JAKARTA – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030 Satya Widya Yudha mengatakan bahwa ada inkonsistensi pengembangan kontrak investasi minyak dan gas (migas) di Indonesia.
“Saya akui ada inkonsistensi mengenai kontrak investasi [migas]. Tapi kami ingin kebijakan tersebut konsisten dengan kebijakan energi nasional yang dihasilkan oleh Badan Energi Nasional,” ungkap Satya Widya Yudha dalam agenda Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex ke-50 di Tangerang, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Untuk memperbaiki sistem investasi migas di Indonesia, Satya menambahkan bahwa saat ini penghentian sudah melakukan pertemuan-pertemuan rutin antara menteri-menteri teknis untuk mempercepat investasi di sektor energi, termasuk migas.
“Kita sudah mengadakan pertemuan, yang kita sebut pertemuan rutin, yang dihadiri oleh tujuh menteri. Dan kami sebagai anggota DEN, pertemuan tersebut dipimpin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral,” tambahnya.
Satya menambahkan, selain perbaikan skema investasi sektor migas, saat ini Indonesia juga tengah dihadapkan pada kondisi global yang tidak menguntungkan, sehingga produk akhir migas mengalami gangguan yang mempengaruhi perhitungan investasi di awal.
“Ada posisi yang cukup sulit dalam hal konflik global. Contohnya, Indonesia harus membeli minyak mentah dan juga bensin, tanpa regulasi yang tepat dan situasi berbeda dengan negara [lainnya]. Kita tidak bisa begitu saja berbisnis seperti sebelum konflik,” ungkapnya.
Berdasarkan laporan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$186,7 miliar untuk mencapai target produksi minyak sebesar 1 juta barel per hari (BOPD) dan gas bumi sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030. Per tahun, investasi di sektor hulu migas juga diperkirakan terus mengalami peningkatan.
Saat ini, sektor hulu migas terus berupaya meningkatkan produksi migas nasional guna memenuhi kebutuhan domestik yang semakin meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada tahun 2050, volume konsumsi minyak diperkirakan naik 139%, sedangkan volume konsumsi gas diprediksi naik 298%.
Dukungan investasi yang diperlukan agar kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas dapat dilakukan secara masif. Iklim investasi di sektor hulu migas juga terus diperbaiki melalui pemberian insentif dan perubahan kebijakan fiskal.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA) Marjolijn Wajong dengan tegas meminta Pemerintah Indonesia berhenti membuat peraturan baru yang tidak sejalan (inline) dengan target investasi minyak dan gas (migas) di Indonesia.
“Untuk jangka pendek, hentikan pembuatan peraturan baru yang tidak sesuai dengan kontrak investasi kita. Ini tentang kepercayaan. Hentikan [peraturan baru],” ungkapnya dalam agenda Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex ke-50 di Tangerang, Jumat (22/5/2026).
Marjolijn memandang pemerintah sebaiknya membuat peraturan yang fokus pada kemudahan berbisnis, khususnya di sektor migas, dibandingkan membuat peraturan baru yang dibandingkan dengan investasi.
“Satu hal lagi, mengenai kemudahan berbisnis, benar-benar membuat terobosan. Karena kalau dari kemudahan berbisnis, perizinannya benar-benar tidak baik. Dan banyak hal sudah dilakukan, tetapi kita perlu melakukan transformasi nyata di sini,” ungkap dia.
Marjolijn menambahkan bahwa komitmen memperbaiki iklim investasi sektor energi, termasuk percepatan perizinan dan penguatan kepastian hukum menjadi kebutuhan utama bagi industri hulu migas yang dikenal dengan modal padat, berisiko tinggi, dan memiliki siklus investasi jangka panjang.
“Kami selalu ingin menyampaikan kepada publik bahwa hulu migas merupakan industri yang memiliki jangka waktu panjang, modal padat, dan risiko yang tinggi. Kondisi tersebut memerlukan konsistensi kebijakan agar para calon investor dan perusahaan yang sudah ada di Indonesia akan memiliki keyakinan untuk menempatkan investasi mereka di Indonesia,” jelas Marjolijn.
IPA berharap komitmen pemerintah ke depan terkait investasi hulu migas dapat segera diwujudkan melalui kebijakan yang konsisten dan implementasi yang cepat, baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, sehingga dapat mempercepat pengembangan industri hulu migas nasional sekaligus mendukung target ketahanan energi Indonesia..
Bahlil Mulai Eksekusi Impor Minyak Mentah dari AS Secara Bertahap

Sebelumnya dilaporkan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan pemerintah sudah mulai mengimpor minyak mentah (crude) dari Amerika Serikat (AS) secara bertahap.
Bahlil menyebutkan sekitar 25 persen pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari Timur Tengah dan harus melewati Selat Hormuz yang saat ini ditutup Iran.
“Sekarang sudah mulai jalan. Bertahap, itu kan bertahap tidak bisa sekaligus semuanya datang, karena kita punya daya simpanan tidak cukup,” ungkap Bahlil saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, dikutip Kamis (4/3).
Impor minyak mentah dari AS juga berkaitan dengan dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang disepakati Pemerintah Indonesia dan AS. Indonesia berkomitmen membeli minyak mentah, BBM, dan LPG senilai USD 15 miliar.
Namun, di tengah melejitnya harga minyak dan gas bumi internasional karena ketegangan antara AS-Israel dan Iran yang meluas kepada negara tetangganya, Bahlil menilai kesepakatan itu tetap harus dinegosiasikan untuk mendapat harga paling ekonomis.
“Harga itu kan harga pasar. Sudah pasti sebelum dilakukan transaksi adalah negosiasi. Saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di kami, di internal kami punya kemampuan lah untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik,” tutur Bahlil.
Seiring dengan proses importasi tersebut, kata dia, pemerintah juga akan membangun tambahan penyimpanan (storage) minyak mentah, sehingga cadangan energi nasional bisa naik dari 21-25 hari menjadi 90 hari atau 3 bulan.
“Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage. Makanya kami membuat sekarang storage. Kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir,” tegas Bahlil.
Selain minyak mentah, Indonesia juga masih mengimpor produk BBM dari Singapura. Bahlil menyebutkan, pasokan minyak mentah yang digunakan Singapura memang ada juga yang berasal dari Timur Tengah.
Dia meyakini Singapura juga sudah menyiapkan strategi alternatif terhadap impor minyak mentahnya yang bisa dialihkan dari berbagai produsen lainnya. Oleh karena itu, dia optimistis keandalan pasokan BBM Indonesia tetap aman.
“Mereka (Singapura) pasti punya beberapa alternatif, dan itu kan domain mereka. Tapi saya punya keyakinan tidak akan jauh beda dengan Indonesia, karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brazil, sebagian juga mereka ambil dari Malaysia. Sebagian bisa ambil dari Amerika. Dan melakukan trading seperti ini biasanya itu mencari mana yang lebih ekonomis. Dan mana lebih cepat,” jelas Bahlil.
Bahlil mencatat, pasokan minyak mentah global yang melewati Selat Hormuz mencapai 20,1 juta barel per hari. Sementara kebutuhan global jauh lebih besar dari itu dan masih bisa dipasok dari negara lain di luar Timur Tengah.
“Selat hormuz itu kan 20,1 juta barrel per day yang melewati Selat hormuz. Konsumsi global kita kan bukan 20 juta, ratusan juta barrel per day. Jadi saya pikir itu tinggal bagaimana menyelesaikannya,” tutur Bahlil
Daftar Negara Asal Impor Minyak

Sebelumnya dilaporkan, Indonesia menjadi salah satu negara net importir minyak mentah (crude) terbesar di dunia. Ketergantungan negara dengan impor ini disebabkan jumlah produksi di dalam negeri belum memenuhi kebutuhan nasional.
Berdasarkan laman Observatory of Economic Complexity (OEC), Indonesia mengimpor minyak mentah (HS 27.09.00) senilai USD 9,95 miliar pada tahun 2024, menjadikannya sebagai importir minyak mentah terbesar ke-22 dari 149 negara di dunia.
Pada tahun 2024, minyak mentah merupakan produk impor terbanyak ke-2 di Indonesia dari total dari 5.116 komoditas. Selama periode tersebut, Indonesia mengimpor minyak mentah terutama dari Nigeria senilai USD 2,56 miliar, Arab Saudi USD 2,05 miliar, Angola USD 1,66 miliar, Gabon USD 1,04 miliar, dan Australia sebesar USD 739 juta.
Selain itu, ada juga dari Amerika Serikat senilai USD 431 juta, Brunei USD 306 juta, Malaysia USD 116 juta, China USD 439 juta, hingga Azerbaijan USD 179 juta.
Sementara negara-negara asal impor minyak mentah dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia antara tahun 2023 dan 2024 adalah Angola senilai USD 580 juta, Australia USD 340 juta, dan Gabon USD 216 juta.
Di sisi lain, Indonesia juga mengekspor minyak mentah senilai USD 2,55 miliar pada tahun 2024, menjadi eksportir minyak mentah terbesar ke-33 dari 138 negara di dunia. Minyak mentah merupakan produk ekspor terbanyak ke-18 dari 4.830 komoditas di Indonesia.
Pada tahun tersebut, tujuan utama ekspor minyak mentah Indonesia adalah Thailand sebesar USD 1,75 miliar, Singapura USD 235 juta, Jepang USD 106 juta, Korea Selatan USD 106 juta, dan Australia USD 101 juta.
Kemudian pasar dengan pertumbuhan tercepat untuk ekspor minyak mentah dari Indonesia antara tahun 2023 dan 2024 yakni Thailand USD 309 juta, Singapura USD 136 juta, dan Australia USD 71,8 juta).
Impor Minyak Mentah dari Gabon

Menurut catatan pengiriman dari Desember 2024 hingga November 2025 dari Market Inside, terdapat 86 pengiriman impor dari Gabon menuju Indonesia dengan total nilai USD 598,62 juta.
Rinciannya, pada Desember 2023-November 2025, komoditas impor utama Indonesia dari Gabon adalah Bahan Bakar dan Minyak Mineral (98,12 persen), Kapal dan Perahu (1,20 persen), Bijih dan Konsentrat (0,52 persen), Kayu dan Barang-barangnya (0,12 persen), dan Aluminium dan Barang-barangnya (0,04 persen).
Pelabuhan-pelabuhan utama di Indonesia sebagai lokasi pengiriman terbanyak dari Gabon adalah Balongan (87,47 persen), Balikpapan Sepinggan ( 11,87 persen), Cigading ( 0,52 persen), dan Tanjung Perak ( 0,05 persen).
Perusahaan yang mengimpor barang terbanyak dari Gabon adalah PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) dengan porsi 98,12 persen senilai USD 587,34 juta. Adapun KPI mengelola Kilang Balikpapan dan Kilang Balongan, yang sekaligus menjadi lokasi pengiriman terbanyak dari negara Afrika Tengah tersebut. (Web Warouw)

