Kamis, 29 Februari 2024

Memasuki Minggu Adven 2: Belajar dari Desmond Tutu

Oleh: Pdt. Victor Rembeth *

TRADISI Masa Adven adalah periode persiapan menuju peringatan Hari Raya Natal. Biasanya, masa Adven berlangsung selama empat minggu sebelum Natal, mulai pada hari Minggu dekat akhir November sampai satu hari sebelum peringatan Natal. Inilah saatnya mempersiapkan diri secara spiritual memasuki masa raya Natal.

“Hope is being able to see that there is light despite all of the darkness.” Desmond Tutu

Dalam memasuki Minggu Adven Kedua menjelang Natal tahun 2023 ini masih adakah harapan melihat Indonesia dan dunia ke depan. Kesibukan Pemilu yang kerap mempertontonkan perilaku tanpa etika dan moral untuk mencapai kekuasaan bisa saja mematikan harapan. Kondisi dunia yang semakin tidak menentu akibat egoisme para pemimpin bangsa bangsa menghasilkan pertikaian yang telah membunuh sejumlah besar umat manusia dan membuat suram wajah ekonomi dunia. Kita sedang tidak baik baik saja, dan berharap untuk hadirnya Harapan sejati seperti yang dikatakan Desmond Tutu diatas.

Desmond Tutu adalah seorang rohaniwan Kristen yang mengerti apa artinya harapan dalam menghadapi kesulitan. Ia menjadi orang yang menguatkan umat dan bangsanya ketika terjadi penindasan apartheid terhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan oleh mereka yang memiliki ras kulit putih.

Untuk itulah ia mengatakan kutipan menyentak di atas yang berarti, “Harapan adalah mampu melihat bahwa masih ada terang sekalipun dalam semua kegelapan”.

Hal yang tepat untuk dikatakan kepada semua umat manusia yang sudah dan berpotensi mengalami perilaku ketidakadilan oleh para penguasa Dunia yang hancur oleh berbagai dosa, menjadi gelap bahkan ketika manusia hidup pada awalnya sehingga terjadi pemutusan harapan yang ditandai dengan ketidakadilan, kekerasan dan pelecehan harkat kemanusiaan.

Namun ironisnya, manusia tidak pernah menjadi lebih baik, karena egoisme untuk berkuasa menghasilkan perilaku yang mampu menjadikan tindakan yang menghalalkan segala cara.

Akibatnya nyata, bagi mereka yang lemah dan tidak memiliki kekuasaan dengan mudah ditindas. Manusia menjadi begitu buas untuk manusia lainnya dan menutup harapan untuk kesetaraan dan keadilan dalam semua bidang kehidupan.

Ketika kisah Natal terjadi pada awalnya, maka yang ada adalah hilangnya harapan pada semua orang bukan saja untuk kekejaman pemerintahan penjajah Romawi, tetapi juga dengan kemunafikan para tokoh agama. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan oleh orang-orang kecil dan rakyat jelata karena semua institusi yang bisa memberikan kesejahteraan dan ketenangan telah dirusak oleh kemauan untuk menjadikan kawulo alit rakyat kecil hanya sebagai obyek belaka untuk dan demi kekuasaan.

Herodes dan Sanhedrin sebagai representasi penguasa busuk dan pimpinan agama korup ingin melanggengkan kenikmatan kuasa dengan cara mereka yang Najis.

Harapan, seperti apa yang dikatakan oleh Desmond Tutu hadir dalam kisah Natal. Di Minggu Adven ke 2 ini kita diingatkan akan kisah Allah menyapa rakyat kecil yang tak punya kuasa itu. Allah hadir melalui para malaikat kepada para gembala yang miskin tanpa harapan dengan sebuah orkestra special yang mewah pemantik asa menatap masa depan.

Harapan itu juga diperagakan Allah dengan memilih seorang perempuan muda “ndeso” yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat Yahudi yang misoginis. Perempuan muda Bernama Maria, sebagai bagian dari kelompok marjinal yang tidak memiliki nilai apa apa, kecuali menjadi obyek laki laki sebagai penguasa penentu hitam dan putihnya hidup mereka.

Masa masa pra kelahiran sang anak manusia bukti perhatian Allah yang pamungkas kepada umat manusia yang kita peringati sebagai Adven membawa kisah harapan. Perasaan untuk berani melhat masa depan itu dialirkan kepada mereka yang hampir kehilangan segalanya. Kisah Gembala di padang Efrata dan Maria yang jadi kisah awal Natal adalah model injeksi harapan Allah untuk umat manusia. Mereka yang terbuang, tersisihkan dan kerap menjadi cemoohan masyarkat dikembalikan kepada posisi awal rencana Allah untuk manusia, sebagai ciptaan terbaik manusia seutuhnya. Manusia diperhatikan oleh sang pencipta, bukan hanya sebagai obyek pendulang suara 5 tahunan belaka. Allah menyapa, memeluk dengan tulus semua yang hampir kehilangan asa dengan tulus dalam kasihNya yang paripurna.

Berita kehadiran Kristus ke dunia masih menjadi harapan semua orang tidak terkecuali terus menerus. Harapan masih ada, kendati ada kegelapan di sekeliling kita. Ketika dalam kegaduhan Pemilu para kandidat sekedar memberikan harapan palsu sembari tanpa malu melakukan tindakan menghalalkan segala cara, kita masih punya harapan. Jalani harapan Ilahi yang berani melawan ketidak adilan, mengatakan tidak kepada keculasan dan tetap berkarya baik kepada semua karena hadirnya sang Terang pembawa harapan.

Kalau Ia memperhatikan gembala dan Perempuan muda Maria yang tak berdaya, Ia juga memperhatikan, kamu, saya dan kita semua. Harapan itu masih ada dalam kegelapan. Selamat memasuki Adven kedua.

*Penulis Victor Rembeth, pendeta Gereja Baptis Indonesia dan aktivis kemanusiaan

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru