Selasa, 28 April 2026

MENSOS LALAI..! Gubernur NTT Ungkap Keluarga Anak SD yang Meninggal di Ngada Tak Terima Bansos karena Adminduk

JAKARTA — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mengungkapkan bahwa keluarga YBS (10), siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada yang meninggal dunia, tidak menerima bantuan sosial (bansos) akibat kendala administrasi kependudukan (adminduk).

Melki mengatakan, persoalan adminduk itu muncul sejak keluarga YBS berpindah domisili dari Kabupaten Nagekeo ke Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, tanpa diikuti pembaruan data kependudukan.

“Saya tahu kejadian ini juga berkaitan dengan kependudukan. Mereka pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, Ngada, tetapi administrasi kependudukannya belum diamankan,” kata Melki kepada sejumlah wartawan di Kupang, Rabu (4/2/2026).

Ia menyebut, setelah menerima kabar duka meninggalnya YBS, siswa kelas IV di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, dirinya langsung menginstruksikan jajaran terkait untuk segera menyelesaikan persoalan administrasi tersebut.

“Saya langsung minta teman-teman di lapangan untuk segera membereskan soal itu. Kalau seseorang tidak menerima bantuan sosial hanya karena persoalan administrasi kependudukan, itu hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cepat,” ujarnya.

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena. (Ist)

Menurutnya, masalah adminduk semestinya tidak menjadi penghambat masyarakat dalam mengakses layanan dan bantuan pemerintah. Ia menilai, persoalan administratif perlu ditangani secara proaktif agar tidak berdampak lebih luas.

“Ini hanya soal selembar kertas. Harus segera dibereskan supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, ketidakberesan data kependudukan tersebut berdampak langsung pada keluarga YBS yang tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.

“Saya mendapat informasi mereka tidak menerima bantuan sosial karena perpindahan dari Nagekeo ke Jerebuu yang administrasinya belum beres,” ucapnya.

Pasca-peristiwa tersebut, Laka Lena memastikan Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Ngada akan memberikan dukungan dan pendampingan kepada keluarga korban.

Intinya kata dia, pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Ngada hadir untuk membantu serta mendampingi keluarga korban untuk melewati situasi sulit ini.

Gantung Diri

Kondisi pondok tempat tinggal siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT, berinisial YBR (10), yang tewas gantung diri. (Ist)

Kepada Bergelora.com.di Jakarta.dilaporkan, seorang anak berusia 10 tahun dengan inisial YBS tewas dan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.

Sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen, sebagaimana dilaporkan media pada Senin (2/2/2026). Tapi, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Ucapkan Selamat Tinggal untuk Mama

Korban ditemukan oleh warga sekitar yang sedang mengikat ternaknya di kebun milik nenek YBR.

Setelah kejadian itu, polisi datang untuk mengevakuasi. Nahasnya korban sudah tidak dapat diselamatkan.

Saat mengevakuasi, polisi menemukan lembaran surat tulisan tangan YBR yang menggunakan bahasa daerah Bajawa.

Surat yang ditinggalkan siswa SD yang bunuh diri di Ngada, NTT. (Ist)

Pada baris awal, korban menyebut ibunya pelit. Selebihnya mengungkapkan kalimat perpisahan yang ditujukan pada ibu.

Berikut isi surat YBR kepada ibu:

Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan surat itu ditulis korban.

“Surat itu betul, petugas turun ke TKP temukan surat itu, anak itu yang tulis,” kata Benediktus melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2026).

Muncul Dugaan Bullying

Polisi mengusut penyebab kematian siswa SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, NTT. Hal itu demi menjawab dugaan perundungan atau bullying.

Tulisan tangan YBS (10), siswa kelas IV pada salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelum ditemukan tewas gantung diri.

Kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, polisi mengusut penyebab kematian bocah SD yang ditemukan tewas gantung diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu demi menjawab dugaan perundungan atau bullying yang terjadi terhadap korban.

Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menyampaikan, penyidik tengah melakukan penyelidikan, termasuk meminta keterangan dari guru di tempat si anak bersekolah.

“Penyidik juga memeriksa pihak sekolah, termasuk guru korban. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah korban juga jadi korban bullying atau tidak. Ini yang masih diselidiki,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, penyidik berkerja profesional dalam proses penyelidikan kasus ini. Dari hasil visum, tidak ditemukan tanda-tanda adanya kekerasan.

“Motif sementara karena putus asa lalu bunuh diri. Ini murni niatan anak,” ungkapnya.

Sempat Dinasehati Sang Ibu

Menurut Kapolres, dari hasil pemeriksaan terhadap MGT (47) selaku ibunda korban, sang anak sempat tidur bersamanya di rumah saat malam sebelum ditemukan meninggal dunia. Ibunda sempat memberikan nasihat kepada korban lantaran tidak masuk sekolah beberapa hari terakhir.

“Korban tidak sekolah dengan alasan sakit karena mandi hujan. Ibunya lalu menasehati supaya harus ke sekolah dan jangan mandi hujan,” jelasnya.

Gregorius Kodo, seorang saksi mata, menuturkan kondisi keluarga korban yang memiliki banyak tantangan hidup. Hal itu juga yang membuat korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok.

Kurang Kasih Sayang Orang Tua

Ketika kejadian berlangsung, nenek korban yang berusia sekitar 80 tahun itu tengah berada di rumah tetangga.

Menurutnya, korban kurang kasih sayang orang tua. Sang ayah diketahui meninggal dunia saat korban masih dalam kandungan.

Sementara, si ayah merupakan suami ketiga dari ibunya, yang menafkahi lima anak termasuk korban. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles