Rabu, 12 Juni 2024

MANA PENELITIANNYA..? Menkes Sebut Efek Samping Vaksin AstraZeneca Terjadi di Wilayah Jarang Sinar Matahari

JAKARTA – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengeklaim individu yang terkena paparan sinar matahari lebih jarang mengalami efek samping dari vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca. Adapun vaksin AstraZeneca belakangan menimbulkan efek samping atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) berupa Thrombosis Thrombocytopenia Syndrome (TTS). Hal tersebut Budi sampaikan dalam rapat antara Komisi IX DPR dan Kemenkes di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5/2024).

“Jadi kalau kita lihat di analisa, kira-kira mana yang sensitif populasinya yang kena KIPI TTS, memang kita lihat lebih banyak di Western Country. Kalau yang Asia, Afrika, South America lebih jarang. Kita-kita yang dapat matahari kayaknya lebih jarang kena ini. Tapi kalau yang darah-darah barat lebih banyak yang terkena,” ujar Budi.

Budi menjelaskan, jika seseorang mendapatkan TTS, maka ada masalah di trombosit atau pembuluh darahnya, yang mana mengganggu kesehatan. Budi menyebut KIPI TTS banyak menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh, mulai dari otak, hati, limpa, dan usus. Hanya saja, kata dia, TTS masuk kategori sangat jarang terjadi, dengan perbandingan 1 insiden per 10 ribu orang.

Menurut Budi, kejadian TTS ini juga bergantung pada genetik masing-masing negara.

“Jadi misalnya orang Arab kalau makan kambing kolesterolnya enggak naik, beda dengan orang Indonesia makan kambing kolesterolnya naik. Karena orang Arab genetiknya beda.

Sudah sering makan kambing dari zaman nenek moyangnya, sehingga sudah lebih biasa orang Arab,” jelasnya.

“Sama seperti E.coli. Kalau di sini orang Indonesia jajan apa di warung-warung, enggak pernah sakit perut. Tapi kalau orang Eropa datang di sini, makan di warung, langsung mencret-mencret, sakit perut,” sambung Budi.

Budi memaparkan, kejadian TTS ini lebih sering terjadi di Inggris dan Australia. Sementara, di Indonesia dan negara-negara di Amerika Selatan belum teridentifikasi efek samping dari vaksin AstraZeneca.

Terlebih, vaksin AstraZeneca sudah tidak dipakai lagi di Indonesia sejak Oktober 2022.

Hingga saat ini, Budi menegaskan belum ditemukan kasus KIPI TTS akibat vaksin AstraZeneca di Indonesia. Dia menyebut kasus TTS juga tidak ditemukan di negara-negara Asia lain, Afrika, dan Amerika Selatan.

“Kesimpulannya, TTS ini risikonya amat sangat jarang. Dan sudah teridentifikasi sejak awal. Jadi kalau kita lihat laporan WHO pada saat pertama kali berikan approval penggunaan AstraZeneca, itu disebut. Saya lupa, ada faktornya disebut. Bahwa ini sudah teridentifikasi, ada risiko seperti ini. Tapi risikonya ini jauh lebih kecil dibandingkan benefit-nya,” katanya.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan sebelumnya, AstraZeneca dalam dokumen pengadilan mengakui vaksin Covid-19 buatannya dapat menyebabkan efek samping langka. Raksasa farmasi tersebut digugat dalam gugatan class action atas klaim bahwa vaksinnya yang dikembangkan bersama University of Oxford menyebabkan kematian dan cedera serius.

AstraZeneca dalam dokumen pengadilan mengakui vaksin Covid-19 buatannya dapat menyebabkan efek samping langka. Raksasa farmasi tersebut digugat dalam gugatan class action atas klaim bahwa vaksinnya yang dikembangkan bersama University of Oxford menyebabkan kematian dan cedera serius.

AstraZeneca menentang klaim tersebut. Namun, dalam dokumen hukum yang diserahkan ke Pengadilan Tinggi di Inggris pada Februari lalu, perusahaan farmasi ini menyebut vaksinnya dapat menyebabkan TTS.

“Diakui bahwa vaksin AZ, dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan TTS. Mekanisme alasannya tidak diketahui,” tulis AstraZeneca.

“Lebih jauh lagi, TTS juga bisa terjadi tanpa adanya vaksin AZ (atau vaksin apa pun). Penyebab dalam setiap kasus individu akan bergantung pada bukti ahli,” lanjutnya. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru