Selasa, 17 Mei 2022

EMANG BISA…? Erick Thohir Pastikan Indofarma Kembangkan Obat Herbal di Indonesia

JAKARTA- Selama ini Indonesia masih mengharapkan bahan obat dari negara luar, padahal potensi Indonesia untuk mengembangkan obat-instan sangat besar, apalagi obat herbal yang bisa ditemui bahannya di hampir setiap daerah di Indonesia.

Untuk menekan impor obat dari negara kuat, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memastikan pihaknya, lewat Indofarma akan mengembangkan produksi obat herbal.

“Indofarma, kita pastikan keberpihakan kepada herbal. Obat-obat herbal kita sangat kuat, tapi tidak pernah dibangun karena senangnya obat impor,” kata Erick saat melakukan kunjungan kerja di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (7/1/2022) kemarin.

Dikatakan Erick, alam Indonesia sangat mendukung bangsa ini menjadi pusat pengembangan obat herbal di dunia, dimana tanah yang subur, air dan sinar matahari yang berlimpah.

Jika industri herbal ini berjalan, maka kebiasaan impor bahan baku obat dari negara luar akan berhenti.

“Ini kita gabungkan menjadi satu kesatuan sekarang,” ucapnya.

Orang nomor satu di Kementerian BUMN ini juga akan menyatukan semua rumah sakit milik BUMN di Indonesia.

Pasalnya, sejauh ini rumah sakit milik BUMN masih terpisah, seperti Pertamina, Pelindo dan PTPN dan ke depan akan disatukan.

“Karena itu kita gabungkan. Rumah sakitnya tidak tanggung-tanggung, jumlahnya 73 rumah sakit. Total kapasitas tempat tidurnya hampir 7.000, terbesar di Indonesia,” ujarnya.

Satu di antara tujuan disatukannya rumah sakit Milik BUMN agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat itu terarah, terutama bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah.

“Karena pelayanan kesehatan buat masyarakat kalangan menengah dan ke bawah penting,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Erick Thohir juga menginformasikan bahwa pemerintah pusat lewat Kementerian BUMN baru meluncurkan RS Internasional di Bali, yang bekerja sama dengan Mayo Clinic, yang menangani kanker terbaik di dunia.

Dijelaskan Erick Thohir, apabila RS di Bali berhasil maka pihaknya mungkin mengembangkan kawasan ekonomi kesehatan di Sumatera dan Sulawesi.

“Supaya ketahanan kesehatan kita bisa,” jelasnya.

Menurut Erick Thohir, langkah membangun RS internasional di Bali untuk memudahkan masyarakat Indonesia berobat, dan tidak akan berobat ke luar negeri lagi.

Buat dia, ini bukan anti asing dan antinegara tetangga, tetapi Indonesia harus mandiri.

“Ayo tetap bangun ekonomi kita. Tapi saya titip, musti lebih mandiri supaya mengurangi ketergantungan kita dengan negara lain,” pungkasnya.

Dengan mengembangkan industri sendiri di Tanah Air, maka akan tercipta lapangan kerja dan demikian pula kesempatan berusaha, agar sumber daya alam Indonesia digunakan untuk pertumbuhan ekonomi bangsa.

Pasar Industri Farmasi Global

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, sementara itu bamyak kalangan meragukan niat pemerintah untuk mengembangkan obat dari herbal. Hal ini mengingat Indonesia dengam 270 juta rakyatnya selama ini telah menjadi pasar buat obat dan alat kesehatan produk industri farmasi global.

“Pasar obat dan alat kesehatan Indonesia sudah puluhan tahun menjadi milik perusahaan farmasi global dan kaki tangannya di Indonesia. Apa mungkin farmasi global berani bersaing dengan herbal dalam negeri,” ujar Andteas Nur dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jawa Tengah.

Menurutnya mainset masyarakat Indonesia dari kalangam atas sampai rakyat pedesaan telah dihegemoni oleh kepentingan pasar industri kesehatan global’ ujarnya.

“Jadi pernyataan pemerintah diatas membutuhkan political will yang kuat. Tidak hanya menjadi keinginan kosong, namun tak bisa dilaksanakan. Jangan sampai hanya sekedar proyek membobol APBN semata,” tegasnya (Calvin G. Eben-Haezer)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,182PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru