Selasa, 28 April 2026

AYOOO….! Peneliti LIPI Ingatkan Suara Perempuan dan Milenial Menentukan Kemenangan Dalam Pemilu 2019

Presiden Joko Widodo dan kaum milenial

JAKARTA- Dalam Pilpres 2019  kedua pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersaing untuk merebut suara pemilih perempuan sebanyak 96.557.044 suara dari total 192 juta suara. Hal ini disampaikan oleh Irine H Gayatri, Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta, Jumat (12/4).

Sejak Indonesia menjalankan pemilu yang demokratis pasca Orde Baru, diskursus tentang signifikansi pemilih perempuan  & pemilih usia muda  muncul dalam diskusi, dan tercermin dalam dan praktik kampanye. Suara pemilih perempuan dan kelompok usia muda kerap merupakan faktor dominan dalam pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg).

“Faktanya Perempuan  memang menentukan dalam proses politik, suaranya signifikan untuk memilih, dan seringkali diposisikan sebagai pemilih yang loyal. Sedangkan millennials lebih dilihat sebagai bagian dari “early voters” yang menjadi harapan dari kelangsungan demokrasi secara jangka panjang,” ujarnya

Menurutnya, karena Pileg dan Pilpres dilakukan bersamaan maka ada relasinya antara pilpres dan pileg. Para calon legislatif (caleg) dalam konteks Pileg berperan penting untuk meyakinkan publik atas elektabilitas calon presiden yang didukung oleh koalisi parpol-parpol.

“Untuk merangkul pemilih perempuan yang dianggap mempunyai concern soal ekonomi, sosial, kesehatan, pendidikan, keamanan para caleg tidak hanya mempromosikan diri mereka namun mesti  meyakinkan pemilih tentang capres yang didukung,” ujarnya.

Tentu saja menurutnya, idealnya para caleg ini mempunyai pendekatan yang programatik di mana memperlihatkan aspek inklusif, tidak bias gender, dan pro kesejahteraan rakyat.

Dalam kesempatan itu Pengurus Pusat AIPI, Bagian Pengabdian Masyarakat ini menyoroti perhatian kedua pasang calon pada persoalan kaum perempuan pada Pilpres 2019 ini. Pasangan Jokowi-Ma’aruf menurutnya tinggal meneruskan apa yang telah dibangun pada periode pemerintahan yang pertama, terutama yang menyangkut Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar, PKH, infrastruktur di pedalaman

“Jejak kerjanya adalah mengakomodir 8 menteri perempuan dengan kinerja bagus. Terdapat beberapa pimpinan daerah perempuan yang berprestasi di bidangnya sebagai hasil pilkadasung.  Hal ini umumnya diapresiasi di level global dan sering menjadi contoh kemajuan kesetaraan jender,” ujarnya

Pendukung Jokowi-Maaruf menurutnya mengandalkan mobilisasi ibu-ibu di kota dan urban, professional dengan penggunaan identitas.

“Gimmick terkait perempuan dan relasinya dengan perilaku saling menghargai juga kerap diperlihatkan dalam konteks relasi antar anggota keluarga, maupun, ketika di ranah publik,” jelasnya.

Walau demikian ia mengkritik pendekatan jender yang belum holistic dan kurangnya penggunaan dialog terkait isu HAM,  hak-hak minoritas, pengusutan kasus kekerasan seksual dan perkosaan.

Sementara itu Pasangan Prabowo Sandi menurutnya mengandalkan ‘politik emak-emak’ dengan memainkan isu harga kebutuhan pokok.

“Isu tentang harga-harga kebutuhan pokok misalnya tempe setipis kartu kredit, mendapat respon keras dari para perempuan lainnya,” katanya.

Mobisasi juga dilakukan pada perempuan di perkotaan urban dengan menggunakan identitas

“Prabowo-Sandi mengandalkan political gimmick sosok yang tegas, wajah yang ganteng, pendidikan yang tinggi, dan popularitas,” katanya.

Ia mengkritik pasangan Prabowo Sandi yang melakukan politisasi isu kekerasan yang ternyata hoax, pada Ratna Sarumpaet, yang merupakan perempuan aktivis.

“Bagi pemajuan politik perempuan melek politik pasca Orde Baru, politisasi kebohongan bukanlah investasi politik jangka panjang yang tepat, tidak mendidik kedewasaan berpolitik,” tegasnya.

Pemilih Muda

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Irine H Gayatri juga menyoroti suara pemilih muda dengan mengutip media The Strait Times, “Indonesia’s millennials could be key to election, if they vote”. Menurutnya sejak awal masa kampanye pilpres kedua pasangan capres telah berusaha merebut perhatian kawula muda dengan berbagai medium.

Ada asumsi bahwa anak muda umumnya apatis, tidak tertarik politik, anak muda sekarang tidak seperti generasi 90 an yang berada di bawah rezim Orba.

“Revolusi gadget sekilas membuat imej anak muda hanya sebatas konsumen, yang dikenal dengan “netizens”. Namun imej ini tidak sepenuhnya benar,” katanya.

Dinamika zaman yang berubah, menuju industri 4.0, dengan jargon speed, productivity, justru membuka peluang keterlibatan anak-anak muda menjadi pemain baru. Anak muda selalu menjadi sumber suara potensial. namun ada temuan mengenai kenaikan abstain dalam pemilu 2019 yang dipicu oleh polarisasi politik yang tajam.

Menurut survey csis 2017 profil orientasi politik milenial hanya sedikit berminat dalam politik, dan sangat menguatirkan soal masa depan mereka. Survey lainnya tidak jauh berbeda menunjukkan bahwa anak muda suka hal-hal yang sederhana dan mencerminkan jiwa muda. Mereka menyukai film, music, mode, gadget. Tdaik heran jika pengguna twitter dan fb adalah anak muda.

“Namun ulasan lain juga menyebutkan bahwa ke depan generasi mudalah yang berperan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik global,” katanya. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles