JAKARTA- Paguyuban alumni Swara Mahardikka (SM) mempersembahkan Buku dan Pameran 40 tahun Swara Maharddika Paguyuban Alumni Swara Maharddika mempersembahkan buku dan pameran 40 tahun Swara Maharddika yang diluncurkan pada tanggal 5 Februari 2018. Pameran dibuka untuk umum mulai tanggal 6-8 Februari 2018 di Museum Mandiri Jakarta.
Swara Maharddhika bermula dari kelompok grup vokal beberapa SMA yang diresmikan pada 1977. Dalam perjalanannya SM telah meninggalkan jejak dalam seni panggung hiburan di Indonesia. Bukan hal yang lazim diketahui masyarakat luas, terutama generasi sekarang, bahwa Swara Maharddhika tidak hanya sekadar mengangkat seni tari, seni musik, dan seni peran ke atas panggung melainkan sebuah paguyuban seni remaja yang telah membuka mata banyak anggotanya (dari angkatan I – XII) akan kayanya seni tradisional Indonesia, bagaimana menghargai dan mencintai Indonesia melalui seni, dan yang paling penting berhasil membentuk pribadi anggotaanggotanya menjadi tangguh, luwes, nasionalis, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.
Sebut saja anggota yang sukses dibidangnya; Denny Malik, Soraya Haque, Marissa Haque, Titi DJ, Memes, Ati Ganda, Irianti Erningpraja, Restu Iman Sari, Ai Syarif, Harry de Fretes, Kris Soewardjo, Andri Sentanu, Rama Soeprapto, Sitta Chirana, Elmo Hillyawan, Benny Rahardjo, Trisna Chandra Idham, Benny Adrianto, Yunita Ayu Kemala, Jazz Pasay, Ibnu Faisal, Fani Wiryawan. Tanpa Swara Maharddhika tidak akan ada Guruh yang produktif berkarya. Sebaliknya, Swara Maharddhika juga tidak akan ada tanpa Guruh Sukarno Putra.
Semua itu berawal ketika pada 1976 sekelompok murid SMA 4—yang terdiri dari Sisi, Mauli, Nana, Nanda, Intan, Kiki, Rio, Hendro, dan Barin dengan pelatih Johnny Lantang—membentuk grup vokal. Kegiatan remaja Jakarta ketika itu sangat terbatas, minim mal, berkutat di jadi “anak band”, “geng-geng-an”, bikin pemancar radio, atau paling tidak “gitar-an” yang akhirnya membentuk grup vokal. Paling hanya pergi ke Ancol atau Taman Mini pada akhir minggu. Bioskop? Hanya segelintir dan siaran TV baru mulai pukul 18:00 habis pukul 23:00.
Hiburan anak muda yang paling mudah dijangkau adalah mendengarkan radio. Siang hari selesai sekolah adalah waktu luang yang panjang sekali untuk anak muda. Setelah SM resmi berdiri, latihan rutin diadakan setiap hari Minggu dengan jumlah anggota tidak lebih dari 30 orang. Saat berlatih, bukan hanya menari dan menyanyi saja yang diajarkan, mereka pun melakukan banyak diskusi.
Buku-buku yang berderet-deret di Rumah Sriwijaya dijadikan santapan wajib bagi para anggota, mulai dari buku negarawan seperti Gandhi dan Mao Ze 2 Dong, filsafat spiritual seperti Swami Vivekanda, Al Ghazali, sampai buku susastra Jawa/Kejawen, ‘Kalangwan’. Satu buku terpenting yang harus mereka lahap adalah buku ajaran Bung Karno, terutama yang membahas Pancasila dan kemerdekaan. Anggota wajib berbudaya dan memiliki wawasan luas; menggali lebih dalam dan bukan hanya meniru. Perdebatan politik atau idealisme menjadi pemandangan biasa.
Anggota yang awalnya tidak mengerti, mulai merasa penasaran, kemudian akhirnya ikut terlibat. Berkesenian dan menghasilkan karya seni menjadi lebih menyenangkan, ketika semua pemikiran kurang-lebih berangkat dari ketinggian yang sama.
