JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pembangunan data center tidak boleh sembarangan dibangun. Lokasinya harus sesuai tata ruang, khususnya di kawasan industri yang telah disiapkan, agar tidak mengganggu lingkungan dan warga sekitar, dikutip Bergelora.com di Jakarta, Salasa (13/10/2026).
Dalam pernyataannya usa,i Digital Infrastructure Summit 2026 AHY menekankan pertimbangan lokasi menjadi bagian tak terpisahkan dari penyusunan tata ruang wilayah. Kawasan industri telah dikembangkan sebagai satu ekosistem utuh di kawasan yang memang diperuntukkan, sehingga tidak terpisah atau tumpang tindih dengan area hunian warga.
“Tentunya ini juga menjadi bagian dari penyusunan tata ruang wilayah pemerintah pusat tentu bersama pemerintah daerah. Kalau di kawasan industri juga memang dipersiapkan sebagai satu ekosistem yang tidak terpisahkan satu sama lainnya,” ujarnya.
“Kita juga mengetahui bahwa kebutuhannya makin besar. Bahkan, ada yang mengatakan Indonesia memiliki peluang Bukan hanya menyiapkan data-data center untuk kebutuhan domestiknya saja Tapi juga menjadi hub bagi kawasan Asia Tenggara.

AHY menegaskan, seiring pertumbuhan ekonomi digital, kebutuhan pusat data memang tidak terelakkan. Namun pembangunannya tidak boleh mengorbankan kenyamanan masyarakat.
“Prinsipnya adalah kita dorong pembangunan data center tanpa merugikan. Apalagi mengganggu keseimbangan lingkungan di daerah tersebut. Ingat masyarakat kita juga memiliki hak untuk hidup dengan tenang, dengan nyaman dan sehat. Tidak kemudian terganggu kebutuhan dasarnya,” tegasnya.
Data center membutuhkan pasokan listrik dan air bersih dalam jumlah sangat besar. Oleh karena itu, perencanaan lokasi harus sekaligus memperhitungkan ketersediaan sumber daya tersebut agar tidak bersaing dengan kebutuhan warga.
“Setiap pusat data itu membutuhkan dukungan energi yang luar biasa besar. Listrik termasuk air bersih yang besar. Sehingga memang harus benar-benar dihitung secara cermat,” kata AHY.
Dengan menempatkannya di kawasan industri, pasokan listrik, air, serta jalur akses dapat dirancang khusus untuk kebutuhan industri, sehingga tidak mengganggu jaringan yang melayani pemukiman.
AHY juga menjelaskan bahwa kementeriannya bertugas mengoordinasikan ketersediaan fondasi fisik sebelum infrastruktur digital berkembang. Mulai dari jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, hingga jaringan dasar komunikasi menjadi penopang agar ekosistem pusat data dapat berjalan lancar. Kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital juga terus diperkuat.
Warga Batam Mengeluh Tak Dapat Air Sejak Ada Data Center

Sebelumnya dilaporkan, sejumlah masyarakat Kavling Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam mengeluhkan air mati selama berbulan-bulan di wilayahnya. Dugaannya hal ini disebabkan karena pembangunan data center di lokasi kawasan Nongsa.
“Ada kemungkinan besar. Saya tidak pernah mengatakan 100 persen bahwa [air mati akibat] data center. Tapi semenjak berdirinya, dikerjakannya data center ini, kami terdampak total mati,” kata Ketua RT 03 RW 02 Kelurahan Sambau, Andi Lalang dikutip Bergelora.com di Jakarta, Jumat (9/10)
Dia menjelaskan di RT tempatnya tinggal telah lama berdampak. Dari air yang bisa diakses beberapa jam dalam sehari, kini sudah mati total.
Sejumlah masyarakat wilayah tersebut diketahui melakukan aksi protes, yang disebut Andi karena belum ada solusi terkait persoalan air. Sekitar 300-an orang mengikuti aksi.
Deputi Bidang Pengusahaan Badan Pengusahaan (BP) Batam, Denny Tondano buka suara terkait masalah itu. Dia memastikan pihaknya akan mengecek ke jaringan dan sumber aliran pada setiap wilayah.
“Nanti kita akan cek dari mana sumbernya. Maka tadi contoh, beda RT saja ada beda aliran. Barusan kan disampaikan, RT 3 ngalir, RT 4 tidak ngalir. Nah, itu yang akan kita cek alirannya seperti apa,” ujarnya.
Sementara itu, dia menjelaskan pasokan air di Nongsa bukan hanya karena adanya data center, melainkan juga terdampak musim kemarau. Produksi air di Nongsa biasanya mencapai 90 liter per detik (LPS), namun kini hanya memproduksi sekitar 25 LPS saja.
Untuk memenuhi pasokan air, BP Batam menggunakan dukungan pasokan dari Waduk Duriangkang. Dia juga membantah adanya pasokan air yang mengalir ke data center, termasuk dugaan 160 LPS menuju ke kawasan data center.
“Kalau saya bilang 160 LPS, mungkin saya tahu persis berapa yang terkirim. Tidak mungkin 160 LPS saya berkirim dari sana. Itu nggak ada,” kata Denny.
Sejumlah data center yang beroperasi, disebutnya tengah menyiapkan sistem pengolahan air sendiri. Bahkan di salah satu kawasan telah memilikinya.
“Di situ mereka ada pengolahan sendiri. Cukup besar produksinya, itu yang mereka pakai untuk saat ini,” ujarnya. (Web Warouw)

