Jumat, 23 Februari 2024

Marzuki Alie: Sudah Waktunya Indonesia Menggunakan Thorium Untuk Energi Baru

JAKARTA- Pemerintah, dalam pengelolaan energi perlu mengkaji penggunaan thorium sebagai sumber energi, karena sumber daya thorium di Indonesia sangat melimpah, bahkan di perkirakan cukup untuk 1000 tahun. Pengembangan Pembangkit Listrik tenaga Thorium (PLTT) perlu di dukung oleh konsorsium BUMN, seperti INUKI (Industri Nuklir Indonesia), PERTAMINA, TIMAH dan PLN.

“Karena menurut analisa berbagai ahli, bukan saja PLTT sangat aman dengan fitur keselamatan melekat (inherent safety) tetapi juga sangat ekonomis yang dapat memberikan listrik skala besar dengan biaya murah. Perkirakan biaya produksi Listrik sekitar $3sen/kwh hampir setara dengan batubara,” demikian Ketua DPR-RI (2009-2014), Marzuki Alie kepada Bergelora.com di Jakarta, Kamis (4/2).

Dalam rekomendasi Mubarok Center And Mazuki Alie Connection “Selamatkan Negara” disebutkan bila upaya ini di dukung Pemerintah maka paling lama 2022 Indonesia sudah memiliki PLTT yang beroperasi, maka kemadirian dan kedaulatan energi dapat menjadi kenyataan melalui thorium.

Pemerintah juga menurut Marzuki Alie perlu mempertimbangkan untuk mengembangkan industri Logam Tanah Jarang (LTJ) yang ikut sebagai mineral bawaan bersama Thorium dalam Timah.

“LTJ adalah logam yang sangat langka yang dibutuhkan oleh hampir semua industri elektronik baik sipil ataupun militer. Bahkan beberapa elemen LTJ memiliki harga lebih mahal dari emas,” jelasnya.

Menurutnya LTJ terbesar ikut dengan timah dan mengingat Indonesia adalah penghasil timah nomor 2 sesudah Cina maka sangat mungkin bahwa sumber daya LTJ di indonesia sangat besar.

“Bahkan Indonesia dapat menjadi Saudi Arabia LTJ. Dengan menguasai LTJ maka Indonesia dapat menguasai industri elektronik. Saat ini PT Timah sudah berhasil melakukan pemisahan LTJ dari pasir monasit dengan sisa limbah Thorium – itu sebabnya Industri LTJ tidak dapat di pisahkan dari Thorium,” katanya. ‎

Manfaat Thorium
Unsur Thorium ditemukan pada tahun 1828 dan namanya diambil dari Thor, nama Dewa Petir bangsa Viking atau Norseman.

Di alam, bisa dikatakan semua thorium adalah thorium-232, dan mempunyai waktu paruh sekitar 14.05 milyar tahun. Jumlah thorium di kulit bumi diperkirakan sekitar empat kali lebih banyak dari uranium. Saat ini Thorium biasanya digunakan sebagai elemen dalam bola lampu dan sebagai bahan campuran logam.

Banyak negara di seluruh dunia mulai mempertimbangkan rencana untuk menggunakan thorium sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir karena keamanannya dan ketersediaan bahan baku yang lebih banyak di banding uranium.

Thorium dapat terbakar lebih lama dan suhu lebih tinggi untuk mendapatkan efisiensi lebih banyak dibanding bahan bakar konvensional lainnya, termasuk penggunaan bahan bakar, tidak perlu mengemas limbah, dan secara signifikan mengurangi isotop radioaktif yang memiliki waktu paruh yang lama.

Sebagai perbandingan, 1 kilogram thorium akan menghasilkan energi yang setara dengan yang dihasilkan oleh 300 kilogram uranium atau 3,5 juta kilogram batubara, tanpa efek lingkungan dari batubara di atmosfir atau resiko yang berhubungan dengan limbah uranium.

Thorium menghasilkan limbah 90% lebih sedikit dibanding uranium, dan hanya membutuhkan sekitar 200 tahun untuk menyimpan limbahnya, dibanding uranium yang membutuhkan waktu 10.000 tahun untuk menyimpan limbahnya.

Thorium mudah didapat dan dapat membangkitkan beban-dasar listrik tanpa risiko pelelehan atau meltdown, tanpa risiko proliferasi senjata seperti halnya uranium, menghasilkan jauh lebih sedikit limbah, dan ada beberapa desain reaktor yang telah diuji dan terbukti bekerja.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memperkirakan terdapat cadangan 70 ribu ton Uranium dan 117 ribu ton Thorium yang tersebar di sejumlah lokasi di Indonesia, yang bisa bermanfaat sebagai energi alternatif di masa depan.

Sebagian besar cadangan Uranium kebanyakan berada di Kalimantan Barat, sebagian lagi ada di Papua, Bangka Belitung dan Sulawesi Barat, sedangkan Thorium kebanyakan di Babel dan sebagian di Kalbar.

Kajian terakhir dilakukan di Mamuju, Sulbar, dimana deteksi pendahuluan menyebut kadar Uranium di lokasi tersebut berkisar antara 100-1.500 ppm (part per milion) dan Thorium antara 400-1.800 ppm. (Web Warouw).

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru