Kamis, 29 Februari 2024

OBITUARI Asep Salmin: Dari Tawuran, Baca Buku, Pemogokan Sampai Revolusi

Oleh: Mohamad Irvan

TULISAN ini merupakan sebuah memori saya terhadap sosok Asep Salmin, kawan seperjuangan bersama-sama rakyat pekerja dalam melawan kapitalisme dan cita cita bersama terciptanya masyarakat sosialis. Namun karena saya manusia bukan mesin komputer yang dapat meyimpan memori data sampai ber terra-terrra byte banyaknya, maka ingatan saya terbatas, karena faktor usia dan kenangan puluhan tahun yang lalu. Ditambah dengan minimnya dokumen-dokumen tertulis yang bisa menguatkan benarnya ingatan saya, maka butuh bantuan teman-teman yang lain yang juga memiliki kenangan bersama Asep dalam gerakan perjuangan melawan kapitalisme dan terciptanya masyarakat sosialis. Dan saya butuh bantuan dalam mengoreksi data-data dan fakta-fakta sejarahnya, seperti nama orang, tempat, waktu, dan kejadian atau peristiwa, bila ada yang luput dari ingatan saya, yang tidak tepat atau bahkan keliru.

Aksi solidaritas terhadap berbagai penindasan rejim orde baru terhadap mahasiswa dan rakyat, di FSUI tahun 1992, digagas oleh FBB dengan melibatkan senat FSUI. (Ist)

Mengenang seorang kawan, apapun itu, teman sepermainan waktu kecil, teman dekat waktu sekolah, teman sekerja, atau kawan seperjuangan dalam jangka waktu yang panjang yang telah pergi akan memeras ingatan dan emosi yang berkecamuk. Ketika menulis kenangan, maka kita seperti ditarik oleh mesin waktu ke masa lalu, lalu munculah potongan-potongan gambar masa lalu yang bergerak seperti sebuah film di depan mata dan berputar-putar di kepala kita.

Mesin waktu pun bergerak mundur seperrti sebuah film ke tahun awal 90 an di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Gambar pertama yang muncul adalah wajah-wajah kawan-kawan yang aktif penghuni awal dalam kelompok diskusi bernama Forum Belajar Bebas. Wajah pertama yang muncul dalam gambar tersebut adalah kawan Andi Lubis almarhum (Sejarah ’89), kemudian Dharmo ‘Chi’c Sudirman (sejarah ’89), Edo Edwar ‘Edo’Mukti (Sejarah ’89), Bingar (Sejarah ’89), Irwan Firdaus (Sejarah 89), Rivo Kaligis(Rusia ’89), saya sendiri Irvan/Irfan (Jerman ’89), dan Ariyanto (Indonesia ’89). Sebenarnya ada anggota-anggota awal FBB yang lain, namun tidak aktif, tidak aktif dalam artian sebagai anggota kelompok diskusi tapi tak pernah ikut diskusi yang FBB adakan seperti Robin (Inggris ’89) dan Jean ‘Ichank’ Hartawan (Jepang ’89). Namun dalam perjalanannya seiring adanya pertambahan anggota FBB, beberapa anggota awal FBB mundur dan wafat (Andi Lubis Wafat tahun 1993 karena kanker usus). Sehingga anggota awal FBB awal hanya menyisakan saya sendiri.

Acara Orientasi Pendidikan atau Ordik Tahun 1990, panitianya dari Senat FSUI yang diketuai Marah Bangun dan FBB ambil bagian dalam acara itu. Ordik mahasiswa baru 1990 adalah awal Asep Salmin, Wignyo, Jacobus Eko Kurniawan dan kawan-kawan menjadi mahasiswa baru tahun 1990. (Ist)

Munculnya Asep Salmin sebagai pejuang buruh yang revolusioner tidak ujug-ujug muncul jadi, Asep Salmin berproses dan berada dalam situasi historis tertentu yang berwujud dan bentuk ekonomi, politik, sosial budaya tertentu dari suatu negeri yaitu negeri Indonesia. Lebih spesifik lagi yaitu, jaman kediktatoran militer bernama Orde Baru dibawah pimpinan Jendral Angkatan Darat, Jendral Soeharto. Rejim Orde Baru mempertahankan kekuasaannya dan mengendalikan sepenuhnya hampir di semua ranah kehidupan masyarakat melalui politik tangan besi, brutal dan haus darah. Petani-petani yang direbut tananhya, kaum buruh yang dieksploitasi dengan diupah murah. Jika ada pihak atau kelompok tertentu yang tak sejalan dan tak setuju dengan kebijakan dan kemauan rejim pasti ditindas dan dilibas.

Depolitisasi pun terjadi di segala ranah, termasuk di ranah pendidikan tinggi dan kemahasiswaan. Kelompok mahasiswa dalam sejarah Orde Baru adalah kelompok yang sering melawan dan menantang Kekuasaan rejim Orde Baru, tahun 74 (peristiwa Malari) dan tahun 1978. Setelah 1978, rejim mempreteli daya kritis dan daya lawan mahasiswa dengan Kebijakan NKK/BKK dan memberangus, membubarkan dewan-dewan mahasiswa.

Mahasiswa Universitas Indonesia, Dharmo Sudirman, Irvan, Hilmar Farid, Jakobus Eko Kurniawan pada Workshop and Seminar ASA (Asian Student Association) di Puncak Bogor tahun 1990 tentang Gerakan Perlawanan Rakyat di Asia. Selain dihadiri mahasiswa dari berbagai kampus di Indonesia juga dihadiri peserta dari negara-negara Asia lainnya seperti dari Malaysia, Singapura, India, Nepal, Pilipina, Pakistan, Thailand Burma, Hongkong, dan dari Palestina. (Ist)

Lalu tahun 80-an atau sejak NKK/BKK diterapkan aktifis-aktifis gerakan mahasiswa memaksa para aktifis mahasiswanya bergerak dalam kelompok-kelompok studi dan LSM. Nah Asep Salmin saat menjejakkan kakinya pertamanya di FSUI masih dalam situasi seperti itu.

Dan selain itu munculnya Asep sesuai fakta historisnya tak lepas dari kelompok bernama Forum Belajar Bebas. Dan FBB pun bukan muncul seketika dari dalam bumi, atau jatuh dari langit, tapi merupakan estafet dari generasi-generasi aktifis mahasiswa sebelumnya. Ada tangan-tangan aktifis mahasiswa sebelumnya yang berkumpul dalam kelompok diskusi dan LSM sebelumnya dalam lahirnya FBB yaitu Yayasan Maju Bersama seperti Wilson (Sejarah ’87), Hilmar ‘Fay, Farid (Sejarah ’87), Mohamad Husni ‘Mone’ Thamrin (Sejarah ’86) , Arif Rusli (Jerman ’86), Razif (Sejarah ’angkatan diatas 86), Edi C (Sejarah ’diatas 86), Warsono (diatas 86), Danial Indra Kusuma (aktifis mahasiswa 74), Semsar (Seniman pelukis), Wiji Thukul (Penyair), Moktar (Akatifis buruh), Carkono (aktifis buruh). Moktar dan Carkono adalah buruh mantan anggota Serikat Buruh Merdeka Setia Kawan atau SBMSK yang dibentuk oleh LSM-LSM dipimpin oleh HJ Princen.

Acara Diskusi dan Baca puisi-puisi Wiji Thukul di FSUI, tahun 1991, dihadiri mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Indonesia. Tampak, Wiji Thukul, Andi Lubis, Irwan Firdaus, Asep Salmin, Dita indah sari, Sutrisno, Jacobus Eko Kurniawan. (Ist)

Lalu juga ada Kepodang seperti Trisno (Hukum’87), Lefidus ‘Levi’Malau (Fisip angkatan di atas 86), Pitono (Fisip antara 87 dan 86), Riri (Fisip’86) . Hilmar ‘Fay’ Farid, Wilson, Mone, Semsar, Gung Tri dan Anom kemudian membentuk Jaringan Kerja Budaya (JKB). Mereka ini semua aktifis gerakan mahasiswa 80-an. Dan FBB pun menjadi tongkat estafet berikutnya. Anggota-anggota FBB pun lalu diajak mengikuti diskusi-diskusi mereka. Kami FBB pun lalu secara sadar terdorong untu menjadi kelompok diskusi independen dan kritis terhadap situasi dan kondisi mahasiswa, kondisi sosial budaya, bahkan kondisi politik saat kurun waktu itu.

Diskusi perdana yang diselenggarakan oleh FBB sendiri yaitu diskusi buku berjudul “Perbincangan Tiga Pemabuk” tentang restorasi meiji Jepang yang dibawakan oleh saya. Beberapa hari sebelum diskusi kami menempelkan undangan ajakan diskusi di dinding-dinding semua gedung yang ada di FSUI. Diskusi diadakann di taman dimana banyak lalu lalang mahasiswa. Diskusi tersebut dihadiri sedikit mahasiswa.

Reuni tahun 2009, di salah satu Kafe di Menteng ada Irvan Mohammad, Asep Salmin, Vidiarina, Linda Christanty, Jacobus Eko Kurniawan, Andi Achdian (Sejarah UI angkatan 90), Daniel Hutagalung (Sejarah 90) dan Chris Waimona (Jerman UI 90). (Ist)

FBB juga membuat terbitan yang diberi nama “SOKA” . Nama SOKA berasal dari sebuah nama jalan di Depok tempat sekretariat FBB waktu itu. Terbitan SOKA terbit 2 kali, berisi tulisan-tulisan tentang sejarah, budaya populer yang disajikan secara kritis.

Anggota FBB seperti Andi Lubis, Chic Dharmo, dan Irwan Firdaus juga beberapa kali diajak diskusi keliling oleh Fay dan Wilson ke perguruan-perguruan tinggi seperti di UGM, UNDIP, UNAIR, UNS. Selain diskusi, aanggota FBB seperti Irwan Firdaus, Rivo Kaligis, dan dari YMB yaitu Wilson juga ikut aksi demontrasi, yaitu aksi bersama petani di Blangguan tahun 1990 yang dihadapi dengan kekerasan dari aparat militer.

Sementara anggota FBB yang lain yaitu saya, Sari (Diploma bahasa perancis ’88), Ec i(Psikologi 86), Andi Lubis, Chic Dharmo, Ariyanto (Indonesia 89), Bingar, Jaenal, dan Edwar Mukti, Trisno (FHUI 87) mengadakan aksi solidaritas ke DPR. Di dalam lokasi DPR, Andi Lubis berorasi sebelum diterima oleh Fraksi PDI, di sana kami membacakan statement mengecam kekerasan militer terhadap kawan-kawan kami dan para petani saat aksi Blangguan, dan diakhiri dengan menyanyikan lagu darah juang ( aksi solidaritas FBB ada beritanya di surat kabar). Pada saat aksi Blangguan ini Asep, Iwan JEK , Wignyo, Dita, Linda, Dewi belum bergabung dengan FBB.

Aksi menentang pembredelan pers Tempo 1993. Yakobus Eko Kurniawan, Irfan, Sarif, Asep, dan Yoko. (Ist)

Selain turut membentuk jaringan mahasiswa se jawa (UGM, UNDIP, UNAIR, dan ISTN) bernama SSDI (Student Solidarity for Democracy in Indonesia) FBB juga masuk jaringan gerakan mahasiswa regional se-Asia yaitu ASA (Asian Student Association) yang waktu itu dipimpin oleh Lina Cabaero (berasal dari League of Filipino Student, Filipina). FBB beberapa kali diutus lewat YMB ke acara-acaranya ASA. Seperti saya yang pernah diutus ke konferensi lingkungan hidup di Malaysia dan acara konferensi multi sektoral bertajuk “People Power 21.” Dan Asa juga pernah membuat konferensi di Puncak Bogor, dihadir peserta mahasiswa dari Malaysia, India, Nepal, Singapur, Hongkong, Pakistan, dan dari Palestina. Sementara dari Indonesia peserta berasal dari UI Jakarta, yang diwakili oleh FBB yaitu Saya, Ariyanto, Andi Lubis, Jaenal, dan Iwan JEK, dari UGM Yogyakarta yaitu, Andi Munajad, Juli, Wuri, Budiman dan aktifis perempuan yaitu Vidi dan Ernawati. Memang pada kurun waktu ini konsolidasi mahasiswa banyak dilakukan oleh Jakarta dan Yogyakarta, terutama banyak dilakukan oleh kawan Andi Munajad Almarhum dari UGM.

Dalam perpolitikan di dalam kampus FSUI, FBB terlibat dalam pemilihat ketua Senat FSUI. Pada tahun 90 digelar pemilihan ketua senat periode 1990-1991. FBB mendukung Marah Bangun dari jurusan sejarah angkatan 86. FBB masuk menjadi salah satu tim sukses, juga Wilson, Fay, Mone, Abduh dan Arif (Jerman 86). Marah Bangun adalah mahasiswa anggota HMI yang sering disebut HMI Semangka, liberal dan terbuka dengan pemikiran kiri. Tak disangka ternyata Marah Bangun mendapat suara terbanyak dan terpilih menjadi Ketua Senat FSUI periode 1990-1991. Wilson, Fay, Mone, Arif, dan Abduh duduk dalam struktur pengurus senat. Sementara saya dari FBB masuk juga menjadi anggota Senat, anggota dari Mone. Dalam periode ketua Senat Marah Bangun FBB mendapat keleluasaan menggelar diskusi menggunakan fasilitas fakultas seperti diskusi puisi-puisi Wiji Thukul, dengan mendatangkan Wiji Thukul. Juga pemutaran film dan diskusi film.

Di LBH Jakarta masih dalam rangkaian aksi pembredelan pers Tempo. ada Nachung, Agus Jabo, Irvan dan Santoso (Pijar). (Ist)

Kemudian pada pemilihan senat periode 1991-1992 FBB mencalonkan anggotanya sendiri yaitu ‘Chic’ Dharmo Sudirman, sementara calon yang lainnya adalah Lasja (Inggris 89) dan Keny (Sejarah 87), namun sayang tidak meraih suara terbanyak. Pemilihan Senat dimenangkan oleh Keny.

Pada masa orientasi pendidikan atau ordik untuk Mahaiswa baru tahun 1990, senat mahasiswa FSUI yang waktu itu dipimpin oleh Marah Bangun adalah pelaksana ordik 90, dimana Asep Salmin, Iwan JEK, dan Wignyo adalah diantaranya. Sebagai mahasiiswa baru, Asep tak jauh beda dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya pada waktu itu, apolitis, yang dilakuakan selain kulian adalah nongkrong di kantin sastra, perpustakaan, nonton film, ngegosip, ngobrolin musik pop, film-film barat hollywood, dan lain-lainnya, jarang sekali mereka ngbrolin kondis sosial politik indonesia, tidak kritis.

Asep Salmin mahasiswa jurusan Sastra Rusia tahun 1990, adalah adik kelas dari anggota FBB yaitu Frans Rivo Kaligis. Rivo memperkenalkan Asep kepada FBB di kantin sastra. Iwan Jek (Perpustakaan 90) dan Wignyo (Sejarah 90) sudah lebih dulu bergaul dan nongkrong dengan FBB. Kantin Sastra adalah tempat nongkrongnya mahasiswa-mahasiswa yang boleh dibilang liberal pada saat itu. Sejak itu Asep sering nongkrong bersama FBB Lalu diajak diskusi-diskusi FBB baik di dalam kampus maupun di luar kampus, seperti di sekretariat FBB jalan Soka, Depok, atau di sekretariat YMB di Pasar Minggu. Sejak itu Asep pun masuk menjadi anggota FBB, bersama Wignyo dan Iwan Jek (Perpustakaan 90).

Diskusi-diskusi terbagi dua, diskusi internal dan eksternal. Diskusi internal FBB adalah untuk memperkaya teori-teori sosial kiri marxisme. Sementara untuk diskusi eksternal yaitu diskusi di kampus untuk menumbuhkan daya kritis mahasiswa.

Kemudian hasil pendekatan ke kos-kosan mahasiswa FBB mendapatkan anggota baru yaitu, Linda (Indonesia 89), Dewi (Indonesia 90) , Dita (FHUI 91), Sari (Diploma Perancis 88) dan Eci (Psikologi 86).

Pada tahun Sejak terbentuknya YMB sudah mengadakan program live in buat mahasiswa-mahasiswa yang berpikiran kritis dan ingin mengubah keadaan masyarakan menjadi lebih baik. Di dalam diskusi-diskusi internal seirng membahas sejarah gerakan kaum buruh, petani, dan mahasiswa baik di Indonesia maupun negara-negara lain, seperti di amerika latin, Rusia, Perancis, Jerman, Tiongkok, Filipina, korea, dsb. Yang berminat dengan gerakan buruh disarankan untuk mengambil program live in di pemukiman-pemukiman buruh terburuk di tangerang. Saya, Irwan Firdaus, sudah lebih dulu mengikuti program live in. Kemudian Asep, Linda, Wignyo menyusul mengikuti progam live in. Asep ditempatkan di Tangerang, Linda di Bogor, Dita di Bogor lalu di pluit dan Wignyo di Pluit.

Ada dua tahap transformasi Asep, yaitu pertama dari tahap yaitu pertama dari berpikir, dari mahasiswa yang tak kritis dan apolitis, menjadi kritis dan politis dan kedua dari krits dan politis menjadi progresif revolusioner. Diskusi-diskusi dan membaca buku-buku kritik-kritik sosial yang dilakukan FBB. Tumbuhnya passion untuk membaca dan memperdalam teori-teori kritis merupakan dampak menjadi anggota FBB. Begitu pula yang terjadi dengan Asep. Asep juga orang tak segan meminta masukan dan saran dari kawan-kawan yang lain. Suatu kali Asep ke rumah saya saat liburan semester. Saat liburan semester saya biasa mentargetkan minimal mebaca satu buku. Saat Asep datang saya sedang membaca buku karya Engels “The Holy Family,”. Lalu kami ngobrol, di sela obrolan Asep meminta masukan bagaimana cara yang efektf membaca buku-buku berbahasa Inggris sekaligus meningkatkan vocabulary. Saya sarankan waktu itu saat membaca buku teks berbahasa Inggris atau asing lainnya bila ada kata-kata yang kita tidak tahu, kita cari di kamus artinya, dan ditulis masukkan di dalam daftar kata-kata untuk buku yang sedang kita baca, sehingga bila kita menemukan kata-kata yang sama di halaman lain, kita tinggal lihat di daftar yang kita buat.

Passion Asep untuk membaca sangat tinggi. Dia pun sering teggelam dalam membaca buku. Terutama setiap ada waktu libur, atau libur semester. Dia juga suka berburu buku ke Pusat kebudayaaan Rusia. Suatu kali saya mengajak ASep ke perpustakaan Gedung Juang, karena saya sudah sering ke sana untuk ‘meminjam’ buku-buku kiri revolusioner, karena di perpustakaan tersebut seperti harta karun buku-buku kiri revolusioner seperti, buku Collected Works of Marx-Engels, Collected works of Lenin, Collected Works of Stalin, Trotsky, Collected works of Mao Tse Tung, buku-buku karya Tan Malaka, Aidit, dan sebagainya.

Saya beberapa kali ke rumah Asep di Kalibata, ngobrol. Selain saya yang juga sering ke rumah Asep adalah Irwan Firdaus, lalu Rivo Kaligis. Pernah Asep bercerita kalau dia termasuk anak bandel waktu SMA . Asep bersekolah di SMA 3 Jakarta. Dia sering ikut tawuran dengan, terutama dengan anak STM Budi Utomo atau STM Boedoet, sehingga dia akhirnya dikeluarkan dari sekolah, terus pindah ke SMA lain di Bogor.

Lulus SMA Asep mencoba ujian masuk sekolah pilot penerbangan di Curug, Bogor, tapi tidak lolos. Lalu dia ikut UMPTN tahun 1990 dan diterima di jurusan sastra Rusia FSUI.

Juga bercerita Bapaknya yang bekerja di perusahaan sepatu BATA di Kalibata.Bercerita pernikahan Orang tuanya yang awalnya tidak direstui orang tua ibunya. Ibunya Asep berasal dari keturunan Arab yang besar di Betawi. Dalam tradisi Arab anak-anaknya harus menikah dengan orang Arab juga. Maka dari itu Ibunya Asep yang mau menikah dengan ayahnya seorang lelaki pribumi etnis sunda awalnya sempat tak direstui oleh kedua orang tua ibunya, namun akhirnya merestui setelah ayahnya Asep menerima syarat agar anak-anaknya nanti memakai nama keluarga ibunya yaitu Salmin, maka nama Asep adalah campuran Sunda dan Arab.

Ada beberapa hal-hal yang menurut kami lucu dari Asep. Kami sering melihat Asep mengaruk-garuk celana pas di anunya. Itulah maka kenapa kami menamakan Asep dengan Asep Bitel’ alias biji gatel. Namun Asep tidak pernah marah bila kami ceng-cengin dia dengan julukan tersebut, dia malah ketawa-tawa. Gerak gerik dan kebiasaannya yang menurut kami lucu seperti tangannya yang gatelan kalau lihat kertas bekas bungkus rokok yang ada kertas timahnya, kalau mandi tidak pernah pakai handuk. Asep juga menderita penyakit asma. Ini kita ketahui setelah dia dekat dengan FBB dan sering ke sekretariat FBB. Maka dari itu alat spray yang berisi obat selalu ada di dalam tasnya.

Selain bacaannya yang makin intens dan dalam. Asep juga mempraktekkan apa yang sudah dia baca soal gerakan kelas pekerja dan cita-cita menciptakan masyarakat sosialis. Asep secara intensif mengorganisir peerlawanan-perlawan buruh dengan pemogokan-pemogokan buruh, terutama di Jabotabek. Dia pun berubah menjadi seorang profesional progressif revolusioner. Selain mengorganisir perlawanan-perlawanan buruh, Asep juga mengajak mahasiwa untuk terlibat dalam perlawanan-perlawanan rakyat pekerja melalui kursus-kursus pengorganisasian perlawanan buruh dan kursus ekopol.

Saat peristiwa 27 Juli, yaitu saat PRD dinyatakan sebagai partai terlarang oleh rejim Orde baru. Setelah kawan-kawan pimpinan PRD tertangkap dan ditahan di Kejaksaan Agung, seperti Budiman, Wilson, Anom, Petrus, dan lain-lain, saya ke rumah Asep. Saya cerita ke Asep kaalau sewaktu saya dan ibu menengok kawan-kawan, terutama Wilson di kejaksaan Agung, dan saat melewati tahanan PRD, Petrus ngomong “Fan, ngapain kau ke sini, namamu ditanyakan saat interogasi.” Saya bilang ke Asep kalau saya mau ‘bersembunyi dahulu’ ke Dumai, Riau. Asep tidak marah atau kesal, dia malah mengamini permintaan saya tersebut. Esok lusa saya pun berangkat ke Dumai, Riau. Di sana saya bekerja jadi buruh di sebuah galanga/dok (Bengkel) kapal laut.

Saya tidak lama di di dumai, kurang dari satu tahun dalam kurun waktu tahun 96. Sekitar bulan September saya kembali pulang ke Jakarta. Sayapun kembali bertemu Asep di rumahnya, saya bilang kalau ada tawaran gabung ke Serikat Buruh Sejahtera Indonesia pimpinan Muchtar Pakpahan. Lagi-lagi asep tidak marah atau kesal, dia mengamini dan mendukung. Lalu sayapun bergabung dengan SBSI dari tahun 97 sampai awal tahun 2000.

Di SBSI saya mengorgganisir perlawanan-perlawanan buruh dengan pemogokan, mensetting aksi-aksi SBSI sperti aksi May Day tahun 1997. Saat di SBSI saya pun beberapa kali bertemu dengan Asep, cerita keterlibatan saya di SBSI, pengorganisasian buruh yang saya lakukan di SBSI. Saya pun ikut terlibat aktif memobilsasi buruh menduduki DPR/MPR saat peristiwa reformasi 1998.

Setelah reformasi, saat keluar dari SBSU dan turut dalam pembentukan SBMNI dan SBTPI Juni tahun 2000, dan turut mensetting aksi Blokade Pelabuhan Internasional Tanjung Priuk, Jakarta, yang fenomenal waktu itu.

Setelah reformasi saya jarang bertemu Asep, namun sejak saya menjadi salah satu pimpinan SBMNI dan SBTPI saya sering intens bertemu dengan kawan-kawannya Asep di PRD, LMND dan FNPBI baik di sekretariat FNPBI di Kalibata, maupun di sekretariat SBMNI dan SBTPI di Tanjung Priuk.

Kawan-kawan Asep yang sering berkunjung dan berdiskusi ke sekretariat SBMNI dan SBTPI antara lain Dwi, Boing, dan Bimbin. Saya juga sering bertemu dengan kawan-kawan FNPBI saat pertemuan-pertemuan Komite Aksi Satu Mei di LBH Jakarta, pada awal tahun 2000-an.

Setelah tidak lagi di SBMNI, saya memback up Istri Saya yang waktu intu menjadi Ketua bidang Konsolidasi di DPP SBSI. Sejak itu saya tak bertemu asep, palilng bertemu saat aksi May Day, itupun tak ngobrol banyak, hanya tegur sapa.

Sejak tahun 2005 saya hampir dibilang tak pernah bertemu Asep. Bertemu kembali dengan Asep saat ibu saya meninggal tahun 2019, dan terakhir kali bertemu pada Hari minggu tanggal 23 Januari 2022, di Kafe Wow, pejaten Pasar Minggu, Jakara Selatan, di acara kumpul-kumpul kawan PRD sejabodetabek, itupun tak sempat ngobrol. Itulah pertmeuan terakhir saya dengan Asep Salmin.

Lalu beberapa hari kemudian, pagi hari, tanggal 31 Januari 2022, sehari sebelum Hari Raya Imlek, saya mendapat pesan WA yang mengabarkan bahwa kawan, sahabat saya seperjuangan telah pergi. Bagaikan petir di siang bolong saya sangat terkejut dan walnya tak percaya, tetapi setelah ada pesan WA dari Seruni, putri semata wayangnya Asep, baru saya percaya.

Air mata saya pun menetes, sedih sekali saat mengantar dirimu ke tempat peristirahatanmu yang terakhir, dan mengucapkan Selamat jalan Sahabat seperjuanganku, seorang revolusioner sejati sampai akhri hayatmu. Banyak hal yang telah kau perbuat untuk perjuangan rakyat pekerja. Terima kasih Asep atas persahabatan kita selama ini.
SELAMAT JALAN ASEP SALMIN!

Penulis Mohamad Irvan, seorang aktivis buruh, pelopor gerakan mahasiswa 90-an dari Universitas Indonesia.

Tulisan diambil dari Facebook penulis yang berjudul

Asep Salmin: Anak Bandel dan Lucu Jadi Seorang Progresif Revolusioner: Sepotong Obituari

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru