JAKARTA- Pemilu 2019 yang berlangsung serentak tinggal menghitung hari. Temuan survei NEW INDONESIA Research & Consulting menunjukkan elektabilitas kedua pasangan capres-cawapres sama-sama mengalami peningkatan. Hanya saja Jokowi-Ma’ruf tetap unggul jauh meninggalkan Prabowo-Sandi.
Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mencapai 57,3 persen, naik dari bulan sebelumnya sebesar 55,8 persen. Sedangkan Prabowo-Sandi 35,9 persen, naik dari 34,3 persen. Sementara itu pemilih yang belum memutuskan pilihan juga semakin berkurang, dari 9,8 persen menjadi tinggal 6,8 persen.
Pilpres dan Pileg yang berjalan serentak mengerek elektabilitas dua partai politik utama pengusung capres-cawapres. PDIP unggul dengan elektabilitas 27,3 persen, naik dari bulan lalu 26,2 persen. Gerindra menyusul sebesar 15,3 persen, naik dari 14,8 persen. Pada Pileg 2014 PDIP meraih 19,0 persen suara, sedangkan Gerindra 11,8 persen.
“Tingginya elektabilitas PDIP dan Gerindra menggerus parpol lain yang tergabung dalam koalisi,” demikian ungkap Manajer Riset NEW INDONESIA Research & Consulting Andreas Nuryono dalam siaran pers di Jakarta, pada Kamis (11/4). Misalnya, Golkar yang sejak reformasi jadi partai pemenang atau runner up tergeser oleh Gerindra.
Elektabilitas Golkar sedikit melemah dari 9,8 persen ke 9,7 persen. Pada 2014 Golkar merebut 14,8 persen suara, diprediksi turun ke posisi ketiga. Demokrat yang pada 2014 berada pada posisi keempat tergeser oleh PKB. Elektabilitas Demokrat juga turun dari 6,4 persen ke 5,8 persen, sedangkan PKB naik dari 7,2 persen ke 7,9 persen.
Pertarungan sengit diprediksi berlangsung di antara partai-partai papan tengah. Pada Pileg 2014, perolehan suara berkisar 5-7 persen, di mana PAN unggul dan Hanura menjadi juru kunci. Pada Pileg 2019, elektabilitas bergerak di kisaran 3-4 persen, dengan kemungkinan naik atau turun pada saat hari pencoblosan.
“Selain tergerus oleh PDIP dan Gerindra, posisi papan tengah juga disesaki oleh banyaknya parpol pendatang baru,” jelas Andreas. Situasinya berbeda dengan Pileg 2014 di mana hanya ada satu parpol baru yaitu Nasdem. Kali ini ada Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang meraih elektabilitas 4,3 persen dan Perindo 1,8 persen.
Berikut adalah hasil lengkap elektabilitas partai politik:
PDIP: 27,3 persen
Gerindra: 15,3 persen
Golkar: 9,7 persen
PKB: 7,9 persen
Demokrat: 5,8 persen
Nasdem: 4,9 persen
PKS: 4,5 persen
PSI: 4,3 persen
PAN: 3,7 persen
PPP: 3,4 persen
Perindo: 1,8 persen
Hanura: 0,9 persen
PBB: 0,8 persen
PKPI: 0,4 persen
Berkarya: 0,3 persen
Garuda: 0,1 persen
Tidak tahu/tidak jawab: 8,8 persen
Kepada Bergelora.com dilaporkan, keberadaan parpol-parpol baru membuat Hanura terlempar ke posisi papan bawah. Dengan elektabilitas tersisa 0,9 persen, Hanura terancam gagal lolos ambang batas parlemen. Parpol lama PBB dan PKPI juga diprediksi kembali gagal mengirim wakil rakyat, masih pula harus bersaing dengan parpol baru Berkarya dan Garuda.
Survei NEW INDONESIA Research & Consulting dilakukan pada 28 Maret-3 April 2019, dengan jumlah responden 1200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error ±2,89 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Calvin G. Eben-Haezer)

