Kamis, 18 Juli 2024

CUAN TAPERA..! Propertinomic: 20% Keluarga Belum Punya Rumah Jadi Bisnis Strategis Properti

JAKARTA – Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) 21/2024 tentang Penyelenggaraan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Pemerintah memang tengah berupaya untuk mengurangi backlog atau kesenjangan antara total hunian terbangun dengan jumlah rumah yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Joko Suranto buka suara terkait rencana pemerintah dalam program Tapera. Ia mengungkapkan bahwa investasi properti di kuartal I 2024 berada pada nomor 4 kontribusinya terhadap PDB, sehingga jadi sektor properti sangat penting dan akan sangat bisa mengungkit ekonomi.

“Tapera saya ngga jawab langsung Taperanya, yang harus dilihat backlog masalahnya udah ada, hampir 20% keluarga belum punya rumah, semakin lama makin ngga ditangani, ini akan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat karena hunian layak jadi indikator kesejahteraan,” kata Joko dalam Propertinomic CNBC Indonesia, Rabu (12/6/2024) lalu.

Lebih jauhnya, perhatian besar saat ini dibutuhkan lapangan kerja dan industri properti padat karya punya potensi untuk menyerap 14 juta lapangan kerja. Jika tidak tereduksi dari sekarang maka akan mengalami inefisiensi infrastruktur.

“Karena orang tidak yang tinggal di desa 56% kemudian 2035 akan 66% tinggal di kota. Jumlah penduduk 304 juta akan sangat bermasalah betul jika tidak dibenahi. masalah ini jangan berlarut-larut timbulkan cost lebih besar,” kata Joko.

Untuk itu pengembang properti mengajukan sebuah konsep propertinomic yang didasarkan pada 4 pilar, yakni adanya institusional kementerian, dan itu sudah disampaikan ke presiden terpilih Prabowo Subianto sebanyak tiga kali. Kemudian institusional perbankan yang punya kapasitas finansial untuk bisa membarengi pemenuhan ini bisa berjalan.

“Pilar kedua mengenai pembiayaan. Pembiayaan subsidi APBN hanya 0,4% dari APBN nomenklatur kementerian PUPR nggak sampai 10%, betapa akomodasi belum cukup pemenuhan per tahun, apalagi penyelesaian backlog,” kata Joko.

Ketiga soal kebijakan pemahaman atas fungsi kebutuhan atas permasalahan yang sudah timbul, yakni permasalahan perumahan ini harus disosialisasikan sehingga dapat dipahami betapa pentingnya ini bagi masyarakat, baik kebutuhan psikologi maupun fisik.

“Keempat jika bicara institusional bicara anggaran kebijakan, pada saatnya karena permasalahannya sangat berat satu dasawarsa 2010-2020 terdapat 13,5 juta backlog di 2010, 2020 backlog 12,7 juta, artinya satu dasawarsa dengan instrumen yang sama hanya turunkan ngga lebih dari 10%,” ujar Joko.

Properti Jadi Proyek Strategis

Kepada Bergelora.com.di Jakarra dilaporkan, sebelumnya Joko Suranto mengungkapkan, industri properti di Tanah Air mampu cetak pertumbuhan positif di tahun 2023 lalu. Bahkan, kata dia, kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 14%.

Di sisi lain, dia mengakui, data backlog perumahan di Indonesia, selama lebih dari 1 dekade ternyata belum mengalami penurunan signifikan. Yaitu, dari 13,5 juta pada tahun 2013, jadi 12,7 juta saat ini (hasil survei tahun 2020). Data tersebut mengacu pada data survei BPS

“Alhamdulillah, sektor properti meski belum rebound, tapi masih ada pertumbuhan, masih sustain. Data menunjukkan kontribusi properti ke PDB sekarang diakui sebesar 14%. Ini pengakuan bagus, properti mengungkit ekonomi,” katanya dalam wawancara khusus Rabu (7/2/2024) silam.

Joko menuturkan, properti adalah sektor yang “memanaskan” perekonomian Indonesia. Di mana, ujarnya, ada 185 sub-sektor industri yang terkait dengan industri properti.

“Sektor ini menyerap banyak tenaga kerja dan juga akan mendorong pertumbuhan pendapatan bagi masyarakat yang saat ini mungkin masih bagian dari kelompok yang belum memiliki rumah yang 12,7 juta itu, atau koreksi hasil survei Susenas BPS tahun ini sudah jadi 9,9 juta,” sebutnya.

“Kalau melihat kinerja properti ini, maka sebenarnya kita bisa siapkan properti ini alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambah Joko.

Hanya saja, dia menambahkan, kinerja properti RI memang masih di bawah negara-negara tetangga.

Karena itulah, imbuh Joko, pihaknya menawarkan paradigma propertinomic kepada pemerintah, dan juga kepada para calon presiden (capres) yang akan bertarung pada Pemilu 2024 nanti.

“Kita tahu sektor properti di banyak negara, termasuk ASEAN, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand, semua sudah berkontribusi di atas 20% terhadap PDB-nya. Kita masih di 14%,” ujarnya.

“Artinya, kalau properti ini, dengan pasar yang masih besar, tercermin dari data backlog, seharusnya masih bisa berkontribusi lebih bagi ekonomi Indonesia,” tukas Joko. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru