Selasa, 13 Januari 2026

SEGINI KERUGIAN SMELTER GRESIK..! Tambang Grasberg Block Cave Freeport Belum Diizinkan Beroperasi

JAKARTA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa evaluasi longsor di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang dioperasikan PT Freeport Indonesia telah selesai dilakukan. Namun, hingga kini area tersebut masih belum diizinkan untuk dioperasikan kembali.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut, meski evaluasi telah rampung, PT Freeport Indonesia (PTFI) belum memungkinkan untuk melakukan operasional kembali di tambang tersebut.

“Evaluasi untuk Freeport yang longsor sampai sekarang sudah sebetulnya, tapi untuk terkait dengan penyelesaiannya kan makanya dia nggak bisa nambang di situ kan sampai saat ini. Nggak memungkinkan untuk nambang,” ungkap Tri di Jakarta, dikutip Bergelora.com, Kamis (7/1/2026).

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pihaknya masih mengkaji operasional tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia (PTFI), terutama selepas terjadinya insiden longsor di area tambang Grasberg Block Cave (GBC) pada September 2025 lalu.

Kajian ini sekaligus menjadi dasar dalam menilai rencana PTFI untuk kembali membuka operasi di dua area lain yang tidak terdampak, yakni Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ).

Bahlil berpendapat, struktur tambang bawah tanah Freeport sangat luas, sehingga setiap keputusan harus dilakukan dengan hati-hati. Setidaknya, terdapat area yang tidak terkait dengan insiden longsor dan saat ini sedang dievaluasi.

Di sisi lain, ia mengakui apabila area tersebut tidak segera beroperasi, maka hal itu juga akan berdampak pada penerimaan negara, keberlangsungan pekerjaan bagi para karyawan, pendapatan daerah, serta kontinuitas pasokan untuk smelter Freeport di Gresik.

Pada akhir Oktober 2025, kedua tambang Freeport tersebut, yaitu Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) sudah dioperasikan kembali.

Kerugian Freeport Usai Smelter Gresik Ikut Stop Produksi

Kompleks smelter Freeport di Manyar, Gresik, Jawa Timur (dok. PTFI)

Sebelumnya dilaporkan, pakar industri mineral dan batu bara (minerba) memandang PT Freeport Indonesia (PTFI) harus memikul beban kerugian yang cukup tinggi gegara smelter perusahaan di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik, Jawa Timur harus berhenti beroperasi.

Smelter katoda tembaga single line di Manyar tersebut diharapkan kembali berproduksi pada kuartal II-2026.

Ketua Badan Kejuruan Pertambangan Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII) Rizal Kasli berpendapat Freeport harus menanggung beban depresiasi aset smelter yang cukup tinggi, yang ditaksir mencapai Rp2 triliun.

Besaran depresiasi aset tersebut, kata Rizal, belum mencakup perhitungan biaya bunga pinjaman belanja modal atau capital expenditure (capex), biaya operasional atau operating expenditure (opex), serta kewajiban pajak yang tetap harus dibayarkan.

Dia menegaskan beban operasional tersebut harus ditanggung perusahaan ketika smelter kedua perusahaan berhenti produksi dan smelter eksisting PT Smelting hanya beroperasi dengan tingkat utilitas sekitar 30%.

“Dengan kejadian kecelakaan yg dialami Freeport, dalam waktu dekat smelter ini tidak bisa beroperasi atau beroperasi maksimal karena kekurangan suplai bahan baku berupa konsentrat tembaga dari tambang di Papua. Kerugiannya tentu sangat besar dengan kejadian ini. Dari depresiasi saja bisa hampir Rp2 triliun,” kata Rizal ketika dihubungi, dikutip Sabtu (3/1/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan smelter terintegrasi milik Freeport tersebut pembangunannya menelan biaya investasi lebih dari US$3,3 miliar atau lebih dari Rp55 triliun.

Rizal menjelaskan smelter tersebut direncanakan menghasilkan sekitar 50—60 ton emas per tahun, serta mineral lainnya seperti perak dan tembaga.

“Tentu dengan harapan smelter tersebut dapat beroperasi optimal untuk mendapatkan return yang memadai untuk mengembalikan investasi tersebut,” ujar dia.

Sebagai informasi, VP Corporate Communications Freeport Indonesia Katri Krisnati menargetkan smelter Manyar bakal beroperasi pada kuartal II-2026.

Menurut Katri, target itu dipatok mengikuti jadwal pembukaan kembali operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada akhir kuartal I-2026.

“Kami berharap pengoperasian parsial tambang Grasberg Block Cave (GBC) dapat dimulai secara bertahap pada akhir kuartal I-2026,” kata Katri saat dimintai konfirmasi, Rabu (24/12/2025).

“Sehingga diperkirakan pasokan konsentrat ke smelter PTFI di KEK Gresik dapat kembali dimulai pada pertengahan kuartal II-2026.”

Di sisi lain, Katri menambahkan, aktivitas penambangan Freeport hanya dilakukan di tambang Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan dengan kapasitas sekitar 30% dari total produksi.

Dua tambang tersebut dapat memproduksi 70.000 ton konsentrat per hari atau setara 30% dari total kapasitas produksi tambang sebesar 210.000 ton per hari.

Dengan begitu, volume konsentrat yang diproduksi perusahaan baru dapat memenuhi sebagian kebutuhan smelter PT Smelting di Gresik.

“Saat ini, aktivitas penambangan PTFI hanya dilakukan di tambang DMLZ dan Big Gossan dengan kapasitas sekitar 30% dari total produksi,” ungkap Katri.

Sebelumnya, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menjelaskan peningkatan utilitas atau ramp up operasi smelter Manyar telah mencapai 70% pada Agustus 2025, tetapi produksi harus distop sementara usai longsor di GBC awal September 2025.

“Rencana baru akan mulai produksi pada triwulan kedua 2026,” kata Tony dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, Senin (24/11/2025).

Sementara itu, smelter Manyar saat ini hanya mengolah lumpur anoda yang merupakan produk sampingan PT Smelting, lumpur anoda tersebut dimurnikan untuk diekstrak emas, perak, hingga mineral ikutan lainnya.

Untuk diketahui, Freeport memiliki smelter katoda tembaga di kawasan industri JIIPE, Manyar, Gresik, Jawa Timur. Pembangunan dimulai pada Oktober 2021, tetapi tertunda akibat pandemi Covid-19 sebelum akhirnya diresmikan pada Kamis (27/6/2024).

Smelter kedua PTFI ini merupakan smelter katoda tembaga dengan desain single line terbesar di dunia dan dirancang untuk mampu memurnikan konsentrat tembaga dengan kapasitas produksi hingga 1,7 juta ton setelah beroperasi penuh.

Fasilitas ini dilengkapi unit refinery, unit pemurnian logam mulia, unit oksigen, unit asam sulfat, dan unit desalinasi serta unit effluent and wastewater treatment plant untuk mendukung pemanfaatan maksimal bahan baku, produk samping maupun limbah agar dapat mencapai high efficiency smelting and refining process.

Hanya berselang tiga pekan sejak diresmikan, smelter tembaga kedua Freeport tersebut mengalami insiden kebakaran hingga harus menjalani proses perbaikan dan penyetopan sementara produksi.

Akibat kejadian itu, Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025. Izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025. (Web Warouw)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru