Rabu, 18 Mei 2022

JADI GIMANA…? Ketum PBNU Endus Ada Gerakan Targetkan Jokowi: Mereka Bikin Repot, Tak Ada Akhlak!

JAKARTA- Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Sirodj mengaku sudah mengetahui adanya gerakan politik yang ingin mengganggu pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi.

Said Aqil menjelaskan, adapun target dari gerakan politik itu tak lain ingin menggagalkan berbagai program atau kebijakan yang dibuat pemerintah, khususnya terkait penanganan badai Pandemi Covid-19 yang sulit ditekan. Di samping itu, gerakan politis ini bertujuan untuk mengganggu jalannya program pemerintah.

Pernyataan itu diungkapkannya dalam sebuah acara dialog virtual antara Kemenko Polhukam Mahfud MD dengan PBNU yang diselenggarakan pada hari Selasa, 27 Juli 2021.

Pada kesempatan itu, mulanya Said Aqil mengisahkan tentang pandangan masyarakat terhadap pemerintah setelah Korupsi Bansos Covid-19 yang melibatkan Mensos Juliari Batubara terungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Tokoh NU ini menjelaskan, saat ini sudah mulai ada gerakan berbau politik yang tujuannya menggangu pemerintahan Presiden Jokowi dan menteri-menteri di kabinetnya.

“Sekarang sudah mulai ada sih gerakan yang berbau politis. Targetnya ganggu, ya. Ngerecoki keberlangsungan pemerintahan pak Jokowi dan para menteri-menterinya ini,” kata Said Aqil dalam saluran Youtube Kemenko Polhukam, dikutip Hops dari Akurat paa Kamis, 29 Juli 2021.

Tak Bisa dijatuhkan, Tapi Dibikin Repot

Kepada Bergelora.com dilaporkan, Said Aqil memaparkan para pelaku gerakan politik ini tahu bahwa Presiden Jokowi tidak bisa dijatuhkan di tengah jalan.

Hal itu lantaran sistem pemerintahan saat ini yakni presidensial bukan sistem parlementer. Sehingga, upaya menjatuhkan lewat kekuatan parlemen mustahil tercapai.

Makanya, kata Said Aqil mereka menganggu pemerintahan dengan membuat repot melalui berbagai cara.

“Yang sebenarnya mereka tahu itu tidak mudah, tidak gampang karena kita sistemnya presidensial, bukan parlementer. Tapi minimal mereka bikin repotlah,” katanya.

“Supaya gagal, tidak berhasil dalam hal program-programnya walaupun mereka tau pak Jokowi tidak mungkin dilengserkan di tengah jalan,” sambungnya.

Orang NU tak mungkin buat gerakan politik semacam ini

Kemudian dia mengklaim, gerakan-gerakan politik semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang simpatisan NU.

Sebab, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia ini punya pengalaman pahit saat Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden di tengah jalan.

Kala itu peristiwa pelengseran Gus Dur terjadi pada 23 Juli 2001 silam, dan merupakan pengalaman pahit bagi warga NU.

“Peristiwa pelengseran itu catatan yang sangat pahit bagi NU yang tidak mungkin warga NU akan melakukan itu. Hanya 23 bulan Gus Dur terus dilengserkan. Itu pelajaran bagi kita. Kita tidak akan melakukan itu kecuali ada pelanggaran yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila dan sebagainya,” paparnya.

Komisaris Utama PT KAI ini mengimbau kepada masyarakat, di tengah kesulitan berat yang dialami pemerintah saat ini, seharusnya tujuan-tujuan politis harus dikesampingkan.

Dia juga mengingatkan agar partai koalisi maupun partai oposisi di DPR juga harus bergandengan tangan menghadapi wabah pandemi saat ini.

“Karena tidak mungkin hanya satu pihak (menghadapi pandemi). Jangan sampai malah ini dibikin kesempatan untuk tujuan-tujuan target politik. Tidak etis. Tidak berakhlak, tidak berfatsun, tidak bermoral orang yang melakukan agenda-agenda politik itu di saat-saat yang sangat gawat ini,” imbuhnya. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,184PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru