JAKARTA – Pembangunan China, yang didasarkan pada pendekatan terpadu yang menggabungkan perencanaan jangka panjang, implementasi praktis, dan penyesuaian berkelanjutan terhadap realitas yang berubah, memberikan inspirasi berharga bagi negara-negara berkembang, kata seorang pakar Arab Saudi.
Pembangunan China bukan “sebuah kebetulan sejarah semata,” melainkan hasil dari upaya jangka panjang dan pengalaman pembangunan yang mendalam, kata Mohammed Al-Sadiq, Kepala Departemen Riset Rkonomi di Pusat Penelitian dan Pengetahuan Interkomunikasi (Center for Research and Intercommunication Knowledge) di Arab Saudi.
Kepada Bergelora.com si Jakarta, Junat (10/7) dilaporkan alasan yang membuat pengalaman China menjadi sangat penting bagi negara-negara berkembang adalah karena pengalaman tersebut memperluas cara pandang negara-negara berkembang tentang berbagai jalur pembangunan yang memungkinkan, mengurangi ketergantungan penuh pada narasi Barat yang telah lama mengaitkan kemajuan ekonomi semata-mata dengan model Barat, ujar Al-Sadiq dalam wawancara baru-baru ini dengan Xinhua.
“Pengalaman China telah menginspirasi dunia dengan jalur budaya, tata kelola, dan ekonomi yang baru,” ujarnya, seraya mengatakan bahwa pengalaman tersebut bukan berarti negara lain harus meniru model China, tetapi setiap negara berhak mencari jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi historis, sosial, dan institusionalnya.
Salah satu keunggulan paling menonjol dari pengalaman China adalah kemampuannya menerjemahkan visi strategis menjadi implementasi, tutur Al-Sadiq. Perumusan dan implementasi berkelanjutan dari rencana lima tahunan China mencerminkan “keberlanjutan institusional yang langka dalam pengelolaan pembangunan,” lanjutnya.
Menurut Al-Sadiq, perencanaan China menggabungkan stabilitas strategis dengan fleksibilitas praktis. Perencanaan tersebut menetapkan prioritas-prioritas jangka panjang, seperti modernisasi industri, inovasi teknologi, pembangunan hijau, serta perluasan permintaan domestik, sembari menyesuaikan kebijakan dengan perubahan kondisi domestik dan internasional.
Kemampuan untuk memadukan visi jangka panjang dengan penyesuaian yang berkelanjutan menawarkan pelajaran penting bagi tata kelola ekonomi global, terutama di tengah gangguan rantai pasokan, pemulihan ekonomi yang lemah, dan percepatan perubahan di bidang energi dan teknologi, paparnya.
Pembangunan China melampaui batas-batas nasionalnya dan memberikan dampak global yang kian besar, didorong oleh keterbukaan tingkat tinggi, perluasan perdagangan, investasi di bidang infrastruktur, serta partisipasi dalam rantai nilai global, kata Al-Sadiq.
Dengan menyebut Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative) sebagai contoh kemitraan yang berlandaskan prinsip kerja sama “saling menguntungkan” (win-win), dia mengatakan China berinvestasi dalam pembangunan infrastruktur di sejumlah negara Global South ketika negara-negara tersebut menghadapi kesulitan mendapatkan pembiayaan.
China telah melaksanakan banyak proyek bersama dengan negara-negara tersebut, bukan untuk membiayai konsumsi jangka pendek, melainkan berinvestasi dalam infrastruktur yang membantu mereka mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan, ujarnya.
Ketika China terus membuka pasarnya, memperluas kerja sama ekonomi, dan berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur lintas perbatasan, negara tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan domestiknya sendiri, tetapi juga menciptakan peluang baru bagi para mitranya, terutama negara-negara Global South, jelas Al-Sadiq.
“Pengalaman China menawarkan model yang memiliki signifikansi khusus bagi negara-negara berkembang yang sedang mencari jalur pembangunan yang memadukan kemandirian dengan keterbukaan, pertumbuhan dengan keadilan, serta efisiensi ekonomi dengan stabilitas sosial,” imbuhnya. (Web Warouw)

