JAKARTA – Kremlin buka suara mengenai laporan bahwa Rusia berbagi informasi intelijen sensitif kepada Iran, di tengah perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Selasa (10/3/2026) mengatakan, Rusia dan AS memang menjalin jalur komunikasi terkait isu-isu sensitif, termasuk yang berkaitan dengan perang di kawasan tersebut.
“Yang dapat saya katakan adalah bahwa Witkoff terus berhubungan dengan rekan-rekannya dari Rusia, dan saluran komunikasi ini memang memungkinkan kami untuk saling memberi sinyal tentang masalah yang paling sensitif,” kata Peskov saat menanggapi pertanyaan AFP.
Pernyataan itu keluar ketika Peskov dimintai tanggapan atas pernyataan utusan khusus AS Steve Witkoff.
Sebelumnya, Witkoff mengatakan pada Sabtu (7/3/2026), ia dengan tegas menyampaikan kepada Rusia agar tidak membagikan informasi penargetan kepada Iran. Witkoff juga disebut berkomunikasi dengan pihak Rusia di tengah meningkatnya ketegangan, setelah Amerika dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari.
Serangan tersebut memicu gelombang serangan balasan Iran di berbagai wilayah Teluk, memperluas konflik yang kini telah memasuki hari ke-11. Sementara itu, laporan Washington Post pada Jumat (6/3/2026) mengeklaim bahwa Moskwa menyuplai informasi intel sensitif kepada Teheran, termasuk lokasi kapal perang dan pesawat militer AS di kawasan.
Akan tetapi, Presiden AS Donald Trump keesokan harinya mengatakan, ia belum melihat indikasi Rusia membantu Iran dalam konflik tersebut.
Meski begitu, Trump menambahkan bahwa kalaupun Rusia memberikan bantuan kepada Iran, menurutnya tidak banyak membantu.
Rusia sendiri dikenal sebagai sekutu dekat Iran. Kedua negara tahun lalu juga menyepakati kerja sama untuk saling membantu menghadapi apa yang mereka sebut ancaman bersama.
Sejumlah pejabat Amerika mengungkapkan, bantuan Rusia mencakup citra satelit yang memetakan posisi kapal perang, serta pergerakan personel militer AS di kawasan konflik.
Meskipun demikian, dikutip dari New York Times, beberapa pihak meremehkan efektivitas kemitraan tersebut. Teheran dianggap masih tertinggal jauh dalam hal teknologi rudal dibandingkan Rusia, sehingga belum dipastikan apakah mereka mampu memanfaatkan data intel itu untuk menyerang kapal perang secara akurat.
Kepada Bergelora.cok di Jakarta, Rabu (11/3) dilaporkan, sejauh ini, serangan Iran belum berhasil mengenai kapal perang AS mana pun. Namun, mereka telah menyerang pangkalan militer AS, menewaskan tujuh anggota militer di Kuwait dan merusak fasilitas di Bahrain. Drone Iran juga menyerang gedung yang dihuni stasiun CIA di Riyadh, Arab Saudi, meskipun tidak ada yang terluka dalam serangan itu.
Pentagon mencatat, intensitas respons Iran kini mulai menurun. disebabkan oleh tekanan besar dari pesawat pengebom AS, yang terus menggempur titik-titik peluncur rudal dan pusat komando Iran. (Web Warouw)

