Senin, 27 April 2026

PERANG TETAP BERKOBAR..! Harga Minyak Meledak akibat Perang Iran, Trump Segera Cabut Sanksi Rusia

JAKARTA – Lonjakan tajam harga minyak dunia akibat konflik Iran membuat pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan langkah untuk melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia. Pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan membuka kemungkinan mencabut sebagian sanksi agar pasokan global bertambah.

Kebijakan ini dipertimbangkan di tengah terganggunya jalur pengiriman minyak dunia, terutama di Selat Hormuz.

Namun, langkah tersebut juga berisiko memicu kontroversi karena dapat membantu perekonomian Rusia di tengah perang Ukraina.

Harga Minyak Melonjak Akibat Perang Iran

Kepada Bergelor.com di Jakarta, Kamis (10/3) dilaporkan,  pasar energi global terguncang setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan besar terhadap jalur pengiriman minyak di Timur Tengah.

Serangan balasan Iran di kawasan Teluk menyebabkan aktivitas di Selat Hormuz—jalur laut yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia—nyaris terhenti. Situasi ini langsung memicu lonjakan harga energi.

Harga minyak mentah melonjak 8,5 persen pada Jumat dan hampir 30 persen dalam sepekan terakhir. Pada Senin, harga minyak bahkan sempat menyentuh 119 dollar AS (sekitar Rp 2 juta) per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan perang di Timur Tengah hanya akan berakhir jika Iran menyerah tanpa syarat.

AS Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Rusia

Untuk menstabilkan pasar, pemerintah AS kini mempertimbangkan melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, pemerintah sedang menimbang kemungkinan tersebut untuk menambah pasokan minyak global.

“Kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Rusia lainnya,” kata Bessent kepada Fox Business.

Ia menjelaskan, saat ini terdapat ratusan juta barrel minyak mentah Rusia yang terkena sanksi dan tertahan di laut.

“Ada ratusan juta barrel minyak mentah yang terkena sanksi berada di laut. Pada dasarnya, dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan pasokan,” ujarnya.

Namun, Washington menegaskan bahwa langkah ini bukan berarti melonggarkan tekanan terhadap Moskwa terkait perang di Ukraina. Kebijakan itu hanya berlaku bagi kargo minyak yang sudah dalam perjalanan.

Bessent menambahkan, pemerintah akan terus mengumumkan langkah-langkah untuk menenangkan pasar selama konflik berlangsung.

“Kami akan terus mengumumkan langkah-langkah secara berkala untuk memberikan kelegaan bagi pasar selama konflik ini,” katanya.

India Sudah Diizinkan Membeli Minyak Rusia

Sebagai langkah awal, pemerintah AS pekan lalu telah memberikan pengecualian sementara agar India dapat membeli minyak Rusia yang sebelumnya tertahan di laut akibat sanksi.

Transaksi tersebut diizinkan hingga 3 April 2026, termasuk untuk kargo yang diangkut kapal yang terkena berbagai rezim sanksi. Kebijakan ini bertujuan membantu negara-negara yang terdampak kekurangan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran.

AS Gedung Putih Khawatir Dampak Ekonomi Dan Politik

Di balik kebijakan tersebut, Gedung Putih juga khawatir lonjakan harga energi akan memukul ekonomi domestik Amerika Serikat.

Harga bensin dan biaya transportasi yang meningkat dapat berdampak pada konsumen dan dunia usaha, terutama menjelang pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Sejumlah sumber mengatakan, pemerintahan Trump juga mempertimbangkan langkah lain, seperti melepas cadangan minyak strategis AS bersama negara-negara G7.

Sejak Januari 2025 Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa opsi pelepasan cadangan minyak strategis sedang dibahas, meski belum ada keputusan final.

Sementara itu, para analis menilai pemerintah AS memiliki pilihan terbatas untuk menekan harga minyak dengan cepat selama jalur pengiriman melalui Selat Hormuz masih terganggu.

Respons Trump

Meski harga energi melonjak tajam, Presiden Trump mencoba meredam kekhawatiran publik.

Dalam unggahan di media sosial Truth Social, ia mengatakan, kenaikan harga minyak hanya bersifat sementara. Lonjakan tersebut, kata Trump, merupakan “harga yang sangat kecil yang harus dibayar oleh Amerika Serikat.”

Trump juga menyatakan, dirinya memperkirakan dampak jangka panjang perang Iran justru akan menghasilkan harga energi yang lebih rendah bagi konsumen Amerika. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles