Senin, 20 April 2026

TETAP MENYALA..! Lintas Generasi Aktivis Solo: Dari Nostalgia Perjuangan hingga Komitmen Menjaga Api Reformasi

SOLO – Hangatnya suasana Halalbihalal dan silaturahmi aktivis solo lintas generasi menyatu dengan semangat yang belum padam pada Sabtu, 18 April 2026 lalu di Cafedangan – Manahan – Solo. Malam itu, eksponen pejuang demokrasi yang biasanya tersebar di berbagai lini menggelar pertemuan bertajuk “Halal Bihalal Aktivis Solo Lintas Generasi: Merajut Simpul, Mempererat Perjuangan, Menjaga Nyala Api Reformasi” ini digelar bukan sekadar untuk bersalam-salaman, melainkan untuk meneguhkan kembali posisi tawar rakyat di tengah situasi politik nasional yang kian kompleks.

Kondisi perpolitikan di nasional yang dirasa kian pragmatis, isu pelemahan institusi demokrasi, hingga pergeseran arah reformasi yang mulai dipertanyakan, menjadi latar belakang kuat mengapa pertemuan ini dianggap krusial. Solo, sebagai kota yang secara historis memiliki DNA pergerakan yang kuat, kembali menunjukkan taringnya melalui konsolidasi moral para aktivisnya.

Suasana sebuah pertemuan di sudut Kota Solo malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar reuni biasa, ruang tersebut sesak oleh kehadiran wajah-wajah yang selama puluhan tahun mewarnai jalanan dan mimbar bebas di Kota Bengawan.

Dari tokoh pergerakan medio 90-an hingga aktivis mahasiswa kontemporer, mereka melebur dalam tajuk “Merajut Simpul, Mempererat Perjuangan, Menjaga Nyala Api Reformasi.”

Prijo Wasono, salah satu penggagas acara yang hadir, menegaskan bahwa momentum Halal Bihalal ini adalah saat yang tepat untuk melakukan “recharge” semangat. Menurutnya, kegaduhan di tingkat elit nasional tidak boleh membuat gerakan akar rumput kehilangan arah.

“Kita melihat dinamika di nasional begitu dinamis, kadang mengkhawatirkan bagi masa depan demokrasi. Namun di sini, di Solo, kita ingin menunjukkan bahwa api reformasi itu tidak boleh padam. Kita merajut kembali simpul-simpul yang ada karena perjuangan menjaga tetap setia di garis kerakyatan itu kerja jangka panjang, bukan musiman,” ujar Prijo di sela-sela acara.

Nuansa acara berlangsung cair namun sarat makna. Lagu-lagu perjuangan seperti Darah Juang yang dinyanyikan bersama sempat membuat suasana haru, sebelum akhirnya mencair kembali saat beberapa aktivis naik panggung membawakan lagu-lagu santai yang mengundang tawa dan tepuk tangan.

Senada dengan Prijo, Catur Budi Santosa menyoroti pentingnya regenerasi dan konsistensi dalam mengawal nilai-nilai reformasi. Bagi Catur, pertemuan lintas generasi ini adalah kunci agar sejarah perjuangan di Solo tidak terputus.

“Tema kita jelas, menjaga nyala api reformasi. Artinya, apa yang kita perjuangkan dulu jangan sampai tergerus oleh pragmatisme politik hari ini. Lewat forum seperti ini, yang tua berbagi pengalaman, yang muda membawa energi baru. Kita ingin memastikan bahwa aktivis Solo tetap satu barisan dalam menjaga nalar kritis terhadap kekuasaan,” tegas Catur Budi Santosa.

Acara yang diisi dengan orasi-orasi singkat namun tajam dari Habib demo, Farid Assegaf, Bagong Mahendra dari Kaum Miskin Kota Solo, Tokoh agama Tresno Subagyo hngga dalang kondang Ki Jlitheng Suparman. Acara ditutup dengan sesi ramah tamah. Meski dibalut dalam suasana Idulfitri yang penuh maaf, pesan yang dibawa pulang para peserta sangat terang: aktivis Solo tetap ada, tetap terjaga, dan siap menjadi pengawal demokrasi di tengah ketidakpastian politik nasional.

Di akhir acara, Prijo Wasono kembali naik ke mimbar untuk memberikan pesan pamungkas, ia melayangkan sebuah usulan monumental sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah.

“Bulan depan, kita akan melewati Momentum Reformasi di bulan Mei, Saya berharap bukan sekadar lembaran kalender yang akan kita lewati begitu saja. Saya mengajak kawan-kawan semua, mari kita gagas bersama mulai sekarang untuk memperingati Hari Perjuangan Demokrasi,” pada tanggal 21 Mei di Solo, seru Prijo,

Ia menekankan peringatan ini bukan sebagai bentuk romantisme masa lalu, melainkan harus menjadi pengingat bahwa demokrasi adalah kerja kolaboratif yang tak pernah usai.

“Mei harus menjadi alarm bagi kita semua bahwa demokrasi ini ditebus dengan harga yang sangat mahal. Ini bukan hanya milik aktivis, tapi milik semua pihak—rakyat, pemuda, dan seluruh elemen bangsa—yang harus terlibat aktif menjaganya agar tidak kembali ke titik nadir,” pungkasnya menutup rangkaian acara. (Andreas Nur)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles