Oleh: Toga Tambunan *
ROHKUDUS memberi info melalui Paulus mengingatkan manusia mencari tahu karya Elohim Jahweh, sbb:
“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kolose 3:1-4)
Pikirkan perkara diatas selain perkara dibumi. Perkara dibumi itu, kita sudah langsung terlibat, dilibatkan maupun melibatkan diri ditengah hegemonik kuasa Lucifer, pendominasi bumi sejak Elohim Jahweh mengusir Lucifer diusir dari surga dan membuangnya ke bumi. Lucifer berada di angkasa; dari sana merusak bumi serta jagat raya. Kemudian hari terutama merusak karakter manusia.
Peristiwa Elohim Jahweh membuang Lucifer ke bumi, terjadi mungkin ribuan atau jutaan tahun lalu. Sesaat sejak Lucifer membangkang kedaulatan Elohim Jahweh. Elohim Jahweh menetapkan putusan membinasakan Lucifer.
Pembangkangan Lucifer itu merupakan pangkal atau pertama kalinya ada kontradiksi. Untuk mengingatnya disebut kontradiksi prima, sekaligus membedakannya dari banyak kontradiksi yang muncul kemudian. Kontradiksi prima ini berupa kontradiksi antagonis Elohim Jahweh terhadap Lucifer, yakni membinasakan Lucifer.
Lucifer tidak langsung dibinasakan. Belum ada hukum obyektif tentang perbuatan salah. Juga belum ada tata acara mekanisme penghukuman atas yang bersalah. Elohim Jahweh belum merilis hukum-hukumNya.
Elohim Jahweh Maha Kuasa. Tapi tidak mau berkuasa sesukaNya. OtotitasNya berlangsung berdasar aturan yang lebih dulu sudah diketahui khalayak ciptaanNya.
Keputusan Elohim Jahweh membinasakan Lucifer ketentuan yang terdapat dalam perasaan pikirannya. Perasaan pikiranNya bermukim dalam diriNya sendiri, belum dirilis sebagai instrumen penata kehidupan ciptaanNya.
Sementara Lucifer dibuang ke bumi, Elohim Jahweh merilis berbagai hukum keadilan maupun kebaikan terhadap ciptaanNya, yang sebelumnya terdapat dalam diriNya, dan belum dikodefikasi obyektif, untuk menata struktural dan sistim hubunganNya dengan ciptaanNya, diantaranya dengan Lucifer.
Sampai sekarang pun Lucifer belum binasa. Lucifer merajalela merusak jagat raya yang tadinya berstatus baik. Terlebih lagi terhadap manusia yang khas diciptakan Elohim Jahweh.
Justru konstelasi kehidupan manusia seperti sekarang inilah Rohkudus menyuruh manusia memikirkan juga perkara yang diatas selain perkara di bumi.
Analisa terhadap perkara di bumi dan terhadap perkara diatas, memungkin seseorang dapat memahami saling keterkaitan perubahan yang terjadi dan mengantisipasi arahnya, bahkan menjangkau realisme hidup didepan, jangka pendek maupun jangka panjang dan akhir perubahan.
Dalam konteks kontradiksi prima, Elohim Jahweh memproses tercipta manusia-Allah di bumi, disebut dalam 1 Timoteus 6:11, sesuai rancanganNya, yakni segambar dengan semua komponen dalam diriNya, dan hidup serupa dengan perasaan pikiranNya. Ternyata Adam, manusia pertama itu pada permulaan menerima aturanNya saja, sudah gagal. Kemuliaan Elohim Jahweh langsung meninggalkan Adam yang tadinya bersamanya. Adam jadi manusia yang rusak karakternya oleh siasat tipu Lucifer.
Lucifer tahu kepentingannya Elohim Jahweh menciptakan manusia untuk pembukti tindaknya membangkang kedaulatan Elohim Jahweh itu, merupakan kejahatan terhadap Elohim Jahweh. Lucifer juga tahu rencana Elohim Jahweh bahwa dirinya akan dibinasakan oleh manusia.
Lucifer berupaya merebut manusia dari Elohim Jahweh dan menyeret manusia melakukan kepentingannya, yakni mengingkari kedaulatan Elohim Jahweh dengan menghembuskan ambisi nafsu sombong mementingkan diri sendiri ke jiwa manusia. Dengan nafsu sombong itu pula, manusia akan saling bermusuhan. Kondisi bermusuhan antar manusia itulah, perintangi manusia mencari kehendak Elohim Jahweh.
Lucifer menghasut Kain membunuh adiknya Habil, membangkit gelora perang dalam ekosistim kehidupan manusia. Lucifer terus maju merasuki manusia bani Israel di Tanah Perjanjian, warga Tirus, warga Sidon, Babel, Suriah, Etopia, Moab, Mesir, Persia, singkatnya warga di seluruh pelosok planet bumi. Konfigurasi masyarakat global dikendalikannya. Bahkan politik Amerika Serikat memusuh Korea Utara dan kontradiksi sebaliknya, kontradiksi Rusia vs Ukraina yang nampaknya formal antara kuasa Volodimyr. Zelensky vs Vladimir Putin, dll kontradiksi antar manusia di bumi, sejatinya dikordinasi Lucifer.
Tokoh-tokoh penyembah relatif taat terpilih Elohim Jahweh di era Perjanjian Lama seperti Abraham, Yakub, Nuh, Musa, Goliat, Saul, Daud, Salomo betapa pun istimewanya pribadinya, mereka tidak dapat keluar dari konstelasi Lucifer. Hanya Henokh dan Elia yang terangkat ke surga. Sedang Musa dikabarkan wafat, tapi kuburnya tidak tahu dimana; apakah juga terangkat ke surga?
