Selasa, 26 Mei 2026

Menelusuri Kekuatan Di Belakang Epstein: Filantropis Pedopil

Dia diperkenalkan kepada jaringan-jaringan kuat oleh orang-orang yang beroperasi di atas hukum.

Oleh: Joshua Hale *

EPSTEIN tidak memiliki gelar, tidak memiliki mandat, tidak memiliki keunggulan bisnis publik, namun ia mengendalikan kekayaan seorang miliarder, memiliki pulau pribadi, dan memiliki akses ke para presiden. Riwayat hidupnya tidak menjelaskan kekayaannya.

Lalu apa yang menjelaskannya?

Jawabannya terletak pada orang-orang yang membangunnya. Seorang Yahudi yang dibantu oleh orang-orang Yahudi.

Epstein tidak meraih kekuasaan dengan cara menapaki jalannya sendiri. Ia mendapatkannya—dari serangkaian orang yang memberinya akses, pelatihan, dan perlindungan di setiap tahap.

Berikut adalah garis waktu yang tidak akan diungkapkan media kepada Anda:

1974: Mengajar Tanpa Gelar 

Epstein mendapatkan pekerjaan mengajar matematika dan fisika di Dalton School, salah satu sekolah swasta paling elit di New York. Hanya ada satu masalah: dia tidak memiliki gelar sarjana.

Sekolah-sekolah elit tidak pernah melakukan hal tersebut.

Tetapi Donald Barr melakukannya. Barr (seorang Yahudi) adalah mantan perwira Office of Strategic Services (OSS) selama Perang Dunia II (pendahulu CIA) dan ayah dari calon Jaksa Agung William Barr. Dia juga penulis novel fiksi ilmiah tentang oligarki yang menjalankan masyarakat yang dibangun di atas perbudakan seksual.

Epstein kini memiliki akses langsung ke anak-anak keluarga terkaya di Manhattan.

1976: Berjalan Tanpa Ekspektasi

Dua tahun kemudian, Epstein diterima bekerja di Bear Stearns, salah satu firma paling bergengsi di Wall Street. Ia diperkenalkan melalui orang tuanya di Dalton, tetapi CEO Alan “Ace” Greenberg-lah yang secara pribadi membawanya.

Tidak memiliki latar belakang keuangan. Tidak memiliki gelar. Tidak melalui jalur karier tradisional.

Dalam empat tahun, Epstein menjadi mitra terbatas, posisi yang biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun dengan hasil yang terbukti telah dicapainya.

Ia mempelajari bagaimana orang-orang super kaya menyembunyikan uang. Penghindaran pajak. Rekening luar negeri. Strategi perlindungan aset yang mungkin tidak akan pernah didengar oleh kebanyakan orang.

1981: Dipaksa Keluar Tapi Tidak Pernah Dipermasalahkan 

Pada tahun 1981, ada penyelidikan SEC (Securities and Exchange Commission)  terhadap perdagangan orang dalam yang terkait dengan Perusahaan Seagram dan keluarga Bronfman. Bear Stearns memaksa Epstein keluar karena apa yang mereka sebut “pelanggaran kecil.”

Namun yang aneh adalah: terlepas dari penyelidikan tersebut, Epstein tidak menghadapi tuntutan apa pun. Tidak ada konsekuensi hukum. Tidak ada skandal publik.

Dia hanya pergi begitu saja.

Sekarang dia mengerti bagaimana orang-orang super kaya memindahkan uang secara diam-diam, dan dia tahu dia bisa lolos begitu saja.

Tahun-Tahun Penuh Kekacauan

Setelah Wall Street, Epstein mengubah dirinya. Ia memberi tahu orang-orang bahwa ia memulihkan aset curian untuk pemerintah dan oligarki. Ia membawa senjata yang disembunyikan. Ia bepergian dengan paspor Inggris.

Selama waktu ini, ia dibimbing oleh Sir Douglas Leese (seorang Yahudi), seorang kontraktor pertahanan dan pedagang senjata Inggris. Leese mengajarinya mekanisme transaksi senjata internasional dan keuangan pasar gelap.

Epstein sekarang tahu bagaimana beroperasi di luar sistem perbankan tradisional sepenuhnya.

1987: Skema Ponzi yang Hanya Menjebloskan satu Orang ke Penjara

Leese memperkenalkan Epstein kepada Steven Hoffenberg (seorang Yahudi), yang kemudian mempekerjakannya sebagai konsultan untuk Towers Financial. Bersama-sama, mereka melakukan salah satu skema Ponzi terbesar dalam sejarah AS, mencuri lebih dari $450 juta dari para investor.

Hoffenberg dipenjara selama 20 tahun. Epstein? Bahkan tidak diinterogasi.

Hoffenberg kemudian bersaksi bahwa Epstein adalah dalang dari seluruh penipuan tersebut. Namun Jaksa federal tidak pernah menindaklanjutinya.

Epstein sekarang memiliki bukti bahwa dia dilindungi.

1987: Si Miliarder yang Memberikan Segalanya Padanya 

Ke Mana-mana. Pada tahun yang sama, Epstein bertemu Leslie Wexner (seorang Yahudi), pendiri The Limited dan Victoria’s Secret. Melalui seorang eksekutif asuransi, mereka diperkenalkan.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak masuk akal menurut standar normal apa pun.

Wexner memiliki kekayaan miliaran dolar. Dia memiliki akses ke penasihat keuangan terbaik di dunia. Namun, ia memberikan kendali penuh atas kekayaannya kepada Epstein, yang tidak memiliki mandat yang dapat diverifikasi dan tidak memiliki pendidikan formal, atau surat kuasa yang luas.

Kemudian Wexner mentransfer rumahnya di Manhattan senilai $56 juta kepada Epstein, dengan harga $0.

Rumah itu menjadi pusat operasi. Epstein memasang kamera tersembunyi di sana. Ia menggunakan Victoria’s Secret sebagai jalur perekrutan, menjanjikan kontrak modeling kepada perempuan muda.

Epstein kini memiliki infrastruktur dan umpan.

Akhir 1980-an: Jaringan Maxwell

Epstein diperkenalkan kepada Robert Maxwell (seorang Yahudi), taipan media Inggris dan pedagang senjata. Mantan perwira intelijen Israel, Ari Ben-Menashe, kemudian mengklaim bahwa Maxwell membawa Epstein ke dalam jaringan agen selama periode ini.

Pada tahun 1991, Maxwell meninggal dalam keadaan mencurigakan. Ia jatuh dari kapal pesiarnya. Jenazahnya ditemukan mengambang di Samudra Atlantik.

Putrinya, Ghislaine Maxwell, mengambil alih posisinya.

1991: Ghislaine Mengendalikan Dunia Baru

Ghislaine menjadi mitra Epstein. Ia memiliki daftar kontak ayahnya—bangsawan, politisi, ilmuwan, miliarder. Ia tahu bagaimana bergerak di lingkaran tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan.

Namun ia melakukan lebih dari sekadar memberikan perlindungan sosial.

Ia memprofesionalkan seluruh operasi perekrutan. Ia mencari calon korban di sekolah seni, rumah lelang, acara-acara masyarakat kelas atas. Ia melatih para korban untuk menormalisasi apa yang terjadi pada mereka. Ia membuat seluruh sistem berjalan lebih lancar.

Epstein kini memiliki legitimasi dan kendali operasional.

Sepanjang tahun 90-an, Epstein memasang peralatan pengawasan di propertinya. Kamera tersembunyi. Alat perekam audio. Rumahnya di Manhattan. Perkebunannya di Palm Beach. Peternakannya di New Mexico.

Tujuannya bukan hanya pamer. Itu adalah pengaruh.

Dia mulai menjamu orang-orang berpengaruh. Dia merekam mereka. Dia mengumpulkan berkas.

Antara tahun 1993 dan 1995, Epstein mengunjungi Clinton di Gedung Putih sebanyak 17 kali. Sebagian besar pertemuannya adalah dengan Mark Middleton, seorang staf yang kemudian dikaitkan dengan penggalangan dana kampanye ilegal.

Epstein sering membawa perempuan bersamanya dalam kunjungan-kunjungan tersebut.

Tak ada yang menghentikannya. Tak ada yang mempertanyakannya.

Pada tahun 2000-an, Epstein mengalihkan fokusnya. Dia tidak hanya mengumpulkan politisi lagi.

Dia mulai mendekati nama-nama besar di bidang teknologi dan sains–Bill Gates. Nathan Myhrvold. Sergey Brin.

Ia menyumbangkan jutaan dolar ke MIT dan Harvard. Ia memposisikan dirinya sebagai filantropis dan intelektual. Ia menyelenggarakan pertemuan di mana para peraih Nobel mendiskusikan ide-ide.

Sekarang ia mengumpulkan orang-orang yang membangun masa depan.

Pada tahun 2008, jaksa federal telah menyiapkan dakwaan setebal 53 halaman. Mereka memiliki bukti kejahatan terhadap 36 gadis. Kasusnya kuat.

Kemudian kasus itu dibatalkan.

Sebagai gantinya, Jaksa AS Alex Acosta menawarkan kesepakatan pembelaan kepada Epstein, yang memungkinkannya mengaku bersalah atas dua tuduhan prostitusi tingkat negara bagian. Epstein menjalani hukuman 13 bulan di penjara daerah, dengan izin kerja. Ia keluar selama 12 jam sehari, enam hari seminggu.

Kesepakatan itu juga memberikan kekebalan hukum kepada setiap kaki tangan yang tidak disebutkan namanya.

Bertahun-tahun kemudian, Acosta memberi tahu tim transisi Trump bahwa ia diberitahu tentang Epstein, yang “termasuk dalam intelijen” dan menganjurkan “biarkan saja.”

Epstein tidak memiliki gelar. Tidak memiliki mandat. Tidak punya keunggulan bisnis publik.

Namun ia mengendalikan kekayaan seorang miliarder. Ia memiliki sebuah pulau pribadi. Ia memiliki armada pesawat. Ia memiliki akses ke presiden, perdana menteri, dan para taipan teknologi.

Kekayaan bersih yang diklaimnya lebih dari $500 juta, tetapi para penyelidik keuangan tidak dapat melacak dari mana asalnya. Satu-satunya kliennya yang diketahui adalah Wexner. Tidak ada kemenangan investasi publik. Tidak ada kepemilikan bisnis yang sesuai dengan kekayaannya.

Uang itu mengalir melalui rekening luar negeri dan perusahaan cangkang. Sumbernya tidak pernah jelas.

Lihat apa yang sebenarnya terjadi:

Ia dipekerjakan tanpa mandat oleh seseorang yang terhubung dengan pekerjaan intelijen. Ia dipromosikan tanpa pengalaman, oleh seorang CEO Wall Street.

Dia lolos dari penuntutan, dua kali.

Dia didanai oleh seorang miliarder yang memberinya rumah dan kendali keuangan penuh.

Dia diperkenalkan kepada jaringan-jaringan kuat oleh orang-orang yang beroperasi di atas hukum.

Dan di setiap titik di mana seharusnya dia dihentikan, dia tidak dihentikan.

Seseorang terus membuka jalan. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang mengunjungi pulau itu.

Pertanyaannya adalah: siapa yang memastikan dia bisa membangunnya sejak awal?

————-

*Penulis Joshua Hale, Lawyer, Chief Legal Officer, tinggal di Upper Arlington, Ohio, Amerika Serikat.

Artikel ini diterjemahkan oleh Danial Indrakusuma dari akun Facebook Norman Finkelstein untuk Bergelora.com

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles