Jumat, 14 Juni 2024

Hatta-Riza Rugikan Negara Rp 36 Triliun

JAKARTA – Saat-saat akhir kekuasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hendaknya mengabdi penuh kepada rakyat, yaitu dengan memutus rantai mafia di berbagai bidang, terutama mafia minyak dan gas (migas) oleh Mafia Migas Hatta Radjasa dan Muhammad Riza Chalid yang merampok rakyat sedikitnya Rp 100 miliar per hari atau Rp 36 triliun per tahun.

“Memberantas mafia migas, bagi SBY juga merupakan bukti valid bahwa SBY yang selama ini diduga sebagai ‘pelindung’ mafia migas, adalah tidak benar. Hanya satu cara, SBY mengadukan mafia migas ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),” ujar Ferdinand Hutahayan, Solidaritas Kerakyatan Khusus Migas (SKK Migas), kepada Bergelora.com dalam aksi di depan Istana, Jakarta, Selasa (10/6).

Menurutnya, selama ini Indonesia terus bergantung pada bahan bakar minyak (bbm) impor, sengaja tidak mendirikan kilang pengolahan, hanya supaya impor jalan terus dan komisi diperoleh mafia.

Menurut penelusuran SKK Migas, mafia Hatta-Riza bukan hanya impor bbm untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi cengkeraman luas dalam seluruh bisnis ekspor-impor migas di Indonesia, termasuk pembagian ladang minyak kepada perusahaan asing.

“Siapa yang menjadi direksi dan komisaris di Pertamina, juga keluar dari kantong mafia. SBY gagal membasmi mafia migas, malah menyuburkan. Ini jadi pertanyaan, SBY tahu tetapi tidak dibasmi,” kata Ferdinand Hutahayan. 

SKK Migas berharap, di detik-detik akhir kekuasaan, saatnya bagi SBY untuk mendahulukan kepentingan bangsa ke depan. 

“SBY doktor ekonomi. Mosok dalam 10 tahun berkuasa tidak mendirikan pengolahan minyak yang bisa memasok kebutuhan dalam negeri, kenapa? Silakan dijawab oleh SBY,” tukas Ferdinand.
 
Ia menjelaskan, mafia Kakap
Migas di Indonesia legendaris sejak jaman Orde Baru adalah Riza, yang kini “mempekerjakan” Hatta Radjasa sebagai hulu-balang. Mafia mengendalikan Pertamina Trading Energy Ltd (Petral), anak perusahan Pertamina yang bergerak dalam perdagangan minyak. Tugas utama Petral adalah menjamin supply minyak kebutuhan Pertamina/Indonesia dengan cara impor.
  
Nilai impor oleh yang sedikitnya Rp 300 triliun per tahun, sejak lama diatur mafia, yaitu Muhammad Riza Chalid. 

Pengamat kebijakan publik Ichsanuddin Noorsy pernah mengatakan, Riza sudah dikenal sebagai mafia minyak sejak era Soeharto. Riza powerful, mengatur berbagai transaksi.
  
Riza menguasai Petral selama puluhan tahun melalui kerja sama dengan lima broker minyak: Supreme Energy, Orion Oil, Paramount Petro, Straits Oil dan Cosmic Petrolium — berbasis di Singapore, terdaftar di Virgin Island (negara yang bebas pajak). Kelima perusahaan inilah mitra utama Pertamina/Petral. Tender, hanya formalitas, yang menang adalah anggota “pasukan lima.” 
Nama Riza tidak tercantum dalam akte Global Energy Resources, yang tersurat dalam kepengurusan adalah Iwan Prakoso (WNI), Wong Fok Choy dan Fernadez P Charles. Namun sesungguhnya, pengendali adalah Riza. Akan halnya Hatta Radjasa, 10 tahun ini sebagai “kaki tangan” Riza.
  
Ferdinand Hutahayan menjelaskan, Riza mengatur agar Indonesia bergantung pada bbm impor yang sedikitnya 200 juta barel per tahun. Kelompok Riza selalu menghalangi pembangunan kilang pengolahan bbm dan perbaikan kilang minyak di Indonesia. Kenapa, supaya impor bbm terus berlangsung, sehingga Riza cs memperoleh untung besar.
 
“Mark Up Harga
Harga beli minyak mentah Petral sepanjang tahun 2011 rata-rata US$ 113,95/barel. Padahal, harga rata-rata minyak dunia jenis brent (kualitas baik) pada tahun 2011 hanya US$ 80-100/barel, di mana harga tertinggi US$ 124/barel.
Ada mark up harga oleh Petral minimal sebesar US$ 5 /barel. Jika diaudit lebih rinci, mark up bisa sampai USD 30/barel,” jelasnya. 

Mafia minyak mengatur untuk membeli minyak mentah dari Arab dan Afrika, lalu diolah di kilang Singapura, baru diekspor ke Indonesia.

Meski ada indikasi terjadi mark up, menurut 
Ichsanuddin Noorsy, sulit mencari auditor yang bisa kita percaya bahwa ada mark up US$ 5 per barel. 
            
Lalu, siapakah Muhammad Riza Chalid? Dia adalah WNI keturunan Arab yang dulu dikenal dekat dengan Keluarga Cendana. Riza, pria berusia 55 tahun ini disebut-sebut sebagai “penguasa abadi”  dalam bisnis impor minyak RI. Dulu dia akrab dengan Suharto, kini “merapat” ke SBY dan Hatta Radjasa.

“Dirut Pertamina akan gemetar dan tunduk jika bertemu Riza. Siapa pun pejabat Pertamina yang melawan kehendak Riza, akan lenyap alias terpental. Termasuk Ari Soemarno, Dirut Pertamina yang tiba-tiba dipecat,” papar Ferdinand Hutahayan.

Ari Soemarno dulu menurutnya terpental dari jabatan Dirut Pertamina, hanya karena hendak memindahkan kantor pusat Petral dari Singapura ke Batam. Riza tidak setuju, maka Ari pun dipecat. 

Jika Petral berkedudukan di Batam, Indonesia, pemerintah dan masyarakat akan lebih mudah mengawasi operasional Petral yang terkenal korup. Ini yang dicegah Riza.
Kalangan perusahaan dan broker minyak internasional mengakui kehebatan Riza sebagai God Father bisnis impor minyak Indonesia. Di Singapura, Riza dijuluki sebagai Gasoline God Father, sebab lebih separuh impor minyak RI dikuasai Riza. Tidak ada yang berani melawannya.

Beberapa waktu lalu Global Energy Resources, perusahaan milik Riza pernah diusut karena temuan penyimpangan laporan penawaran minyak impor ke Pertamina. Tapi kasus tersebut hilang tak berbekas, para penyidik pun diam tak bersuara. Kasus ditutup. Padahal itu diduga hanya sebagian kecil saja.

Menurut Ferdinand Hutahayan, Hatta Rajasa adalah tokoh yang berada di belakang Riza. Menurut Majalah Forum Keadilan, dalam menjalankan operasinya, Riza-Hatta melakuan segala cara.
            
“Hatta dan Riza adalah mafia yang merekomendasikan 60 persen jago-jagonya sebagai anggota Kabinet Presiden SBY. Semua biaya, dari Riza,” demikian Ferdinand Hutahayan. (Dian Dharma Tungga)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru