Selasa, 14 April 2026

Perlawanan di Anakalang 1915 yang Terlupakan *

Oleh: Daniel Tagukawi **

PERLAWANAN terhadap otoritas Belanda di Sumba memiliki sejarah yang panjang, terutama di wilayah Sumba Tengah (sekarang Sumba Timur). Namun, di awal abad ke-19, seiring dengan perluasan pengaruh Belanda di Sumba Barat, juga memunculkan berbagai perlawanan, dengan berbagai latar belakang. Perlawanan itu muncul sejak 1906 bersamaan dengan kebijakan pasifikasi (upaya menciptakan keamanan dan ketertiban), sekaligus memperkenalkan pembayaran pajak, pembuatan jalan dan jembatan.

Masa pasifikasi di Sumba ini diawali dengan penangkapan Oemboe Karai dari Mamboro, yang diikuti dengan pertempuran Praing Madita, penaklukan Waimanu (sekarang Sumba Tengah) 14 Desember 1906, kemudian penaklukan Malisu (Lamboya) 23 November 1909. Perlawanan di Lamboya ini dipimpin Rato Benaka Hurka dan menewaskan Komandan Militer Belanda Letnan GP de Neve.

Setelah perlawanan di Lamboya, pecah juga perlawanan rakyat Kodi yang dipimpin Rato Loghe Kandua sebelum ditahan Belanda. Rato Loghe Kandua merupakan Kepala Landskap di Kodi. Rato Loghe Kandua ditangkap dan meninggal dalam tahanan Belanda. Perlawanannya ini yang diteruskan Wonakaka.

Ketika perlawanan di Kodi berhasil diredam dengan penangkapan terhadap Wonakaka. Muncul lagi satu perlawanan di Anakalang. Hanya saja, dalam berbagai literatur, peristiwa perlawanan ini nyaris tidak tercatat. Meski peristiwa ini tercatat baik dalam laporan kolonial dan hampir semua media pada masa itu memberitakan peristiwa ini.

Perlawanan di Landskap Anakalang ini dipicu Oemboe Pekka dan dua “dokter ajaib” di akhir 1915, Gauka (Oemboe Gauka) dan Smroe (ejaan nama mungkin keliru). Gauka dan Smroe mengklaim kalau memiliki keahlian untuk membuat manusia kebal terhadap peluru dan senjata Belanda. Sebuah pertemuan dari warga yang tidak puas terhadap Belanda dipimpin Oemboe Pekka dan memanfaatkan pertemuan untuk menggalang perlawanan terhadap otoritas Belanda.

Gauka dan Smroe akan membuat orang kebal dengan keajaiban mereka di belakang Praing Au (Kampung Au). Pertemuan diadakan Kepala Praing Au, Kering Pamara pada tanggal 9 atau 10 Januari 1916, dengan alasan akan mengadakan upacara Marapu.

Perlawanan digalang karena ketidakpuasan atas pemungutan pajak dan perlakuan terhadap masyarakat. Peserta pertemuan bertekad untuk mengusir dan mengalahkan semua Kompeni di Anakalang, kemudian di Loli, Karuni, Waingapu dan Melolo, dan Kepala Praing Wola, Bira (Keponakan Oemboe Pekka) akan menjadi pemimpin yang dibantu Gauka dan Smroe.

Rencana itu rupanya bocor kepada otoritas Belanda, sehingga mengerahkan satu patroli pada tanggal 15 Januari 1916. Patroli itu menuju Praing Wola untuk menangkap Kepala Praing Wola, Bira. Sebagian melarikan diri dan ada yang ditahan. Pada hari itu, Kepala Takoeta, anak laki Oemboe Pekka, yang mengumpulkan orang-orang atas permintaan Gauka tanpa sepengetahuan kepala lanskap, ditangkap untuk mengumpulkan kayu untuk restorasi rumah Marapu.

Keesokan harinya (16 Januari 1916) patroli menemukan Praing Wola sepi, sedangkan di Praing Au dan Dameka dan Takoeta hanya ada perempuan dan anak-anak. Pimpinan Praing Au dan Dameka pun ikut ditangkap. Pada malam hari, penerjemah patroli Belanda yang selalu mendampingi patroli memperingatkan bahwa di Wailawa telihat sekitar 200 orang bersenjata tombak dan perisai.

Pada tanggal 17 Januari 1916 pagi, ada informasi kalau Gauka dan Smero masih berada di Praing Au dengan pasukan bersenjata. Brigade militer menuju ke sana. Ketika tiba di Praing Au tampak sepi. Tetapi, tiba-tiba patroli diserang dari rumah-rumah. Patroli Belanda kehilangan satu prajurit asli dan tiga prajurit asli terluka serius. Sedangkan, kelompok perlawanan Praing Au kehilangan delapan orang meninggal, termasuk Bira dan Smroe. Sedangkan Gauka berhasil melarikan diri.

Sebanyak 21 orang mengambil bagian dalam serangan di Praing Au, yang telah dibuat kebal oleh Gauka dan Smroe. Sebagian menjaga jarak dan melarikan diri ketika mereka melihat Smroe jatuh. Ketika Letnan Gubernur tiba di Anakalang keesokan harinya dengan brigade, ketenangan telah pulih di sana, dan orang-orang bertindak seolah-olah mereka tidak ada hubungannya dengan masalah ini.

Sebelas kepala suku yang menghadiri pertemuan di tepi sungai ditangkap. Begitu juga Lima orang yang terluka, kepada salah satu penyerang, serta seorang pria yang telah diberi perlindungan oleh Gauka setelah melarikan diri dari Praing Au. Gauka masih tetap dicari.

Tidak lama setelah itu, dua pengikut Gauka juga melapor ke Letnan Sipil Gubernur Sumba Barat Daya J.J. Barendsen. Selain itu, patroli militer yang masih mencari Gauka menggerebek tempat perlindungan salah satu pengikut Gauka, meski sempat melarikan diri, namun menyerah setelah tembakan patroli militer mengenai isterinya. Namun, Gauka belum behasil ditangkap.

Barendsen ini pernah mendapat serangan mendadak dan menderita luka bacok di Wanokaka. Dia yang ikut memadamkam perlawanan di Lamboya, Kodi dan Wewewa.

Pendukung Gauka yang juga menjadi incaran militer Belanda menyerahkan diri setelah itu. Sedangkan, Gauka masih tetap menghilang dari kejaran militer Belanda. Tetapi, pada akhirnya perlawanan Gauka menemui titik akhir ketika semua pendukungnya telah ditangkap Belanda. Gauka ditangkap Belanda pada Mei 1916 yang menandai berakhirnya perlawanan di Anakalang.

Seolah tiada hentinya, perlawanan demi perlawanan di Pulau Sumba. Pada November 1917, perlawanan muncul dari Landskap Tabundung. Perlawanan ini berlatar belakang adanya penolakan pajak dan kerja paksa yang diterapkan pemerintah Belanda. Pemimpin perlawanan adalah Hina Andumara.

Perlawanan demi perlawanan rakyat Sumba terus berlanjut sampai dengan tahun 1926 di Napu. Setelah itu, praktis, Pulau Sumba berada dalam situasi tenang karena tidak ada lagi perlawanan yang berarti. Namun, berbagai perlawanan ini muncul dengan berbagai latar belakang, terutama karena rakyat diminta membuat jalan dan jembatan, serta dipaksa membayar pajak. Sementara secara tradisi, orang Sumba tidak mengenal dengan pembayaran pajak seperti itu. Bahkan, sampai saat ini di Sumba, pajak dikenal dengan istilah “weli katowa” (harga kepala).

Untuk itu, berbagai infrastruktur dari masa silam bukan saja memiliki nilai sejarah, tetapi mencatat pengorbanan besar dari generasi terdahulu. Sebab, tanpa pengorbanan itu, belum tentu jalan yang membelah pulau Sumba dari barat ke timur dan dari utara ke selatan bisa dinikmati generasi sekarang.

* Artikel ini diambil dari Sumbanews.com yang dicuplik dari naskah buku yang akan segera terbitkan

** Penulis, Daniel Tagukawi, wartawan senior Sumbanews.com dan SinarHarapan.net

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles