Senin, 2 Februari 2026

Cie cie…!Myanmar Bisa Belaja Di Indonesia Tentang Demokrasi dan Pluralisme

JAKARTA- “Myanmar dapat gunakan Indonesia sebagai laboratorium untuk belajar mengenai proses demokratisasi, rekonsiliasi dan hidup berdampingan secara damai, dalam masyarakat yang pluralis,” demikian disampaikan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi saat menerima kunjungan Menteri Informasi Myanmar, Mr. U Pe Myint bersama sekitar 30 delegasi dari Myanmar di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (25/01).

Kunjungan delegasi Myanmar adalah untuk mempelajari demokrasi dan rekonsiliasi, serta merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk membantu penyelesaian isu di Rakhine State

Dalam pertemuan, Menlu RI menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus mendukung proses demokratisasi dan rekonsiliasi serta pembangunan inklusif di Myanmar. Menlu RI juga menegaskan bahwa sebagai tetangga dan sesama saudara di ASEAN, Indonesia ingin bekerja sama membantu Myanmar dalam mengatasi masalah di Rakhine State.

“Penyelesaian masalah di Rakhine State memerlukan adanya proses pembangunan ekonomi yang inklusif, dan mensukseskan proses rekonsiliasi dengan membangunan kepercayaan antara masyarakat. Tugas Pemerintah Myanmar adalah menciptakan situasi kondusif (enabling environment) bagi terciptanya harmoni, stabilitas, dan perdamaian.” tutur Menlu Retno.

Lebih lanjut, Menlu Retno menyampaikan berbagai langkah yang telah dilakukan Indonesia di Myanmar khususnya di Rakhine State. Dalam 2 bulan terakhir, Menlu RI telah berkunjung 3 kali ke Myanmar dan ke Bangladesh satu kali untuk melakukan pertemuan dengan komunitas Budha, Islam, wakil dari Orgasasi PBB di Myanmar.

Untuk jangka menengah dan panjang, Menlu RI menyampaikan rencana Indonesia untuk mendukung peningkatan kapasitas di Rakhine State, seperti program pendidikan guru dan perawat; peningkatan fasilitas kesehatan seperti mobile clinic; rencana pembangunan pasar perdamaian; serta dialog antar agama dan komunitas. “Berbagai langkah ini diharapkan dapat menciptakan kondisi kondusif dan kepercayaan antar komunitas bagi tercapainya perdamaian, stabilitas dan pembangunan inklusif,” tegas Menlu RI.

Selain itu Menlu RI, juga menyampaikan rencana kerja sama antar polisi dan angkatan bersenjata kedua negara untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas.

“Dari pengalaman Indonesia angkatan bersenjata yang professional sangat penting dalam mengawal proses demokratisasi,” tutur Menlu RI. 

Menteri Informasi Myanmar didampingi oleh delegasi wakil pemerintah pusat dan dearah, anggota parlemen, pemimpinan komunitas Islam dan Buddhist, serta ketua kamar dagang Rakhine State. Kunjungan delegasi Myanmar ke Indonesia berkerja sama dengan Harvard Kenedy School for Democracy dan bertujuan meningatkan kapasitas dan sharing of best practices untuk proses rekonsiliasi, perdamaian dan demokrasi di Myanmar.

Menteri Informasi Myanmar, Mr. U Pe Myint, menyampaikan bahwa dirinya sependapat dengan pandangan wakil dari Harvard Kenedy School for Democracy yang mengatakan bahwa Indonesia adalah ruang kelas (classroom) yang tepat untuk Myanmar belajar mengenai demokratisasi dan rekonsiliasi.

Menteri Informasi Myanmar juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Indonesia atas solidaritas dan berbagai bantuan konkrit yang diberikan dalam mendukung proses demokrasi, rekonsiliasi dan pembangunan di Myanmar.

Kepada Bergelora.com dilaporkan, delegasi Myanmar direncanakan untuk melakukan diskusi dengan LSM Indonesia dan kunjungan ke komunitas di Ambon, Maluku untuk belajar langsung dari pengalaman mengenai resolusi konflik antar komunitas dan agama di Ambon.

“Program ini juga menjadi bagian dari dukungan Indonesia terhadap pembangunan yang inklusif di Myanmar” tegas Menlu Retno. (Telly Nathalia)

Artikel Terkait

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,120PelangganBerlangganan

Terbaru