JAKARTA– Lembaga intelijen Amerika Serikat meyakini China tengah mengembangkan “generasi baru” senjata nuklir dan diduga telah melakukan sedikitnya satu uji ledakan yang tidak diumumkan ke publik. Menurut pejabat AS yang dikutip CNN, sebagaimana dilansir New York Post, Senin (23/2/2026), China berencana meningkatkan kemampuan nuklirnya secara drastis, melampaui sekitar 600 hulu ledak operasional yang saat ini dimiliki.
Seorang sumber anonim dari AS mengatakan, “Mereka memiliki generasi senjata yang benar-benar baru yang belum memiliki basis data.”
Laporan tersebut menyebutkan bahwa China kemungkinan telah melakukan uji coba nuklir rahasia pada Februari lalu.
Modernisasi program ini didorong oleh investasi dana besar-besaran, meski besaran pastinya tidak diketahui publik. Fokus pada senjata nuklir taktis berdaya ledak rendah
Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa Republik Rakyat China untuk pertama kalinya terus mengembangkan senjata nuklir taktis berdaya ledak rendah.
Senjata jenis ini dirancang untuk digunakan dalam skenario tertentu, termasuk kemungkinan jika Amerika Serikat membela Taiwan secara militer.
8 Kemajuan China dibawah Xi Jinping:
Pengembangan ini dipandang sejumlah pejabat AS sebagai indikasi pergeseran pendekatan strategis Beijing, terutama terkait potensi konflik di kawasan Indo-Pasifik.
Fasilitas Rahasia Lop Nur
Sorotan pada uji coba 2020 di Lop Nur China sebelumnya diketahui telah melakukan uji ledakan nuklir pada Juni 2020 di fasilitas rahasia Lop Nur, yang berada di wilayah barat laut negara tersebut.
Uji coba itu dilakukan meski China menerapkan moratorium uji coba nuklir secara sepihak sejak 1996, sebagaimana dilaporkan CNN. Informasi baru mengenai uji coba 2020 itu memperkuat kecurigaan Washington bahwa China terus memajukan program nuklirnya.
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Yeaw, mengatakan, uji coba tersebut tercatat dengan kekuatan 2,75 skala Richter.
“Saya telah melihat data tambahan sejak saat itu,” kata Yeaw.
“Sangat kecil kemungkinan saya akan mengatakan bahwa itu adalah sesuatu selain ledakan, satu ledakan tunggal.”
Tanggapan Pemerintah China
Kepada Bergelora.com di Jakarta, Senn (23/2) dilaporkan menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, DC, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah “mendistorsi dan mencemarkan kebijakan nuklir China.”
Hingga kini, ketegangan antara Washington dan Beijing terkait isu nuklir dan keamanan kawasan terus menjadi perhatian internasional, terutama di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di sekitar Taiwan dan Indo-Pasifik.
CNA melaporkan Washington menuntut agar China menjadi bagian dari perjanjian pengendalian senjata di masa mendatang.
Washington mengatakan bahwa berakhirnya Perjanjian New START awal bulan ini – perjanjian terakhir antara kekuatan nuklir utama, Amerika Serikat dan Rusia – membuka kemungkinan untuk mencapai “kesepakatan yang lebih baik”, termasuk Beijing.
China secara terbuka menolak seruan untuk memulai negosiasi mengenai perjanjian tiga pihak yang baru.
Christopher Yeaw mengatakan kepada Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa bahwa perjanjian New START memiliki banyak kekurangan serius.
“Mungkin kelemahan terbesarnya adalah bahwa Perjanjian New Start tidak memperhitungkan peningkatan senjata nuklir yang belum pernah terjadi sebelumnya, disengaja, cepat, dan tidak transparan oleh China,” katanya.
“Terlepas dari klaimnya yang bertentangan, China dengan sengaja dan tanpa batasan, telah memperluas persenjataan nuklirnya secara besar-besaran tanpa transparansi atau indikasi apa pun tentang niat atau tujuan akhir China,” tuduhnya.
“Kami yakin China mungkin akan mencapai kesetaraan dalam empat atau lima tahun ke depan,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksudnya dengan kesetaraan.
5.000 Senjata Nuklir
Menurut kelompok kampanye peraih Hadiah Nobel Perdamaian, ICAN, baik Rusia maupun Amerika Serikat memiliki lebih dari 5.000 senjata nuklir.
Namun, Perjanjian New START, yang berakhir pada 5 Februari, membatasi Amerika Serikat dan Rusia masing-masing hanya boleh memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan – sebuah angka yang menurut Washington dengan cepat didekati oleh China.
“Beijing berada di jalur yang tepat untuk memiliki bahan fisil yang diperlukan untuk lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir pada tahun 2030,” kata Yeaw.
Berakhirnya Perjanjian New START menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian untuk membatasi penempatan senjata paling merusak di planet ini, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata baru.
Yeaw menyambut baik berakhirnya perjanjian tersebut, dengan menegaskan bahwa batasan jumlah hulu ledak dan peluncur yang tercantum di dalamnya “tidak lagi relevan”, mengingat dugaan pelanggaran perjanjian oleh Rusia.
Dia juga menuduh Moskow membantu “meningkatkan kemampuan Beijing untuk memperbesar ukuran persenjataannya”.
“Berakhirnya masa berlaku perjanjian itu terjadi pada waktu yang tepat,” katanya, seraya menegaskan bahwa hal itu akan memungkinkan Presiden AS Donald Trump untuk mendorong tercapainya “tujuan utamanya yaitu kesepakatan yang lebih baik”.
“Berakhirnya perjanjian tersebut dan tidak adanya perjanjian pengendalian senjata nuklir saat ini bukan berarti Amerika Serikat meninggalkan atau mengabaikan pengendalian senjata,” katanya, seraya menegaskan: “Justru sebaliknya.”
“Tujuan kami adalah kesepakatan yang lebih baik menuju dunia dengan lebih sedikit senjata nuklir.” (Web Warouw)

