Selasa, 23 Juli 2024

Mengenang Si Pemberani, Fernando de Araojo, Pejuang Timor Leste

Garda Sembiring, Fernando de Araojo (ketiga dari kiri), I Gusti Anom Astika, Petrus H. Hariyanto. (Ist)

Tulisan ini pernah dimuat disebuah media massa yang sudah ditutup. Ini versi yang lebih lengkap. Tulisan ini seharusnya untuk buku yang digagas sejarawan, Wilson untuk menghormati Fernando de Araojo. Tapi sudah tiga tahun ini tidak ada kabar jadi atau tidak. Petrus H. Ariyanto mengirimnya untuk pembaca Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Petrus H. Hariyanto

SAAT peristiwa Santa Cruz, November 1991, aku masih menjadi mahasiswa semester awal. Peristiwa berdarah itu tidaklah menjadi fokus perhatianku. Tapi tak lama kemudian,  Arief Budiman bertempat di kediaman Romo Pujo di Semarang memperlihatkan rekaman perisitiwa itu.

Kekerasan Militer dalam rekaman itu dan kasus-kasus lainnya,mampu membukakan mataku bahwa Rezim Soeharto bermasalah. Tahun 1992 mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa.

Ada tokoh gerakan kemerdekaan Timtim yang menyita perhatianku. Dari kisahnya yang ku baca dari berbagai media massa, aku mengagumi keberaniannya. Bagaimana dia ditangkap, diadili dan dijebloskan ke penjara menjadi kisah yang menginsipirasi dalam perjalanan hidupku menjadi seorang aktivis.

Dia adalah Fernando de Araojo. Nama itu bagiku saat itu sangat melegenda.

Tanggal 9 Desember 1996, aku  dijebloskan ke Penjara Cipinang, di mana sang tokoh yang kukagumi juga mendekam di sana. Aku dan kawan-kawan PRD (Partai Rakyat Demokratik) lainnya didakwa ingin menggulingkan pemerintahan yang sah, salah satunya karena program politik mendukung referendum bagi rakyat Timor Timur.

Pertama Kali Bertemu

Fernando tinggal sendirian dalam sebuah sel berukuran 4 X 3 meter, bercat putih kusam. Pintu dan jendela ditutupi jeruji besi yang sudah karatan. Selnya berada di komplek tahanan Timor Leste. Dalam blok itu ada beberapa kamar penjara. Berbeda dengan Blok lainnya, di sini terhampar tanah yang luas sekali.

Di areal itu terdapat kolam lele. Ada kandang kelinci. Tumbuh subur pohon tebu dan singkong. Beberapa ekor itik berkeliaran bebas.  Terlihat itik-itik yang gemuk sedang makan nasi dan rebusan sayur. Makanan itik tersebut merupakan jatah makanan para napi. Karena sang napi berlimpah sembako, jatahnya diberikan ke itik-itik tersebut. Memang sebenarnya makanan itu tidak layak dimakan manusia.

Seiring waktu, banyak Napi Pejuang Kemerdekaan Timor Leste dibebaskan. Tinggalah si pemuda dan satu temannya lagi bernama Joao Freitas da Camara.

Pagi itu aku meminta Victor dan Putut mengantarku berkunjung ke Blok Tahanan Timor Leste. Aku sendiri berasal dari blok Eka, singkatan Ekstrim Kanan. Riwayatnya blok itu untuk tahanan gerakan kanan. seperti kasus Tanjung Priok dan Lampung. Dan satunya lagi EKI (Ekstrim Kiri), dihuni tahanan politik anggota PKI dan Pasukan Cakrabirawa. Jaraknya lumayan jauh menuju ke Blok Timor Leste. LP klas 1 Cipinang sangat luas. Seperti perkampungn besar, tapi di kelilingi tembok tinggi.

“Halo Fernando de Araujo. Saya Petrus. Ini Victor dan Putut,” sapaku mendahului dia berbicara.

“Oh, selamat datang PRD di LP Cipinang. Senang sekali, Cipinang bertambah teman.,” balas Fernando kepada kami bertiga.

“Apakah kawan-kawan PRD sudah menerima peralatan dapur dan tidur dari kami. Kami mendengar kalian akan dipindah kemari, kami patungan membelikan peralatan yang kalian butuhkan di penjara,” tanyanya.

”Sudah bung. Kami sudah menerimanya. Kasur busanya sudah kami tiduri semalam. Tekonya sudah bisa membuat pagi ini kita ngopi bareng. Tapi kalau gembok besar buat apa ya?,” tanyaku kepadanya karena keheranan dengan pemberian barang itu.

“Itu tradisi di sini. Walau berbeda  idiologi tapi kami di Cipinang merasa senasib. Kami saling bantu. Gembok itu alat penting. Kalau ada kerusuhan pintu sel kalian harus langsung digembok dari dalam. Pasti aman. Kalau berangkat ke bezukan, sel kalian harus digembok juga,” katanya menasehatiku.

Fernando menceritakan kalau LP Cipinang yang hampir dihuni lima ribu napi dari berbagai suku dan geng ini sering terjadi tawuran. Samurai dan pedang menjadi alat perang mereka.

“Ketika berkelahi masal mereka tidak akan peduli siapa pun, termasuk kita. Agar aman dari itu, sel kita gembok dari dalam. Korban jiwa sering berjatuhan dalam perkelahian massal itu,” ujarnya lagi dengan mimik serius.

Sejak pertemuan pertama itu berlanjut ke pertemuan berikutnya. Selnya merupakan tempat yang menyenangkan untuk nongkrong dan berdiskusi dengannya. Walau sel penjara, di depan ada ruang mirip ruang tamu. Beberapa kursi terdapat dalam ruang tamu, termasuk kursi malas yang menjadi kursi favorit yang kududuki ketika mengunjunginya.

“Kursi ini aku beli dari napi, mereka membikin sendiri,” ujarnya.

Fernando termasuk mudah ditemui, tidak seperti Xanana yang punya kesibukan di lapangan bola. Fernando orangnya malas berolah raga. Maka tubuhnya tidak seatletis Xanana. Bahkan boleh dikatakan kurus, dan termasuk perokok berat.

Sering juga Fernando mengunjungi ke Blok kami. Pernah suatu ketika dia datang menjelang hari petang, sel tak lama lagi akan ditutup.

“Anom, kamu punya rokok. Aku kehabisan uang dan rokok ,” pintanya kepada Anom dengan napas yang tersegal-segal karena habis berlari.

Sipir penjara mengusir dia pulang ke Bloknya. Misinya lumayan berhasil,  Fernando berhasil membawa pulang dua batang Malboro dan dua batang Gudang Garam Filter.

Di Ruang Bezukan

Setiap hari Rabu dan Minggu kami diberi kesempatan dikunjungi keluarga, teman. Di tempatkan dalam satu ruangan berukuran 4 x 10 m. Masing-masing mempunyai meja sendiri-sendiri.

Selain teman pergerakan, Fernando sering dikunjungi  pacarnya. Bila kami dari PRD belum dikunjungi, muncul keisengan untuk mengodanya. Kita duduk di dekat Fernando dan sang pacar. Akhirnya pembicaraan mesra mereka terhenti.

“Sudah, kalian pergi dari sini. Kayak kurang kerjaan saja ,” usirnya sambil tersenyum kecil.

Xanana dan Fernando lah yang mengajari kami bagaimana caranya menyelundupkan dokumen keluar penjara. Mereka berdua sudah terlatih bertahun-tahun berhubungan dengan organisasi di luar penjara. Walau diawasi aparat, selalu berhasil menyelundupkan dokumen,  baik masuk dan keluar.

Salah satu sipir penjara yang kami jadikan kurir adalah rekomendasi mereka. Sudah bertahun-tahun terbukti orangnya bisa dipercaya.

“Tapi jangan kau suruh dia menyelundupkan minuman keras. Orangnya tak akan mau,” nasehatnya.

Tak jarang kami juga keroyokan menemui tamu, seperti Bu Ade Rosita, Pak Gustav Dupe, Mindo, Ibu Gartini. Mereka sudah kita anggap sebagai orang tua dan saudara kita.

Masa Asimilasi

“Apa enaknya di penjara. Tempatnya sempit, mau kesana-kemari ya paling-paling itu-itu lagi yang ditemui ,” ejeknya suatu sore kepada kami.

Rupanya dia baru pulang. Seharian di keluar penjara. Ia kuliah di STF Driyakarya. Akhir tahun 1997 itu, ia menjalani asimilasi. Dia berhak melakukan asimilasi karena sudah menjalani setengah dari massa hukumannya yang Sembilan tahun itu. Dia diperbolehkan keluar penjara dari pagi sampai sore, kecuali hari libur.

Dari luar penjara dia tak langsung pulang ke selnya. Dia mampir ke blok kami. “Ada pesan dari Romo Sandi. Ini juga obat-obatan dari Ibu Ade ,” ujarnya ke aku.

Kedatangannya ke blok kami bagaikan magnit. Kami langsung mengerumuninya. Kami berpikir dia adalah narasumber yang seksi untuk kita korek informasi dunia di luar tembok penjara.

Sejak saat itu, kedatangannya selalu kita tunggu. Fernando adalah teman yang  tidak pelit untuk berbagi informasi.

Pertamuan Setelah Bebas

Fernando seorang kawan yang selalu ingat akan sobat-sobatnya di penjara. Di hotel Sultan, sekitar tahun 2008,  dia membuat reuni. Ada Napol PRD, Napol Majalah Bawah Tanah  Independen, Tri Agus Santoso (TASS), Kasus Lampung, beberapa napi kasus pidana umum, Ibu ade dan Pak Gustav Dupe, Luhut MP Pangaribuan (mantan pengacaranya), beberapa Napol G-30S, berkumpul dalam acara tersebut.  Itu adalah pertemuan pertama sejak kami berdua sama-sama menghirup udara bebas.

“Fernando bulan lalu kemari. Ia menginap bersama anaknya. Kami berjam-jam duduk di atas empang sambil mengenang masa lalu,” ujar Asep Suryaman ketika aku berkunjung bersama Roso di Tasikmalaya, tahun 2009.

Asep Suryaman adalah anggota Biro Khusus PKI divonis hukuman mati,  eksekusinya ditunda berkali-kali. Soeharto tumbang, dia mendapat grasi dari  Presiden Habibie. Setelah bebas dia tinggal di Tasikmalaya.

“Aku tidak mempercayainya. Aku dicarinya sampai ke Tasikmalaya. Kota ini kan jauh dari Jakarta,” ujarnya kepadaku sambil matanya berkaca-kaca karena terharu.

Pertemuan ku ketiga dengannya pada saat proses pemakaman Bu Ade. Saat itu dia adalah Presiden Parlemen, semacam  Ketua DPR  Timor Leste. Dia sendirian tanpa dikawal.

“Aku sedih ibu Ade Rosita meninggal. Ibu Ade adalah ibu kita semua. Dia orang baik. Kita dirawatnya dengan kasih sayang yang tulus selama mendekam di Cipinang,” ucapnya lirih kepada aku dan Garda Sembiring.

ertemuan itu  ternyata adalah pertemuan terakhir dengannya.

Pada tanggal 2 Juni 2015, saya  membaca status Wilson. Bung yang pemberani itu telah pergi. Kata Ezky dalam  akun twitternya mengatakan Fernando mengalami stroke.

Selamat jalan bung Fernado de Araujo yang pemberani, memegang teguh prinsipnya. Teman yang hangat. Pejuang muda yang penuh inspirasi.

oleh Petrus Hariyanto S.I.Kom

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru