JAKARTA – Harapan terwujudnya jaringan kereta api yang menghubungkan Kalimantan dengan Malaysia kembali menguat. Pemerintah Sarawak menyatakan kesiapannya untuk merealisasikan proyek Kereta Api Trans-Borneo yang dalam jangka panjang direncanakan tersambung hingga wilayah Kalimantan, Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Premier (kepala pemerintahan negara bagian) Sarawak, Abang Johari Tun Openg. Menurut dia, Sarawak telah memiliki rencana awal jalur kereta api yang akan dibahas bersama pemerintah federal Malaysia sebelum memasuki tahap pelaksanaan.
Jika terealisasi, proyek ini akan menjadi salah satu jaringan transportasi terbesar di Pulau Kalimantan yang menghubungkan Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, dan Kalimantan.

Abang Johari menjelaskan proyek pada tahap awal akan difokuskan untuk memperkuat konektivitas antara Sabah dan Sarawak terlebih dahulu.
Namun, pengembangan berikutnya direncanakan menjangkau Kalimantan melalui kerja sama antarpemerintah atau Government-to-Government (G2G) antara Malaysia dan Indonesia.
“Kita mempunyai kemudahan yang diperlukan dan kerajaan Persekutuan juga bersedia membantu dalam menghubungkan proyek yang dikenal sebagai Pan Borneo Railway,” kata Abang Johari dikutip Bergelora.com di Jakarta, Senin (8/6/2026) dari Bernama.
Bagi masyarakat Kalimantan, rencana tersebut menjadi kabar penting karena selama ini Pulau Kalimantan belum memiliki jaringan kereta api antarkota yang terintegrasi seperti di Jawa maupun Sumatra.
Sebagai langkah awal, Pemerintah Sarawak mengusulkan pembangunan jalur kereta api dari Bintulu menuju Kidurong.
Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan industri utama di Sarawak yang membutuhkan sistem logistik lebih efisien untuk mengangkut barang dalam jumlah besar.
Menurut Abang Johari, penggunaan kereta api dapat mengurangi tekanan terhadap jalan raya sekaligus meningkatkan efisiensi komoditas dan kebutuhan industri.
“Kita cuba mula dari skala kecil dahulu kala,” ujarnya.
Jika jalur Kereta Api Trans-Kalimantan terhubung hingga Kalimantan, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan sektor transportasi.
Jaringan rel lintas negara berpotensi mempercepat arus barang dan manusia, membuka akses perdagangan baru, serta meningkatkan daya saing kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Bagi pelaku usaha di Kalimantan, kehadiran jalur kereta api dapat membantu menekan biaya logistik yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama dalam distribusi barang.
Selain itu, proyek ini berpotensi membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di sepanjang jalur yang dilalui kereta api.
Sementara itu, Menteri Pengangkutan Malaysia, Anthony Loke, sebelumnya menyampaikan bahwa laporan akhir studi kelayakan proyek Kereta Api Trans-Borneo diperkirakan selesai pada pertengahan tahun 2026.
Menurutnya, proyek-proyek tersebut membutuhkan waktu yang lama untuk direalisasikan karena melibatkan pembangunan lintas wilayah dan investasi besar.
Meski demikian, pemerintah Malaysia menilai perencanaan jangka panjang harus disiapkan sejak sekarang agar proyek dapat dilaksanakan secara bertahap.
Kereta Api Trans-Borneo selama bertahun-tahun menjadi salah satu proyek yang paling dinantikan di Pulau Kalimantan.
Keberadaan jaringan rel yang menghubungkan Sarawak, Sabah, Brunei, dan Kalimantan diyakini mampu memperkuat integrasi ekonomi kawasan serta mempercepat mobilitas masyarakat lintas negara.
Bagi Kalimantan, proyek ini bukan sekadar pembangunan transportasi baru. Kehadirannya dapat menjadi simbol pemerataan pembangunan dan membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di wilayah perbatasan maupun daerah pedalaman.
[Sisipkan tanggapan pemerintah Indonesia atau pakar transportasi mengenai peluang koneksi rel Kalimantan-Sarawak]
Kereta Api Trans-Borneo merupakan proyek jaringan rel yang direncanakan menghubungkan Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, dan Kalimantan.
“Ya. Pemerintah Sarawak menyebut pengembangan ke Kalimantan menjadi bagian dari rencana jangka panjang melalui kerja sama dengan Indonesia,” ujarnya.
“Belum ada jadwal pasti. Saat studi kelayakan ini masih dalam tahap penyelesaian,.” tambahnya.
Meningkatkan konektivitas, mempercepat distribusi barang, menekan biaya logistik, dan membuka peluang investasi serta perdagangan lintas negara. (Web Warouw)

