JAKARTA – Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berjanji mendukung Kuba untuk menghadapi politik kekuasaan dan penindasan selama pembicaraan dengan mitranya dari Kuba di New York.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi ketika pulau Karibia itu menghadapi tekanan yang meningkat dari Amerika Serikat (AS).
Kuba menderita akibat blokade energi AS, dan bahkan Presiden AS Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk mengambil alih negara tersebut.
China memiliki hubungan dekat dengan Havana dan telah berjanji menyumbangkan 60.000 ton beras demi membantu Kuba mengatasi kekurangan, yang pengiriman pertamanya tiba pada Minggu.
“China akan terus menjunjung tinggi keadilan dan berbicara atas nama Kuba, mendukung perjuangan yang adil bagi rakyat Kuba,” kata Wang kepada Menlu Kuba Bruno Rodriguez Parrilla, menurut pernyataan resmi China dilansir AFP, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
“(China) berkontribusi pada pembangunan ekonomi Kuba dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya,” lanjutnya.
Wang juga menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan menentang segala bentuk intimidasi.
“Sangat penting untuk dengan teguh menghormati kedaulatan dan kemerdekaan semua bangsa, dan menentang semua bentuk politik kekuasaan dan intimidasi,” tambahnya, yang tampaknya merujuk pada AS.
AS Putus Pasokan Minyak ke Kuba

Sebelumnya, Pemerintahan Trump memutus pasokan minyak Kuba dari sekutu Havana, Venezuela, setelah menggulingkan Nicolas Maduro dalam serangan pada Januari 2026. Washington kembali memperketat tekanan pekan lalu dengan mendakwa mantan presiden Kuba Raul Castro atas penembakan dua pesawat sipil AS pada 1996. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa AS sedang mencari dalih untuk menggulingkan pemerintah di Havana.
Kementerian Luar Negeri China mendesak AS untuk “berhenti mengacungkan tongkat hukum terhadap Kuba dan berhenti mengancam dengan kekerasan di setiap kesempatan”, sebagai tanggapan atas dakwaan pekan lalu.
“China dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasional dan martabat nasionalnya serta menentang campur tangan eksternal,” kata juru bicara Guo Jiakun saat itu.
Sementara itu, Pemerintah Kuba meminta bantuan komunitas internasional untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan di negaranya akibat blokade energi AS.
Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla menyampaikan seruan tersebut dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (26/5/2026).
“Saya menyerukan kepada komunitas internasional untuk memobilisasi diri guna mencegah bencana kemanusiaan yang dapat dipaksakan melalui senjata atau blokade bahan bakar,” ujar Rodriguez.
Dia menambahkan bahwa situasi saat ini memerlukan tindakan nyata dari dunia dan menjadi waktu bagi solidaritas dengan Kuba.
China Bantu Kuba Lawan Embargo AS, Kirim 15.000 Ton Beras

Sebelumnya dilaporkan, hubungan kerja sama antara China dan Kuba semakin menguat di tengah situasi sulit yang melanda negara Karibia tersebut. Pemerintah China menyalurkan bantuan beras sebanyak 15.000 ton untuk membantu Kuba yang saat ini tengah didera krisis ekonomi dan kelangkaan energi.
Bantuan tersebut mendarat di pelabuhan Havana pada Minggu (24/5/2026), sebagaimana dilansir SCMP.
Duta Besar China untuk Kuba Hua Xin menyebut, bantuan beras tersebut merepresentasikan bantuan pangan terbesar dari China untuk Kuba dalam beberapa tahun terakhir.
Pasokan ini merupakan bagian dari total 60.000 ton beras yang dijanjikan oleh pemerintah Beijing untuk membantu Kuba mengatasi kelangkaan pangan yang parah.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyambut baik dukungan dari sekutu dekatnya tersebut melalui sebuah pernyataan di media sosial.
“Ikatan persahabatan dan kerja sama yang tulus yang mempersatukan kita semakin diperkuat di momen-momen krusial,” tulis Diaz-Canel.
Diaz-Canel juga memastikan bahwa bantuan pangan ini akan langsung didistribusikan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat dan fasilitas publik di Kuba.
“Isyarat solidaritas yang mulia itu akan menjangkau jutaan konsumen di seluruh provinsi dan kotamadya khusus Isla de la Juventud, selain lembaga kesehatan dan pendidikan kami,” lanjut sang Presiden.
Kedatangan bantuan pangan dari China ini juga bertepatan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Beijing dan Washington yang menyeret nama Kuba.
Pada pekan lalu, pemerintah China secara terbuka mengecam keputusan AS yang mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro. AS menjatuhkan dakwaan terhadap Castro atas insiden penembakan jatuh pesawat yang terjadi pada tahun 1996 silam.
Tekanan AS
Kuba yang berhaluan komunis telah berada di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat (AS) sejak 1962. Kebijakan Washington ini kerap dituding sebagai penyebab utama kelangkaan bahan pangan serta obat-obatan di negara tersebut.
Situasi ekonomi Kuba kian memburuk sejak Januari lalu, setelah negara itu berhenti menerima pasokan minyak dari sekutunya, Venezuela.
Penghentian pasokan terjadi setelah AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan mulai mengendalikan kebijakan energi negara tersebut.
Tidak hanya itu, AS juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada pihak mana pun yang menjual minyak ke Kuba.
Blokade energi yang efektif ini memperparah masalah pemadaman listrik massal yang sudah lama menyengsarakan warga Kuba.

