Minggu, 21 Juli 2024

Budiman, Gibran dan Polarisasi

Oleh: Dr. Maruly H. Utama *

PERUBAHAN sosial sejak masa kolonial hingga pasca reformasi pernah ditulis oleh Max Lane dalam buku Unfinished Nation yang diterbitkan Djaman Baroe 2014. Secara berani Lane mengajukan analisis berbeda dari mayoritas analisis barat yang mengidentifikasi bahwa kekuatan luar negeri atau elit politik yang menjadi penyebab utama kejatuhan Soeharto.

Menurut Lane, Gerakan yang mendorongnya jatuh sebagai hasil dari upaya yang sengit dan sadar dalam membangun gerakan politik berbasiskan mobilisasi massa. Aktor utama dalam melakukan pendidikan politik dalam meradikalisir gerakan adalah PRD.

Aksi-aksi yag berpuncak pada tahun 1998 tidak dapat membawa gerakan ke arah yang lebih maju. Lane tidak menyatakan dengan tegas tetapi dapat dikatakan PRD gagal membawa gagasan mereka pasca tergulingnya Regim Orde Baru.

Hadir kekecewaan Lane yang tergambar dari bukunya, tetapi optimisme juga terlihat dari tulisannya akan perubahan sosial yang lebih baik lagi. Bagaimanapun, generasi MTV dengan host Nadya Hutagalung berhasil menumbangkan Soeharto dengan meninggalkan jejak langkah bagi benih kepeloporan politik selanjutnya.

Bagi Lane, Indonesia adalah bangsa yang belum selesai. Karenanya tidak heran, hanya di Indonesia seseorang bisa di stempel komunis walau cuma belajar sosialisme. Presiden juga bisa dicap pengkhianat hanya karena anaknya menjadi Cawapres.

Angan menjadi ingin yang tersapu oleh semilir angin kehadiran Gibran seolah kiamat kecil bagi mereka yang tidak bisa menerima kenyataan sejarah. Begitu reaksioner dalam merespon situasi dan menyerang kehormatan keluarga Presiden. Mereka berpolitik tidak dibimbing oleh ideologi. Semakin reaksioner, semakin membabi buta serangannya maka semakin kencang argo berputar.

Untuk hal seperti ini, nampaknya politisi kiwari harus tetap belajar pada aktivis 90an. Budiman Sudjatmiko adalah salah satu Cawapres yang berpotensi mendampingi Capres Prabowo Subianto. Ketika diumumkannya Gibran Rakabuming sebagai Cawapres, ideologi membimbingnya untuk mendukung Presiden Jokowi.

Sebagai aktivis yang terlatih untuk berpikir dan bertindak cepat Budiman langsung memberikan arahan pada teman-temannya untuk mempersiapkan segala sesuatunya guna memback up keputusan Presiden Jokowi yang mendukung Gibran sebagai Cawapres. Bahkan dengan segala kerendahan hati, dalam sebuah rapat tertutup Budiman bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan pendidikan politik dan kursus politik secara kontinyu bagi Gibran, juniornya di PDIP.

Nikel, Freeport, Minyak, Batubara, Waduk, Kereta Api, Kereta Cepat, LRT, MRT, Pelabuhan, Bandara, Jalan Tol, Jalanan di Lampung, Jambi, Riau dan transportasi layanan publik serta hasil pembangunan lainnya bagi negara ini tidak boleh dihapus dari memori kita. Semua itu bisa kita nikmati berkat kebijakan Jokowi.

Jangan karena Gibran menjadi Cawapres lalu kita meniadakan hasil kerja dua periode kepemimpinan Jokowi. Pasti ada alasan mengapa Jokowi mendukung Gibran, sama halnya pasti Jokowi memiliki argumentasi yang kuat mengapa harus meninggalkan PDIP, Partai yang selama belasan tahun dibesarkannya.

Pertama; Memilih Gibran sebagai Cawapres artinya Jokowi ingin memastikan kesinambungan visi dan kebijakan untuk menuntaskan semua program politiknya yang belum tuntas diakhir masa jabatan.

Kedua; Mendukung Gibran sebagai Cawapres artinya memindahkan dukungan politik yang kuat dari basis elektoral. Karena basis dukungan politik ini yang dapat memberikan jaminan stabilitas politik.

Ketiga; Gibran adalah dinasti politik yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan politik yang bisa mengakumulasi pengalaman dan keterampilan yang diperoleh dari elite politik nasional

Keempat; Gibran memiliki akses yang lebih besar ke sumber daya dan jaringan politik. Pengaruh ini dapat membantu mewujudkan program-program politik demi kepentingan rakyat.

Kelima; Gibran adalah jembatan bagi Prabowo untuk membangun konektivitas dengan generasi milenial. Sehingga Pilpres satu putaran benar-benar bisa direalisasikan

Konsekuensi logis mendukung Gibran sebagai Cawapres Prabowo adalah harus menerima kenyataan sejarah tentang polarisasi. Jangan ditangisi, karena polarisasi pasti menghasilkan elemen positif dan negatif.

Kekecewaan yang diekspresikan dengan marah-marah, memaki bahkan menangis hanya boleh dilakukan oleh elemen negatif yang memandang polarisasi dengan logika formal.

Sementara elemen positif harus memegang teguh prinsip dialektika untuk tetap konsisten melihat setiap situasi pasti membawa pengaruh positif didalamnya. Dalam Islam, selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa.

Elemen positif adalah elemen yang bergerak maju, elemen ini yang akan menerabas semua rintangan dan hambatan dalam mewujudkan Indonesia 2045 menjadi negara maju.

Begitu banyak yang harus dikerjakan, dan selalu mendesak. Dunia terus berputar, waktu terus menekan. Sepuluh ribu tahun terlalu lama, rebut hari ini raih jamnya! Mao Zedong 9 Januari 1963.

*Penulis Dr. Maruly H. Utama,
DPP Prabu – Prabowo Budiman Bersatu

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru