Judul Buku : Jiwa -Jiwa Bermesin. Memoar Para Pasien Cuci Darah.
Pengarang : Petrus Hariyanto.
Penerbit : Istana Media.
Tahun Terbit : 2019. Jumlah Halaman : 200 halaman
Oleh: Wawan Arif*
TULISAN ini bercerita tentang kehidupan para pasien cuci darah (Penderita Gagal Ginjal Kronik). Sekitar 33 orang, termasuk sang penulis, kisahnya ditulis dalam buku ini.
Kehidupan para pasien cuci darah belum lah banyak diketahui publik. Melalui buku ini, penulis ingin menghadirkan sisi kehidupan para pasien penyandang gagal ginjal itu ke masyarakat luas.
Diawal menjalani proses hemodialisa, banyak diantara mereka
mengalami goncangan psikologis. Cuci darah bagi mereka sangat menakutkan, bahkan berpikir diri mereka sangat dekat dengan kematian. Mereka juga berpikir massa depan akan runtuh. Mereka menjadi terpuruk dan meratapi nasibnya. Tak jarang diantara mereka bahkan menyalahkan Sang Pencipta atas kondisinya kini.
Momen yang krusial, bila mampu mengatasi tekanan psikologis, cepat bangkit, kehidupan akan tetap berjalan. Namun, tak sedikit diantaranya harus merenggang nyawa karena tak kuasa menghadapi beratnya tekanan psikologi.
Yang bertahan pun, kemudian akan menghadapi kenyataan pahitnya kehidupan sebagai orang yang telah kehilangan fungsi ginjalnya. Sering mengalami drop, Hb (homoglobine)sering turun, keluar masuk UGD bahkan ICU. Sering bolos kerja, akhirnya PHK menanti. Ditinggal istri atau suami, karena produktifitasnya menurun. Pasangan hidupnya meninggalkannya karena tak tahan harus merawat orang sakit seumur hidup.
Kisah haru birunya para pasien cuci darah ini direkam oleh sang penulis. Begitu detail dan menyentuh.
Tetapi, menurut sang penulis buku yang ditulisnya tidak bermaksud bercerita tentang kesedihan, justru ingin menyampaikan pesan tentang ketegaran, ketabahan, ketulusan, dan semangat yang luar biasa dari para pasien cuci darah dan pendampingnya.
Seperti kisah Amri Lawu Trenggono (sudah almarhum), seorang pria masih muda, dengan satu anak ini, tetap bisa naik gunung dan beraktivitas di alam terbuka walau rutin menjalani hemodialisa dengan terapi CAPD.
Menurutnya, fisiknya yang masih prima itu karena dia pasien yang patuh. “Saya cukup mampu membatasi asupan makanan dan minuman, dan rajin minum obat yang diberikan,” ungkap.
Tetapi yang paling penting adalah pandangan hidupnya dalam menghadapi kenyataan yang harus dilakoninya kini. Takdir hidup Ambri telah mendewasakan dirinya. Ia semakin memahami kalau hidup terlalu berharga jika hanya digunakan untuk menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan.
Adalah David berpacaran dengan seorang perempuan sejak tahun 2012. Cintanya diuji ketika sang pacar, pegawai salah satu Puskesmas di Tangerang harus cuci darah pada tahun 2013.
Ia tetap setia berpacaran dan menjadi pendamping bagi pacarnya dalam menjalani hidup sebagai pasien cuci darah. Ketika ia menikahi sang pacar, tak berapa lama istrinya meninggal. Hanya sempat beberapa jam bulan madu dengan makan bubur di Monas. Selebihnya, David menunggui istrinya yang mengalami koma. Akhirnya, dirinya lah yang mengantarkan istrinya ke tempat peristirahatannya terakhir.
Satu ginjalnya rela dilepas perempuan ini untuk diberikan ke tubuh suaminya. Ia memberi dengan begitu suka rela, dan dengan hati yang begitu tulus.
Pengorbanannya kini tak sia-sia karena sang suami kembali sehat. Anak semata wayang mereka semakin tambah bahagia karena sang ayah bisa menyanyangi dirinya, seperti ayah-ayah lainnya, yang tubuhnya sehat.
Kisah-kisah dalam buku ini telah memberi teladan. Mengajak pasien gagal ginjal untuk tidak berlarut-larut meratapi nasibnya. Mereka harus bangkit dan melanjutkan hidup.
Dalam kondisi sakitnya, mereka juga harus berperan dalam mengisi kehidupan. Salah satunya aktif dalam komunitas. Selain berjuang untuk kepentingan pasien, mereka juga memikirkan saudara-saudaranya yang masih sehat. Giat berkampanye tentang kesehatan ginjal, agar banyak jiwa-jiwa tertolong, agar hidupnya tidak bergantung kepada mesin pengganti ginjal.
*Direktur Penerbit Istana Media