya, mengunci kamar yang terhubung dengan ruang tengah. Pada saat Nani belum lagi tuntas memutar kunci kamar, sebuah ujung bayonet menembus pintu kamar dan nyaris mengenai tubuhnya. Beruntung pada saat bersamaan, dia melangkah mundur. Nani selamat dari tusukan ujung bayonet. “Saya kemudian berlindung di kolong tempat tidur tanpa memerhatikan Tante, Mas Agus, maupun Ari. Sambil terus tiarap, kami mendengar suara barang-barang dihancurkan di seluruh penjuru rumah. Tak usah dikatakan bagaimana takutnya saya saat itu. Seluruh tubuh saya bergeletar.” (pengakuan Nani dalam bukunya, Saya, Ayah, dan Tragedi 1965, tebitan buku Kompas halaman 66).
Terkunci di dalam kamar, praktis membuat Agus dan dua adiknya tidak pernah bertemu orang-orang bersepatu lars yang membawa ayah mereka. Namun lewat cerita sang ibu,yang mendengar peristiwa di ruang tamu itu, sempat terjadi dialog prosedural antara sang suami dan orang-orang bersepatu lars.
Sutojo : Kalian siapa?
Orang-orang bersepatu lars: Kami utusan Presiden (Pasukan Cakrabirawa) untuk menahan Bapak.
Sutojo: Mana surat perintahnya?
Komukasi antarmereka pun mandeg, setelah Jenderal Sutojo meminta surat perintah penahanan. Tindakan kekerasan mulai dilakukan orang-orang bersepatu lars. Mereka memecahkan barang-barang yang ada di ruangan dengan popor senjata, dan menusuk pintu kamar dengan ujung bayonet. Dengan terpaksa, Jenderal Sutojo memilih mengikuti kemauan pasukan bersepatu lars. Bersama deru suara mobil truk pada dinihari, dan derap prok…prok bunyi sepatu yang meninggalkan Sumenep 17, sang ayah lepas dalam genggaman. Sutojo tak pernah kembali pada pelukan Ibu Supadmi, istrinya, Agus Widjojo, Nani, dan Ari. “Sejak pasukan membawa ayah, kontak kami berakhir,” kata Agus.
jam kemudian, ketika hari mulai terang tanah, Agus mengantarkan ibunya ke rumah tetangga untuk meminjam telepon dan mengabarkan peristiwa dinihari itu. Rupanya, sambungan kabel bukan hanya diputus di rumah Jenderal Sutojo saja. Terbukti, telepon milik tetangga di kawasan itu juga tak bisa digunakan. Mereka lalu menghubungi Kepala POM Daerah Militer Kolonel …. CPM. Tapi Kepala POM DAM pun tidak bisa memberikan penjelasan tentang perkembangan keadaan.
Keadaan tidak menentu selama belum ada kabar penemuan sang ayah dan beberapa jenderal yang diculik bersamaan malam itu. Agus dan keluarganya yang dengan alasan keamanan mengungsi ke Rumah Pakde Topo di Kebayoran Baru, praktis hanya memeroleh informasi dari surat kabar, radio dan televisi. Melalui pemberitaan di media itulah, mereka memeroleh gambaran tentang situasi politik yang memanas antara TNI AD-PKI-dan Bung Karno. “Memanasnya situasi politik antara PKI-Bung Karno-dan TNI AD sudah memenuhi halaman pertama koran dan berita TVRI.”
Ketika mereka memupuk harapan sang ayah dapat kembali dalam pelukan mereka kabar duka itu datang pada tanggal 4 Oktober 1965. Sang ayah ditemukan meninggal di sebuah sumur di Lubang Buaya. Ada haru yang begitu pekat dalam dirinya. Putera sulung yang baru duduk di kelas tiga SMA ini menahan tangis. “Saya hampir menangis tiga kali. Pertama ketika jenasah ditemukan di Lubang Buaya, saat disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat, dan saat pemakaman,” ujar Agus.
Kenangan suara sepatu lars itu sesekali muncul dalam ingatan Agus . Dia sempat mengaku trauma dengan suara sepatu lars meskipun peristiwa pahit itu tak menghantui sepanjang hidupnya. “Yang trauma dengan sepatu lars itu bukan cuma para pengamat dan aktivis, aku pun trauma dengan suara sepatu lars itu. Prok…prok…prok.” Agus bercerita sembari tertawa lebar. Tawanya yang lebar mengisyaratan pelepasan dirinya atas trauma.
Dalam rentang masa setelah kepergian sang ayah, ada rasa penasaran dalam dirinya mengenai pengambilan paksa itu. “Anda kira saya tidak pernah mau tahu siapa yang membunuh Ayah saya? Tidak ingin tahu bagaimana Ayah dibunuh? Saya ingin tahu, saya penasaran. Tapi apakah semua itu kemudian mendikte seluruh kehidupan saya?,” kata Agus. Memang, dia mengakui, karena usianya terbilang masih remaja, mengalami disorientasi menghadapi masa depan karena kehilangan kepala keluarga. “Seolah saya berada di persimpangan jalan yang tidak saya perkirakan sebelumnya.” “Kalau saya masih punya ayah, mungkin saya tidak jadi tentara.”
Tapi seluruh pertanyaan itu dia tuntaskan dalam masa kontemplatif. Pelan-pelan dia menemukan dirinya kembali. “Kalau pun saya marah apa yang bisa saya lakukan, dan apakah ada artinya.” Agus memilih berpikir realistis “Lebih baik memikirkan masa depan. Bukan untuk membalas dendam. Itu semua untuk ke dalam diri saya. Saya bisa mengenal diri sendiri.” Melalui FSAB itulah, jembatan rekonsiliasi terpampang. Dia memilih duduk bersama dengan anak-anak korban konflik berlatar belakang beragam untuk satu tujuan Indonesia lebih baik.
*Artikel ini ditulis oleh Bernada Triwara Rurit dalam buku kumpulan tulisan yang berjudul The Children Of War oleh Forum Silahturahmi Anak Bangsa (FSAB) yang di terbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, Juni 2013. Bergelora.com menurunkan tulisan ini atas seijin penulis.