Lucifer berkutat mengusai manusia dengan berbagai cara, terutama memfasilitasi kesenangan hidup menetap di dunia.
Elohim Jahweh tetap merilis hukum-hukumNya. Bani Israel tetap diplot jadi pilot proyek kawan sekerjaNya membasmi Lucifer.
Malah imam bani Israel menambah aturan dalam Taurat menyimpang dari aslinya. Sekalipun Sodom dan Gomora telah dihajar hancur oleh Elohim Jahweh sekitar 4000-an tahun lalu, sebagai penjeraan agar generasi lanjutan dan bangsa lain melepaskan diri dari kungkungan Lucifer. Mereka tidak sanggup menangkap perasaan pikiran Elohim Jahweh.
Mereka tidak mengalami pendekatan Abraham terhadap kedaulatan Elohim Jahweh. Rahasia Elohim Jahweh belum mereka ketahui. Mereka di parkir Lucifer berada dan mengejar kesenangan sejak dunia masih sistim komunal, dan eskalatif lagi di zaman peran uang makin mengatur kehidupan dalam sistim dunia perbudakan.
Hingga ujung Perjanjian Lama kehidupan bani Israel hanya berkesadaran romantisme akan adanya masa depan, sebagaimana diungkapkan Daniel, tanpa realisme masa depan. Konsepsi Elohim Jahweh tentang haluan hidup dan destinasi hidup, sesuatu portofolio rahasia bagi manusia Perjanjian Lama.
Ternyata Kasih Elohim Jahweh tak surut, setia tak berkesudahan kepada manusia.
Saat kultur kejar uang kian merasuk lekat ke jiwa masyarakat, di saat itulah Elohim Jahweh melakukan terobosan. Dalam konteks kontradiksi prima, Elohim Jahweh menggenapi rancangannya 2000-an tahun sebelumnya, bahwa keturunan Hawa menginjak kepala ular :
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kejadian 3:15)
Yesus, AnakNya yang tunggal itu melalui Maria mengandung dan melahirkanNya menjadi keturunan manusia, diutus datang masuk ke bumi berkarya diantara manusia, menjadi Firman Elohim Jahweh.
Dalam konteks kontradiksi prima, kehadiran Yesus, manusia sempurna berkarakter tak bercacad cela itu, lawan tanding pertama diantara manusia yang tuntas menang. Yesus terbukti atas kemauan sendiri sanggup mentaati perasaan pikiran dan kehendak Elohim Jahweh, sampai rela menahan tersiksa dan mati tersalib. Siksa dan kematian itu betapapun brutalnya, tidak mengkendorkan kepatuhanNya kepada BapakNya di surga. Dalil Lucifer runtuh ambruk. Dibuktikan oleh Yesus, Lucifer berdosa oleh perbuatan salahnya membangkang kedaulatan Elohim Jahweh.
Kehadiran Yesus di bumi, dalam konteks kontradiksi prima merupakan fase awal tahap akhir kontradiksi, yang fase ujungnya terjadi, saat eksekusi kekal terhadap Lucifer, nanti, saat dibuang ke api kekal.
Fase awal ini mensejarah ditengah hidup manusia. Yesus manusia pertama berhasil pembukti Lucifer bersalah. Merayakan peringatan kedatanganNya adalah merayakan fase awal kontradiksi prima. Fase awal ini berlangsung hingga tiba saatnya nanti, Lucifer tuntas dieksekusi. Fase awal ini belum berakhir.
Fase awal ini, salah satu portofolio dari dari tiga portofolio dalam kontradiksi. Yang kesatu, portofolio yang berkontradiksi: Elohim Jahweh vs Lucifer. Yang kedua, portofolio proses kontradiksi: antagonistik Yang ketiga, portofolio arah kontradikdi.
Portofolio ke-tiga yang belum disinggung. Yaitu arahnya kemana fase awal kontradiksi yang dilakukan Yesus yang Tuhan itu 2000-an tahun lalu?
Jika target pembukti diantara manusia seperti Yesus sesuai hitungan rancangan Elohim Jahweh tergenapi, artinya ditunggu lagi sejumlah orang serupa Yesus membuktikan dalil Lucifer salah, maka akan berlangsung eksekusi fatal atas Lucifer, dibuang ke api kekal. Saat itulah fase akhir dari kontradiksi prima.
Selanjutnya manusia yang berkenaan pada Elohim Jahweh masuk ke Langit Baru Bumi Baru, Kerajaan Elohim Jahweh. Langit Baru Bumi Baru ini destinasi umat manusia. Destinasi inilah, tidak diketahui Abraham, Musa dan semua umat Perjanjian Baru. Sungguh berbahagia umat manusia di era anugerah dewasa ini, mengetahuinya dari Rohkudus dan tercatat dalam Alkitab.
Di Langit Baru Bumi Baru warganya hidup kekal, tiada malam, tiada ratap tangis, tembok bangunannya permata, jalanan dikonstruksi berbahan emas. Itulah sedikit gambaran destinasi itu. Bukankah kepingin memasukinya?
Yang masuk ke LB3 itu hanya yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba. Semua yang najis, pelaku kekejian dan pendusta tidak masuk ke LB3.
Camkan, ketika merayakan Natal ini, pastikan keikutsertaanmu turut dalam fase awal tahap akhir kontradiksi prima, yang masih berlangsung, agar kelak ikut masuk destinasi kekal, ke Langit Baru Bumi Baru.
* Penulis Toga Tambunan, Evangelis Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP)

