Bambang Beathor Suryadi (Bithor) ditangkap dan diadili. Aktivis Universtas Pancasila ini membuat pleidoi yang berjudul “Peluru Bersimbah Darah”,
Oleh: Toni Listiyanto *
SEPUTARAN tahun 89-90an, Satuan Tugas,–Satgas Intel (SGI) BAIS (Badan Intelejn Strategis)/BIA (Badan Intelejen ABRI) dan & Bakorstanas (Badan Koordinasi Strategis Nasional) sudah terbiasa nongkrongin PIJAR dan kampus Universitas Nasional (UNAS).
Dari zaman itu kita udah biasa ngadepin intel-intel militer di lapangan. Mungkin teman-temen aktivis masih pada inget intel-intel lama seperti Kardiman, Salimin, Ali Sadikin, Eppi, Ayomi dari SGI Bakorstanas yang markasnya di Kremlin (Kramat Lima).
Sementara yang dari SGI BAIS ada Lukman & Bowo yang markasnya di Kramat Tujuh dan Jalan Taman Margasatwa, Ragunan.
Sebelum dibangun markas induk BAIS di Kalibata yang sekarang ini, dulu markas Satgas Intel BAIS memang masih terpisah dari markas induk di Jalan Saharjo, Tebet.
Ada beberapa kantor cabang BAIS yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya. Di Menteng ada kantor kecil Dinas Pengamanan dan Sandi di Jl. Cokroaminoto. Di Cidodol Gang Buntu, juga ada markas BAIS sekaligus tempat penahanan dan interogasi.
Di Jalan Antasari, Jakarta Selatan ada posko intelejen militer yang tersamar. Kalo markas Intel dan tempat penahanan yang cukup legend itu ada di Nirbaya, Jakarta Timur. Ada Markas Operasi Kalong, Jalan Gunung Sahari. Ada RTM Budi Utomo, di Jalan Budi Utomo dan RTM Guntur, Manggarai (dulu Bakorstanasda Jaya punya kantor cabang di Guntur). Anggota-anggota Intel organik dari kesatuan-kesatuan itu dulu sering nongkrongin PIJAR dan kampus Unas.
Ada beberapa pengalaman yang pernah kita alami yang terkait dengan institusi intelejen BAIS. Di tahun 1989 ketika Bambang Beathor Suryadi (Bithor) ditangkap dan diadili. Aktivis Universtas Pancasila ini membuat pleidoi yang berjudul “Peluru Bersimbah Darah”,– kita ikut membantu menyusun, melayout dan menjilid pleidoinya di hotel Danau Toba, milik almarhum.Habib Fikri.
Didepan hotel sudah ditongkrongin mobil Jimny berisi 4 orang anggota SGI Bakorstanas yang kita kenal. Dengan cara kucing-kucingan kita berhasil menyelesaikan pleidoi yang dibacakan Beathor di Pengadilan Negeri Jakarta Utara.
Di tahun 1992, ada tiga orang aktivis mahasiswa Universitas Nasional (UNAS) Jakarta,–Hendrik Dikson Sirait (Iblis), Sugeng Supriyanto (Gembil) dan Asfin Situmorang (Morang) ditangkap dan disekap, dibawa ke Markas Satgas Intel BAIS di Jalan Taman Margasatwa. Saat itu mereka ditangkap atas perintah Direktur A (Politik) BAIS Brigjen TNI Farid Zainuddin.
Mereka dibawa dan diinterogasi dengan perlakuan represif sambil ditunjukan foto Presiden Soeharto di atas lubang WC/Toilet. Rupanya foto itu dari WC tempat kost mahasiswa Unas di Jalan Siaga, Pasar Minggu. Memang saking kita anti-Soeharto saat itu, di WC kamar mandi tempat “Basecamp” mahasiswa UNAS itu ada yang menempelkan foto Presiden Soeharto tepat di dekat lubang WC jongkok, disertai tulisan: “Beliau Lebih Pantas Ditempatkan di Sini”.
Dan canggihnya, Bowo intel BAIS yang berhasil menemukan dan datang ke basecamp tersebut pura-pura numpang kencing di kamar mandi lalu memotret “karya seni” usil mahasiswa itu.
Walaupun akhirnya ketiga aktivis mahasiswa itu dibebaskan setelah disekap di sel beberapa lama. Yang cukup lama Morang karena ‘otak’ dari penempelan foto Soeharto. Namun, Gembil dipecat dari pegawai di Perum milik Departemen Pertanian. Hendrik ‘Iblis’ diketahui alami traumatik psikis pasca interogasi. Sementara, Morang pasca bebas, naik pangkat dua tingkat dari “Mayor” ke “Kolonel” Honoris Causa, sebuah tradisi penghargaan dikelompok mahasiswa progresif Unas dan Pijar untuk kawan-kawan yang habis ditangkap atau dipenjara rezim Orde Baru.
Si Bowo BAIS ini, di masa paska-reformasi sempat bertemu saya di beberapa acara pertemuan politik. Saya sengaja pura-pura tidak mengenalinya. Entah sudah pensiun atau belum, dia selalu menulis di buku tamu sebagai anggota LSM anti korupsi.
Suatu saat di era paska Reformasi saya juga pernah mendatangi bekas markas Satgas Intel Bakorstanas di Kramat Lima, dalam rangka penulisan buku memori almarhum Nuku Sulaiman. Kantornya sudah ditutup dan kurang terawat. Cuma disisakan satu ruangan yang masih fungsional dengan berbagai peralatan khas intelejen. Seorang anggota Intel berbincang dengan saya, dia mengatakan, “Beginilah kondisi kantor kita sekarang, ini gara-gara kalian yang menuntut membubarkan Bakorstranas”.
Saya menjawab diplomatis, “Ya bukan kita lah, itu kan bagian tuntutan Reformasi dan demokrasi”.
Si Intel tetap bilang, “Pokoknya gara-gara PIJAR dan aktivis UNAS kalian laah…!”
Dan saya cuma senyum tanpa beri komentar lebih lanjut.
————-
*Toni Listiyanto, teolog, Eks Aktivis Mahasiswa UNAS, Jakarta

