Maka fenomenanya bukan hanya siapa yang menarik perhatian, tetapi juga siapa yang memanfaatkan kelengahan dan mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Negara tentu harus mampu mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan melindungi rakyat.
Oleh: Dr. Fidelis Diponegoro, Dosen S3 Ketahanan Nasional UGM
DI RELIEF Candi Prambanan ada rangkaian relief yang menggambarkan Epos Ramayana. Kita perlu melihat itu bukan sekedar kisah tentang Rama, Sinta, Hanoman dan Rahwana, melainkan narasi budaya yang bisa digunakan untuk membaca kontestasi kekuasaan, kesetiaan, tipu daya dan perjuangan menegakkan kebenaran. Kisah ini seolah abadi dan selalu relevan hingga masa kini. Dan tulisan ini terinspirasi dari seorang penggemar wayang dan mencintai candi.
Apa yang sedang terjadi dalam politik Indonesia hari ini mungkin lebih tepat dianalogikan sebagai kisah Ramayana ketimbang Mahabharata. Bersiaplah kecewa mereka yang berharap bahwa kontestasi politik akan memuncak laksana Bharatayuda dimana pertentangan antarkubu makin terbuka dan berujung pada pertempuran besar.
Kontestasi yang terlihat sekarang bukan berwujud konfrontasi langsung, tetapi melalui simbol-simbol, narasi, pembentukan persepsi, dan eksploitasi situasi. Kontestasi itu menentukan makna, membangun atau menggerogoti legitimasi, serta mencari dukungan masyarakat.
Dalam lakon simbolis ini, Sinta adalah rakyat, Rama adalah negara, Pak Prabowo adalah Hanoman, Pak Jokowi adalah Kidang Kencana, sedangkan Rahwana menjadi simbol kekuatan yang berusaha menguasai sesuatu yg padahal bukan haknya.
Sinta itu bingung sebagai rakyat. Ia merupakan pusat dari seluruh perjalanan cerita, tetapi tidak selalu menentukan jalannya peristiwa. Rakyat adalah sumber legitimasi demokratis, sekaligus objek perebutan pengaruh melalui kampanye, pencitraan, komunikasi politik, dan berbagai narasi tentang kesejahteraan misalnya. Rakyat tentu bukan massa yang pasif, melainkan subyek yang mampu menafsirkan, menerima, menegosiasikan, bahkan menolak pesan-pesan yang disampaikan elite. Pesan politik tidak selalu diterima sesuai dengan maksud pembuatnya. Persepsi rakyat bisa berbeda. Apalagi di arena seperti media sosial, Sinta ini juga dijejali berjubel informasi yang belum tentu tidak bohong. Meskipun Sinta menjadi sasaran rebutan, rakyat sesungguhnya tidak pasif melainkan punya kapasitas untuk mengartikulasikan kepentingannya sendiri dan melakukan resistensi terhadap hegemoni jika tidak lagi mereka anggap mewakili kebutuhan mereka.
Sebagai negara, Rama bukan hanya institusi yang memiliki kewenangan formal, tetapi juga arena tempat nilai, kepentingan, dan gagasan tentang pemimpin dibentuk agar diterima sebagai sesuatu yang wajar. Hegemoni bekerja ketika suatu agenda memperoleh persetujuan dan dipersepsikan sebagai kepentingan bersama, meskipun manfaatnya belum tentu merata.
Rama tentu punya tanggung jawab menjaga Sinta. Namun, bisa saja negara mengalami masalah ketika kepentingan nasional terhalang kepentingan elite, atau malahan ada narasi yang membelokkan arti kepentingan nasional. Jadi masalahnya bukan hanya siapa yang mengendalikan negara, melainkan narasi siapa yang menjadi dominan, kepentingan siapa yang diartikulasikan sebagai kepentingan umum, dan kelompok mana yang suaranya lantas tersisih.
Pak Jokowi, bisa ditempatkan sebagai Kidang Kencana, kijang emas yang memikat perhatian Sinta sehingga mendorong Rama mengejarnya. Simbol ini menggambarkan daya tarik figur yang (pernah) mampu menggerakkan perhatian dan harapan, banyak pihak. Popularitas, keberhasilan masa lalu, serta jaringan pengaruh dapat menjadi daya tarik yang sulit diabaikan. Persoalannya muncul ketika daya tarik tersebut membuat negara terlalu sibuk mengejar sesuatu, sehingga perhatian terhadap kepentingan rakyat teralihkan atau malahan terabaikan. Warisan seorang pemimpin bisa menjadi bekal untuk melanjutkan pembangunan, atau justru menjadi bayang-bayang yang menghambat kemandirian kepemimpinan berikutnya.
Pak Prabowo, dalam lakon ini, adalah Hanoman, sosok yang memiliki kekuatan, keberanian, dan kemampuan bertindak untuk menjalankan misi. Hanoman bukan Rama dan bukan pula pemilik Sinta. Ia berjuang menerjang berbagai rintangan demi menemukan dan menyelamatkan Sinta. Analogi ini menempatkan Pak Prabowo sebagai pemimpin yang memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa kekuasaan bukan sekadar kelanjutan dari pengaruh pendahulunya. Hanoman yang setia tetap memiliki inisiatif dan keberanian bertindak. Yang terpenting bagi seorang pemimpin bukanlah kedekatan dengan pendahulunya, melainkan bagaimana menjalankan mandat negara untuk melindungi rakyat.
Kemudian siapakah Rahwana? Rahwana adalah lambang keserakahan, korupsi, penyalahgunaan jabatan, politik transaksional, atau kepentingan yang berusaha menguasai negara demi keuntungan kelompok sendiri. Dalam kisah Ramayana, Rahwana memanfaatkan situasi ketika Rama dan Laksmana meninggalkan Sinta untuk memburu kijang emas.
Maka fenomenanya bukan hanya siapa yang menarik perhatian, tetapi juga siapa yang memanfaatkan kelengahan dan mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Negara tentu harus mampu mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan melindungi rakyat.
Epos Ramayana pada relief Prambanan mengingatkan kita bahwa kontestasi tidak selalu tentang siapa yang paling kuat, paling populer, atau paling lihai memainkan pengaruh, melainkan apakah Sinta dapat kembali kepada Rama. Artinya apakah rakyat benar-benar merasakan negara melindungi dan menyejahterakannya. Tak perlu berharap politik selalu menghadirkan satu perang besar yang menyelesaikan semua persoalan seperti pada Bharatayuda. Faktanya konflik kepentingan bisa mewujud menjadi berbagai bentuk dalam arena penyelenggaraan negara ataupun arena privat. Hanoman dapat menjadi penghubung antara cita-cita negara dan keselamatan rakyat. Maka ukuran suksesnya adalah bila masyarakat merasakan hasil dan tercapainya cita-cita.
Dan ukuran keberhasilan pariwisata candi Prambanan bukan sekedar berapa banyak pengunjungnya, tetapi juga apakah relief Epos Ramayana dipahami dan dikagumi pengunjungnya.

