Kamis, 29 Februari 2024

Mengenal Melita Norwood: Seorang Sekertaris Sekaligus Mata-Mata

Oleh: Widitusha Winduhiswara *

PADA tahun 1999, nama Melita Norwood menjadi buah bibir se-Inggris Raya setelah namanya disebut-sebut dalam sebuah buku yang berjudul The Sword and the Shield – Buku ini ditulis oleh Vasili Mitrokhin, seorang agen KGB (Insitusi Intelijen Uni Soviet) yang berhasil menyelundupkan dokumen-dokumen rahasia dari Uni Soviet ke Inggris sejak tahun 1945 dan membelot ke Inggris pada tahun 1992 – dipublikasikan.

Dalam salah satu dokumen yang dibawa oleh Mitrokhin, dipercayai bahwa terdapat 200 warga Inggris yang merupakan kontak ataupun agen untuk KGB dan Melita Norwood merupakan salah satunya. Setelah identitasnya terbongkar, dirinya pun lalu mengadakan konfrensi pers di depan rumah kediamannya. Pada saat itu, Norwood sudah berumur 87 tahun.

Pada akhir tahun 1930, Inggris dilanda krisis ekonomi sehingga menyebabkan angka pengangguran meningkat hingga dua kali lipat, dan diwaktu bersamaan Norwood dan keluarga baru saja pindah ke London.

Kondisi ini kemudian memunculkan simpati politik di dalam Norwood. Dirinya bergabung dengan Partai Komunis Inggris (Communist Party of Great Britain/CPGB) pada tahun 1936.

Norwood menjadi seorang sekertaris di Asosiasi Riset Logam Inggris (British Non-Ferrous Metals Research Association). Tempat dimana Norwood bekerja, pada saat itu sedang melakukan proyek pengembangan bom atom yang diberi nama “Tube Alloy”. Proyek ini merupakan proyek pengembangan bom atom pertama kali sebelum Manhattan Project.

Dengan memiliki padangan politik yang selaras dengan Uni Soviet dan akses terhadap penelitian rahasia, membuatnya menjadi kandidat yang cukup unik bagi pihak intelijen Uni Soviet. Sejak tahun 1937, menurut berkas yang dipublikasikan oleh Mitrokhin, Norwood memulai aksi spionasenya untuk Uni Soviet dan menggunakan nama samaran ‘Hola’.

MI5 (institusi intelijen urusan dalam negeri Inggris) berulang kali menaruh kecurigaannya pada Norwood karena hubungannya dengan partai komunis, namun dirinya selalu lolos dalam mendapatkan izin keamanan sehingga dirinya tetap memiliki akses terhadap dokumen-dokumen yang bersifat rahasia.

Akhirnya, pada tahun 1965, MI5 melakukan investigasi terhadap Norwood dan berkesimpulan bahwa Norwood diduga melakukan spionase untuk Uni Soviet sejak tahun 1938, lalu mencabut izin keamanannya. Namun Norwood tidak dituntut karena tidak adanya barang bukti yang menguatkan hasil penyelidikan tersebut. Setelah penyelidikan tersebut tidak membuahkan hasil, Norwood tetap melanjutkan pekerjaannya di Asiosiasi Riset Logam Inggris hingga pesiun di umur 60 tahun pada 1972.

Kecurigaan pihak intelijen Inggris kembali muncul pada saat pada saat Vasili Mitrokhin membelot ke Inggris pada tahun 1992 dan membawa dokumen-dokumen rahasia yang berisikan nama-nama orang Inggris yang membeberkan rahasia negara kepada Uni Soviet pada masa itu. Meski begitu, MI5 memutuskan untuk tidak mengintrogasi atau menuntut Norwood guna melindungi penyelidikan lainnya yang lebih baru. Pada tahun 1996,

Pemerintah Inggris memutuskan bahwa dokumen-dokumen yang dibawa oleh Mitrokhin harus dibuat menjadi publik, dan menyerahkannya ke Universitas Cambridge. Dokumen-dokumen tersebut pada akhirnya diabadikan oleh Vasili Mitrokhin bersama dengan Christopher Andrew dalam dua buku yaitu The Sword and the Shield (1999) dan The World Was Going Our Way: The KGB and the Battle for the Third World (2005).

Setelah buku pertama tersebut diterbitkan, baru kemudian diketahui bahwa pada tahun 1979, Norwood bersama suaminya mengunjungi Moskow dimana dirinya dianugrahi dengan Order of the Red Banner of Labour, penghargaan tertinggi ketiga bagi sipil yang diberikan atas dedikasi dan jasa seseorang untuk Uni Soviet. Selain penghargaan tersebut, dirinya pun mendapatkan uang pensiun sebesar 20 Poundsterling per bulan dari KGB.

Pada konfrensi persnya, Norwood mengakui seluruh tuduhan-tuduhan yang dituliskan mengenainya.

Alasan mengapa Norwood melakukan aksi spionase terhadap Inggris bukan karena uang, melainkan alasan ideologi. Dirinya mengatakan bahwa hal tersebut dilakukannya untuk mencegah terjadinya kehancuran pada sistem dunia yang baru dan akses yang dimilikinya tersebut dapat membantu Uni Soviet (Rusia) agar dapat sejajar dengan Inggris, Amerika Serikat dan Jerman.

Norwood mendapatkan banyak tawaran dari berbagai media untuk menuliskan cerita hidupnya menjadi sebuah buku, namun dirinya menolak tawaran-tawaran tersebut. Pada akhirnya, Norwood bersedia untuk menceritakan ceritanya kepada sejarahwan dari Universitas Cambridge David Burke yang dikenalnya sejak tahun 1997, dengan catatan bahwa Burke boleh menerbitkan tulisannya apabila Norwood sudah meinggal dunia.

Tiga tahun setelah kematian Norwood, Burke menerbitkan buku yang berjudul The Spy Who Came in from the Co-op: Melita Norwood and the Ending of Cold War Espionage pada tahun 2008.

Hampir 35 tahun lamanya Melita Norwood menjadi seorang mata-mata untuk Uni Soviet demi kepentingan kemanusiaan yang besar. Meski bukti-bukti telah menguatkan ditambah dengan pengakuan dirinya, hingga akhir hayatnya, Melita Norwood tidak dituntut oleh Pemeritah Inggris. Hingga saat ini, para ahli juga masih memperdebatkan seberapa besar kontribusi Melita Norwood terhadap perkembangan teknologi bom atom oleh Uni Soviet.

*Penulis Widitusha Winduhiswara, S.Sos, M.Sc, pengamat geopolitik dan militer, Peoples’ Friendship, University of Russia

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru