JAKARTA- Anggota DPR-RI Faisol Riza menyurati Ketua DPR-RI dan Presiden RI Joko Widodo mempertanyakan rekomendasi DPR-RI yang belum dijalankan oleh pemerintah sehubungan dengan pencarian korban penculikan Tim Mawar bentukan Prabowo Subianto pada tahun 1997 lalu. Hal ini disampaikan Faisol Reza dalam akun Facebooknya Faisol Riza Kamis (24/1) malam pukul 18.50.
“Akhirnya saya memutuskan sebagai anggota DPR RI menulis surat kepada Ketua DPR RI dan Presiden RI, menanyakan mengapa rekomendasi DPR RI ini belum dijalankan oleh Pemerintah,” katanya.
Faisol Riza menjelaskan bahwa hal ini dilakukannya bukan semata-mata untuk kepentingan mendukung Jokowi Ma’aruf, tapi juga mendesak keseriusan pemerintah untuk menindak lanjuti secara serius keputusan dan rekomendasi DPR terhadap kasus penculikan tersebut.
“Tadi sore saya kirimkan surat kepada Ketua DPR RI dan insya Allah besok kepada Presiden RI. Mudah-mudahan cara ini akan membuka lagi Kasus Penghilangan Orang Secara Paksa 1997/1998,” tegasnya.
Menurutnya, tidak semestinya keputusan dan rekomendasi DPR RI terhadap kasus penculikan yang telah mengorbankan nyawa beberapa orang kawan aktivisnya ditutup begitu saja oleh pemerintah sebelum Presiden Joko Widodo.
“Saya merenung berhari-hari. Memeriksa bermacam dokumen kasus penculikan. Meminta pertimbangan korban selamat lainnya. Berkomunikasi dengan keluarga korban. Bertanya kepada ibu saya apakah beliau rela. (Saya-red) juga berdoa,” ujarnya.
Ia berharap dukungan semua pihak atas upaya yang dilakukannya agar ada kejelasan dan tanggung jawab pemerintah atas rekomendasi DPR-RI tentang kasus penculikan yang juga menimpa dirinya.
“Mohon doa dan dukungannya untuk menemukan teman-teman saya yang masih hilang, penegakan HAM dan menjaga wibawa lembaga negara DPR RI,” tegasnya.
Korban Penculikan
Faisol Reza adalah salah satu dari korban penculikan yang dibebaskan oleh penculik bersama beberapa orang lainnya. Selain Faisol Reza, beberapa pimpinan PRD yang yang juga diculik tapi kemudian dibebaskan adalah Nezar Patria,–yang saat ini memimpin Harian The Jakarta Post; Andi Arief,–saat ini Sekretaris Jenderal Partai Demokrat; Aan Rusdianto,–saat ini kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Mugianto Sipin,–pimpinan Lembaga International NGO Forum On Indonesian Development (INFID) dan Raharjo Waluyo Jati yang saat ini aktif sabagai budayawan.
Selain pimpinan PRD, beberapa aktivis yang juga menjadi korban penculikan Prabowo Subianto dan dibebaskan adalah Hendrik Dikson Sirait, pimpinan PIJAR yang saat ini menjadi salah seorang komisaris BUMN dan pimpinan relawan Almisbat. Aktivis ALDERA (Aliansi Demokrasi Rakyat) yaitu Pius Lustrilanang dan Desmond Junaidi Mahendra juga ikut diculik Prabowo Subianto dan sekarang menjadi anggota DPR dari Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto juga. Almarhum HarjantoTaslam, salah satu pimpinan PDI Pro Megawati saat itu juga ikut diculik dan dibebaskan.
Masih Hilang
Sementara itu masih ada 13 aktivis yang masih hilang diculik Tim Mawar, Kopassus,—yang menurut Prabowo Subianto atas perintah Presiden Soeharto saat itu. Mereka yang masih hilang belum kembali berasal dari berbagai organisasi, seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD), PDI Pro Mega, Mega Bintang, dan mahasiswa adalah:
- Petrus Bima Anugrah (mahasiswa Universitas Airlangga dan STF Driyakara, aktivis SMID/PRD. Hilang di Jakarta pada 30 Maret 1998)
- Herman Hendrawan (mahasiswa Universitas Airlangga, hilang setelah konferensi pers KNPD di YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998)
- Suyat (aktivis SMID/PRD, hilang di Solo pada 12 Februari 1998)
- Wiji Thukul (penyair, aktivis JAKER/PRD, hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998)
- Yani Afri (sopir, pendukung PDI Megawati, ikut koalisi Mega Bintang dalam Pemilu 1997, sempat ditahan di Makodim Jakarta Utara, hilang di Jakarta pada 26 april 1997)
- Sonny (sopir, teman Yani Afri, pendukung PDI Megawati. hilang diJakarta pada 26 April 1997)
- Dedi Hamdun (pengusaha, aktif di PPP dan dalam kampanye 1997 Mega-Bintang, hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)
- Noval Al Katiri (pengusaha, teman Deddy Hamdun, aktivis PPP, hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)
- Ismail (sopir Deddy Hamdun, hilang di Jakarta pada 29 Mei 1997)
- Ucok Mundandar Siahaan (mahasiswa Perbanas, diculik saat kerusuhan 14 Mei 1998 di Jakarta)
- Hendra Hambali (siswa SMU, raib saat kerusuhan di Glodok, Jakarta, 15 Mei 1998)
- Yadin Muhidin (alumnus Sekolah Pelayaran, sempat ditahan Polres Jakarta Utara, hilang di Jakarta pada 14 Mei 1998)
- Abdun Nasser (kontraktor, hilang saat kerusuhan 14 Mei 1998, Jakarta (Web Warouw)