Di Swara Maharddhika, kebebasan berpikir dan berekspresi memang diutamakan, tetapi semua itu dijalankan dalam disiplin yang terpimpin, toleransi, dan tata krama yang sudah dibentuk sejak sebelum pergelaran I. Ketika waktunya makan, akan terlihat antrean menunggu giliran mengambil makanan. Semua anggota makan dan minum dengan tertib menggunakan piring dan gelas kaleng yang seragam. Selesai makan, setiap orang mencuci alat makannya masing-masing. Hal yang sama juga dilakukan selesai latihan, sebelum pulang, ruangan disapu, dipel, dan sampah yang berserakan dibuang tanpa ada yang memerintah. Semua berjalan otomatis, seperti layaknya orang Jepang, padahal budaya antre di Jakarta saja baru digalakkan awal 1980-an, kecuali tentara.
Anggota juga dididik untuk berani tampil dan berbicara di muka umum. Tata krama terutama antar-sesama anggota baik yang lebih tua, yang lebih muda, maupun tamu amat dijunjung tinggi, unggah-ungguhnya jelas. Kelak, berbagai tamu dan guru datang untuk berbagi ilmu dan pengalaman: guru tari, guru musik, komposer, perancang busana, dan para seniman Indonesia. Para anggota pun dilatih untuk membukakan pintu, duduk, dan berbicara dengan sopan santun. Kebiasaan ini diakui semua anggota terbawa ke rumah, bahkan sampai sekarang. Tempaan yang keras dirasa harus diberlakukan kepada anggota maupun calon anggota SM, sebab seni panggung adalah seni yang menuntut rasa percaya diri dan mental yang kuat.
Setiap hari-hari besar negara, yang berhubungan dengan nasionalisme, maka para anggota akan diminta menyampaikan pendapat secara tertulis kemudian diterbitkan dalam buletin atau koran internal. Topiknya bermacam-macam, mulai dari Sumpah Pemuda, mempertahankan kemerdekaan melalui seni, sampai teguran ketidakseriusan kala menyanyikan lagu wajib waktu upacara bendera.
Remaja-remaja belia yang telah “makan endok-teri-nasi” dari Rumah Sriwijaya dengan kritis menyampaikan pendapat mereka mengenai kebangsaan dan generasi muda. Tidak sedikit yang berpendapat pedas bahwa generasi muda kala itu sama sekali tidak peduli kepada negara dan tidak menghargai sejarah karena kurangnya bimbingan dari generasi tua. Oleh karena itu mereka melihat bahwa Swara Maharddhika merupakan suatu paguyuban yang tepat karena telah berusaha mencetak tunas-tunas bangsa sejati.
Nasionalisme dan patriotisme juga selalu menjadi warna utama yang tebal pada setiap ulang tahun Swara Maharddhika. Biasanya sore hari dimulai dengan upacara bendera, lengkap dengan inspektur dan komandan upacara. Menyanyikan “Indonesia Raya”, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, dilanjutkan lagu “Mars Swara Maharddhika”, pembacaan Ikrar Swara Maharddhika, dan seterusnya.
Selain segala sesuatu yang berhubungan dengan Indonesia, anggota SM juga dilatih untuk fasih dalam soal seni budaya tradisional Indonesia. Mulai dari cara mengenakan kostum tradisional, sampai belajar berbagai tarian dan alat musik daerah. Sehari-hari pun terutama untuk anggota perempuan diharuskan mengenakan jarit. Walau terlihat tidak lazim, tetapi anggota merasa bangga bahkan sampai ikut mempengaruhi tren anak muda kala itu. Singkat kata, Swara Maharddhika jika dicermati secara objektif, fakta menunjukkan bahwa SM ikut berperan dalam sejarah seni budaya Indonesia.
Tuhan telah menghendaki Swara Maharddhika untuk turut memberi corak, warna dan gaya yang khas pada seni budaya Indonesia. Walaupun sudah lebih 35 tahun SM tidak lagi mentas, namun gaungnya masih tetap terasa hingga sekarang dan masih dijadikan panutan untuk banyak insan kreatif.
Berbagai pengalaman telah diraih oleh anggota Swara Maharddhika, hingga mereka sepakat untuk mengabadikan kiprah suatu paguyuban seni remaja di Jakarta yang telah berhasil memberikan pembaruan seni budaya pada masanya, ditampilkan secara modern maupun kontemporer namun dengan aroma akar budaya Indonesia nan kental serta melekat kuat dalam bentuk buku dan pameran.
Peluncuran Buku dan Pameran 40 tahun Swara Maharddika yang akan dihelat pada tanggal 5 Februari 2018 bertempat di Museum Mandiri. Jl. Lapangan Stasiun No. 1, RT. 3 / RW. 6, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat. Pukul 12.00. (Enrico N. Abdielli)

