Bahkan bukan hanya pesantren dan masjid namun semua rumah-rumah ibadah lainnya, gereja, vihara dan klenteng harus didorong menjadi pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat agar meringankan beban di puskesmas dan rumah sakit.
Oleh: Miftahiyah*
JAUH di masa Rasulullah SAW, masjid memiliki fungsi yang jauh lebih luas—menjadi pusat peradaban, penyelesaian masalah sosial, hingga penanganan kesehatan masyarakat.
Dari sejarah tersebut, Dakwah Kesehatan hadir sebagai inovasi untuk memakmurkan masjid sekaligus memberikan pelayanan nyata bagi warga sekitar.
Kesehatan adalah salah satu modal utama seseorang untuk beribadah secara optimal. Sayangnya, tidak semua warga di sekitar masjid memiliki akses yang mudah terhadap fasilitas kesehatan yang layak, baik secara geografis maupun finansial.
Melalui pendekatan ini, masjid bertransformasi dari tempat yang hanya didatangi saat adzan berkumandang, menjadi tempat yang dirindukan kehadirannya karena menjadi solusi atas permasalahan sehari-hari masyarakat.
Untuk mewujudkan masjid yang memakmurkan sekaligus menyehatkan, beberapa langkah dapat diterapkan:
- Layanan Kesehatan
Memanfaatkan ruang serbaguna masjid untuk membuka layanan pemeriksaan kesehatan gratis (cek tekanan darah, gula darah, dan kolesterol) bekerja sama dengan tenaga medis jamaah masjid yang kompeten semisal sebulan sekali.
- Â Layanan Ambulans Siaga Masjid
Menggalang dana infaq untuk pengadaan mobil ambulans atau kendaraan darurat beserta kelengkapannya yang siap mengantar warga sakit di sekitar masjid ke rumah sakit tanpa dipungut biaya.
Siti Fadilah dan Poskestren
Upaya untuk melakukan Dakwah Kesehatan dalam kebijakan pemerintah sudah pernah dilakukan oleh Menteri Kesehatan RI 2004-2005, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K)
Sudah saatnya pondok-pondok pesantren seluruh Indonesia ikut aktif kembali melayani kesehatan rakyat sekitarnya. seperti yang pernah aktif didorong oleh Menkes Siti Fadilah, Sp.JP(K) pada tahun 2006 sampai 2009.
Saya masih inget, di semua pondok pesantren berdiri Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) yang ramai dikunjungi masyarakat desa sekitar pesantren. Ini sangat dibutuhkan, apalagi saat ini, masyarakat di desa-desa pelosok masih sulit mendapatkan layanan kesehatan.
Upaya membangun membangun fasilitas kesehatan semacam puskesmas apalagi rumah-rumah sakit di desa-desa seluruh Indonesia, perlu biaya besar.
Menkes Siti Fadilah saat itu telah memberikan terobosan yang menjadi jalan keluar yang sangat strategis dengan mendirikan poskestren di setiap pondok pesantren.
Sayangnya setelah Menkes Siti Fadilah tidak lagi menjabat, program Poskestren berhenti di pondok-pondok itu. Padahal persoalan kesehatan semakin kompleks dan pemerintah tidak bisa jalan sendiri mengatasi persoalan.
Sesungguhnya masalah kesehatan adalah bukan hanya tanggung jawab pemerintah tapi seluruh rakyat Indonesia. Hal inilah yang menggerakkan perjuangan Menkes Siti Fadilah memberdayakan dan membangkitkan masyarakat terlibat dalam pelayanan kesehatan.
Selain Poskestren, Siti Fadilah juga mendorong berdirinya Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) dan program Desa Siaga. Semuanya berorintasi pada pemerataan layanan kesehatan untuk seluruh rakyat.
Sayangnya setelah para menteri yang mengantikan Siti Fadilah, tidak paham bagaimana melayani 200 an juta rakyat Indonesia. Akibatnya ya seperti hari ini. Orang kaya memilih berobat di luar negeri, orang miskin hanya bisa menunggu nasib.
Dari semua program Siti Fadilah, hanya DKR yang tersisa tetap mendampingi dan memperjuangkan hak kesehatan rakyat yang sakit.
Poskestren seharusnya bisa dibangkitkan kembali untuk ikut melayani rakyat. Agar Dakwah Kesehatan bisa kembali dimulai dari desa-desa yang tersiolir dan akhirnya sampai ke masjid-masjid seluruh Indonesia.
Bahkan bukan hanya pesantren dan masjid namun semua rumah-rumah ibadah lainnya, gereja, vihara dan klenteng harus didorong menjadi pusat-pusat layanan kesehatan masyarakat agar meringankan beban di puskesmas dan rumah sakit.
Sehingga masyarakat tidak kesulitan untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis yang berbasiskan kemampuan finansial rumah ibadah dan umatnya.
Siti Fadilah telah memulai dengam mendirikan Poskestren, adakah menteri kesehatan yang akan datang melanjutkan Dakwah Kesehatan sampai ke masjid dan rumah ibadah lainnya. Sehingga, umat merasakan manfaat nyata dari kehadiran setiap agama di Indonesia.
Alangkah lebih baik alokasi anggaran untuk pembangunan rumah-rumah sakit baru dialihkan untuk mendorong Dakwah Kesehatan di rumah-rumah ibadah.
——-
*Penulis.Miftahiyah dari Fatayat Nahlatul Ulama (NU) di Jawa Timur

