Senin, 15 Juli 2024

Awaas…! PolMark Indonesia Ingatkan Ancaman Keretakan Sosial Dalam Pemilu 2019

PolMark Indonesia, dalam diskusi publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial”, di Jakarta, Rabu (29/8). (Ist)

JAKARTA- Ada potensi keretakan sosial dalam Pemilu sekalipun kecil. Namun demikian sekecil apapun potensi itu mesti diwaspadai secara serius, baik oleh pemerintah, penyelenggara pemilu atau juga kandidat yang berkompetisi. Kalau potensi itu dibiarkan, tidak dikelola dengan baik maka potensi itu bisa membesar. Hal ini disampaikan oleh Eko Bambang Subiantoro, Direktur Riset PolMark Indonesia, dalam diskusi publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial”, di Jakarta, Rabu (29/8).

“Polmark Indonesia memberi peringatan dini agar semua pemerintah, penyelenggara Pemilu dan seluruh rakyat Indonesia menjadi waspada terhadap ancaman keretakan sosial dalam Pemilu 2019 nanti,” tegasnya.

Ia memaparkan hasil penelitian PolMark menunjukkan bahwa hanya 5,7 persen responden yang mengaku mengalami ketegangan dikarenakan perbedaan pendapat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

“Sementara mayoritas, sebesar 93,8 persen responden yang yang mengaku mengalami ketegangan dikarenakan perbedaan pendapat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu,” katanya.

Eko melaporkan data yang didapat oleh PolMark Indonesia juga seolah menunjukkan bahwa hanya 4,3% pemilih di Jakarta yang rusak hubungan pertemanannya karena Pemilu Presiden 2014.

“Data di atas itu menunjukkan adanya potensi retaknya kerukunan sosial karena Pemilu. Jika data itu diproyeksikan ke jumlah pemilih maka kita sebetulnya bicara tentang pemilih dalam jumlah signifikan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa 1.000 hubungan sosial retak adalah statistik, tapi satu saja keretakan hubungan sosial adalah tragedi kemanusian atau tragedi demokrasi. “Dalam demokrasi yang mapan atau terkonsolidasi mensyaratkan pemilu diterima sebagai satu-satunya cara bermain (the only game in town) yang diterima semua orang. Proses dan hasil pemilu pun semestinya tak boleh membuat luka sosial,” ujarnya.

Diskusi Publik

Diskusi publik dengan tema “Pemilu dan Ancaman Retaknya Kerukunan Sosial” mempresentasikan hasil-hasil lebih dari 73 survei yang dilakukan oleh Polmark Research Center (PRC) dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Sebanyak 73 hasil survei tersebut terdiri dari survei tingkat nasional, tingkat propinsi, kabupaten dan kota yang dilakukan PolMark Research Center – PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 15 Januari 2016 sampai dengan 11 Juni 2018.

Metode pengambilan sampel untuk masing-masing survei tersebut adalah multistages random sampling. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Nasional adalah 2.250 orang dengan MoE (margin of error) 2.1% dan 2.600 orang MoE 1.9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Provinsi adalah 1.200 orang dengan MoE + 2,9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Kabupaten dan Kota adalah 880 orang (MoE + 3,4%) dan 440 orang (MoE + 4,8%).

Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah responden atau calon pemilih yang pandangannya tercakup dalam laporan ini adalah 66.530 orang.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, beberapa narasumber yang hadir adalah Maruarar Sirait dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan,. Mustafa Kamal dari Partai Keadilan Sejahterah (PKS), Ahmad Riza Patria dari Partai Gerindra, KH. Maman Imanul Haq dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rocky Gerung, Pengamat Politik, R. Siti Zuhro, Profesor Riset dan Peneliti LIPI dan Andi Arief dari Partai Demokrat. Acara ini akan dimoderatori  oleh Sandrina Malakiano, Deputy CEO PolMark Indonesia). (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru