Kamis, 9 April 2026

NAKUTIN AJA NIH..! The Global Fund Sebut TBC Harus Dianggap Pandemi

JAKARTA- Direktur Eksekutif The Global Fund Peter Sands pada Jumat lalu mengatakan bahwa Tuberkulosis (TBC) saat ini perlu dipandang sebagai pandemi setelah 30 tahun dikategorikan sebagai darurat kesehatan global.

“TBC adalah penyakit yang telah ada selama ribuan tahun,” kata Sands dalam sebuah pernyataan.

“Kami memiliki alat untuk melawannya, dan kami telah membuktikan bahwa kami dapat mengalahkannya. Kami berhasil menghilangkan penyakit itu sebagai ancaman kesehatan masyarakat di hampir semua negara terkaya di dunia,” kata dia.

Sekitar 141 tahun yang lalu–24 Maret 1882– seorang ilmuwan Jerman Robert Koch pertama kali menyampaikan temuannya tentang bakteri penyebab TBC, yang dapat menyerang bagian tubuh mana pun, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak.

Namun, menurut Sands, hingga saat ini jutaan orang di dunia masih terus menderita dan meninggal karena sebuah penyakit yang dapat dicegah, diobati, dan disembuhkan itu.

Dia mengatakan TBC adalah contoh dari suatu ketidakadilan karena apabila suatu penyakit tidak mengancam negara-negara kaya maka penyakit tersebut tidak akan dianggap sebagai pandemi.

“Tapi TBC memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai pandemi,” ucap Sands menegaskan.

Menurut Sands, TBC kemungkinan akan membunuh lebih banyak orang di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada 2023–lebih banyak dibandingkan COVID-19–dan menjadi penyakit menular paling mematikan di dunia, dengan 1,6 juta orang meninggal karena TBC pada 2021.

Meskipun TBC dapat disembuhkan, kemajuan untuk memeranginya cenderung sangat lambat. Dalam beberapa dekade terakhir, kematian akibat TBC hanya turun 2 persen per tahun, kata Sands.

Sands mengatakan bahwa The Global Fund memberikan 77 persen dukungan finansial atau sekitar 800 juta dolar AS (sekitar Rp12 triliun) per tahun kepada negara-negara yang bergelut melawan TBC.

Jumlah Kematian Akibat TBC Meningkat

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus pada Rabu mengatakan bahwa berbagai tes, perawatan, dan vaksin terhadap TBC telah menyelamatkan banyak nyawa manusia.

Dia mengatakan bahwa sejak 2000, kematian akibat TBC telah menurun hampir 40 persen secara global, dan lebih dari 74 juta orang telah mendapatkan akses ke layanan TBC.

“Pandemi COVID-19 dan konflik di banyak negara telah sangat mengganggu layanan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengobati TBC,” kata Tedros.

“Akibat kondisi itu, WHO pada tahun lalu melaporkan peningkatan kematian akibat TBC untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade.”

Dia menjelaskan bahwa satu-satunya vaksin yang dikembangkan untuk melawan TBC, vaksin BCG, telah berusia lebih dari 100 tahun dan tidak cukup melindungi remaja dan orang dewasa, yang bertanggung jawab atas sebagian besar penularan penyakit.

Bukan Penyakit Keturunan

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan terpisah, dokter spesialis anak RSCM Jakarta Pusat, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A (K) mengungkapkan, tuberkulosis (TBC) bukanlah penyakit keturunan, melainkan penyakit menular.

“Stigma di masyarakat banyak yang mengira kalau TB pada anak itu adalah penyakit keturunan, padahal yang benar itu, TBC adalah penyakit menular,” terang dr. Dani, panggilan akrab dr. Nastiti Kusumawardani saat diskusi melalui daring yang diikuti di Jakarta, Jumat lalu.

Dani mengungkapkan, anak paling sering tertular TBC dari kontak erat dengan orang terdekatnya. TBC paling sering ditularkan dari orang dewasa melalui percikan ludah, batuk, atau bersin yang sudah mengandung kuman TBC.

Anak dengan usia di bawah lima tahun (balita) paling rentan tertular TBC dari orang dewasa. Untuk itu, penting bagi orang tua agar mengetahui gejala-gejala TBC pada anak.

Berdasarkan data yang diungkap Dani, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Total keseluruhan kasus TBC anak dan dewasa di Indonesia adalah 950 ribu, dengan persentase kasus TBC pada anak sebesar 8-15 persen.

“Hingga saat ini, ada 88.000 anak yang menderita TBC. Kasus ini meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan sebelum masa pandemi COVID-19,” lanjut konsultan respirologi KSM Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo itu.

Gejala-gejala TBC yang sering ditemui pada anak diantaranya, demam berkepanjangan selama dua pekan, berat badan sulit naik bahkan malah turun selama dua bulan berturut-turut, dan malaise (lesu, lelah, lemas, letih, lemah) atau kondisi dimana anak terlihat pasif dan tidak bergairah saat melakukan aktivitas.

Selama ini, upaya yang telah dilakukan pemerintah adalah melalui vaksinasi BCG (Baccille Calmette Guerin) untuk mencegah penyakit TBC pada anak.

Sedangkan upaya yang bisa dilakukan oleh orang tua diantaranya, mencukupi kebutuhan nutrisi dan gizi pada anak, juga disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti mencuci tangan sebelum berinteraksi dengan anak, tidak meludah sembarangan, dan memakai masker utamanya saat sakit batuk.

Diskusi dengan tema “Berantas TBC anak, kita bisa!” dilaksanakan dalam rangka memperingati hari TBC sedunia. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles