Jumat, 22 Mei 2026

LAMA JADI PIARAAN AS..! Eropa Siap-siap Jika Amerika Tinggalkan NATO, Ini Plan B nya

JAKARTA – Ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap NATO mulai mengancam keamanan kawasan Uni Eropa.

Di tengah meningkatnya ancaman Rusia dan langkah Trump yang beberapa kali memangkas kehadiran militer Amerika di Eropa, Eropa terpaksa harus menyiapkan “Plan B”.

Aliansi militer kecil bernama Joint Expeditionary Force (JEF) kini mulai dilihat sebagai sistem pertahanan alternatif Eropa. Koalisi yang dipimpin Inggris tersebut dinilai lebih fleksibel karena dapat bergerak tanpa harus menunggu persetujuan bulat seluruh anggota NATO.

Trump Bikin Eropa Mulai Siapkan “Plan B”

Kekhawatiran Eropa meningkat setelah Donald Trump kembali mempertanyakan komitmen Amerika terhadap NATO dan Pasal 5, yaitu prinsip bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Trump bahkan membatalkan sejumlah pengerahan pasukan dan fasilitas militer AS di Eropa, termasuk pengurangan pasukan di Jerman.

Situasi semakin sensitif ketika Trump sempat mengancam akan mengambil Greenland dari Denmark. Ancaman itu memicu kekhawatiran baru di internal NATO, bukan hanya soal kemungkinan Amerika tidak membantu Eropa dalam perang melawan Rusia, tetapi juga potensi Amerika menjadi musuh baru bagi NATO itu sendiri.

Selama puluhan tahun, NATO beroperasi dengan struktur yang sangat bergantung pada Amerika Serikat, mulai dari kepemimpinan militer, sistem komunikasi, intelijen, hingga pengawasan udara. Banyak markas penting NATO di Eropa juga masih berada di bawah komando Amerika.

Karena itu, membangun Plan B bukan hanya soal menambah tank atau membeli senjata baru, melainkan membentuk ulang rantai komando militer Eropa agar dapat berjalan tanpa dukungan Amerika.

JEF Jadi Cikal Bakal “NATO Mini” Eropa

Joint Expeditionary Force (JEF) awalnya dibentuk pada 2014 oleh Inggris bersama sejumlah negara Nordik dan Baltik sebagai pasukan respons cepat menghadapi krisis keamanan regional. Berbeda dengan NATO yang membutuhkan konsensus seluruh anggota untuk mengambil keputusan besar, JEF dapat bergerak lebih cepat tanpa mekanisme persetujuan penuh.

Dalam beberapa tahun terakhir, posisi JEF makin strategis setelah Swedia dan Finlandia bergabung pada 2017, bahkan sebelum keduanya resmi masuk NATO. Edward Arnold dari RUSI-sebuah think-tank di London, mengatakan bahwa JEF merupakan alternatif NATO paling nyata saat ini. Markas utamanya terletak di dekat London dengan kapabilitas di bidang intelijen, perencanaan, dan logistik. JEF juga memiliki jaringan komunikasi pribadi, walaupun masih terbatas.

Bagi sebagian negara Eropa Utara dan Baltik yang berada dekat dengan Rusia, model seperti JEF dinilai lebih relevan untuk menghadapi ancaman cepat dibanding mekanisme NATO yang lebih birokratis.

Eropa Masih Hadapi Banyak Kendala

Meski dianggap alternatif paling siap, JEF masih memiliki banyak keterbatasan. Koalisi tersebut saat ini lebih berfokus pada kawasan Nordik dan Baltik serta belum melibatkan kekuatan utama Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Polandia secara penuh.

Di sisi lain, Inggris sebagai pemimpin JEF juga menghadapi persoalan kapasitas militer akibat minimnya pendanaan pertahanan selama bertahun-tahun. Sejumlah pejabat NATO bahkan meragukan kesiapan armada kapal perang, kapal selam, dan pasukan tempur Inggris untuk menghadapi konflik besar dalam waktu cepat.

Karena itu, sejumlah analis menilai Jerman akan menjadi kunci masa depan pertahanan Eropa. Berlin kini mulai meningkatkan anggaran militernya secara besar-besaran setelah ancaman Rusia kembali meningkat sejak perang Ukraina.

Pada akhirnya, Eropa dinilai tetap harus membangun sistem pertahanan kolektif baru yang lebih mandiri. Sebab, efek gentar terhadap lawan tidak akan efektif jika bergantung pada sekutu yang sewaktu-waktu bisa memilih untuk tidak datang membantu.

Jerman Siap Perkuat Peran di NATO

tentara dari Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) yang merupakan bagian dari Bundeswehr. (Ist)

Kepada Bergelora.com.di Jakarta, Jumat.(22/5) dilaporkan,  menjelang pertemuan Menlu NATO di kota pelabuhan Helsingborg, Swedia, Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menegaskan kesiapan Berlin untuk mengambil peran kepemimpinan yang lebih besar di aliansi militer tersebut.

“Tujuan kami adalah pembagian peran dan tanggung jawab baru yang mencerminkan potensi ekonomi dan militer Jerman serta Eropa,” ujarnya di Berlin sebelum berangkat ke Swedia, sambil menambahkan bahwa “Jerman menerima tanggung jawab kepemimpinannya.”

“Kami menginginkan NATO yang lebih kuat dengan peran yang lebih besar bagi Eropa,” kata Wadephul. “Untuk mencapai hal ini, kami ingin menggabungkan kemampuan industri kami melalui kerja sama pertahanan yang lebih intensif.”

Ia juga menambahkan bahwa Jerman ingin mencapai target belanja 5% NATO dan memperkuat kemampuan pertahanannya secepat mungkin.

Dalam KTT NATO 2025, negara anggota sepakat untuk mengalokasikan setidaknya 3,5% dari PDB untuk belanja pertahanan, ditambah 1,5% untuk sektor terkait seperti infrastruktur, sehingga total target mencapai 5% per tahun pada 2035.

Kurangnya Dukungan Bagi Ukraina

Menlu Jerman Johann Wadephul mengatakan akan mengajukan “proposal konkret” tentang bagaimana NATO bisa terus mendukung Ukraina secara kuat dalam mempertahankan kebebasan di Eropa. Di sisi lain, Ia juga melihat NATO bisa memanfaatkan kemajuan industri pertahanan Ukraina yang signifikan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menilai banyak negara anggota belum memberikan dukungan finansial yang cukup bagi Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

Berbicara di Helsingborg, Swedia, Rutte menambahkan, bantuan untuk Ukraina “tidak terdistribusi secara merata di dalam NATO.”

“Hanya ada sejumlah negara yang benar-benar berkontribusi jauh di atas kapasitasnya dalam mendukung Ukraina, salah satunya Swedia. Kemudian juga Kanada, Jerman, Belanda, Denmark, dan Norwegia,” ujarnya.

AS Kritik NATO Soal Perang Iran

Dalam pertemuan di Helsingborg, para menteri tak hanya akan membahas soal penguatan pertahanan Eropa, tetapi juga perang di Iran serta blokade Selat Hormuz.

Menlu AS Marco Rubio dijadwalkan tiba di Swedia pada Jumat (22/05). Saat menuju KTT, ia kembali mengkritik NATO karena tidak mendukung perang AS melawan Iran.

Presiden Donald Trump “tidak meminta mereka mengirim jet tempur. Tapi mereka menolak melakukan apa pun,” kata Rubio kepada wartawan. “Kami sangat kecewa.”

Menyusul pernyataan kritis dari Kanselir Jerman Friedrich Merz baru-baru ini, Trump mengumumkan penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman.

Di sisi lain, muncul ketidakpastian soal rencana penempatan ribuan pasukan ke Polandia, apakah akan tetap berjalan sesuai rencana atau tidak. (Enrico N. Abdielli)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles