Senin, 15 Juli 2024

Mereka Mengandalkan Strategi Meng-Ahok-kan Jokowi

Presiden Joko Widodo dalam Asian Paragames 2018 lalu. (Ist)

Upaya mengahokkan Jokowi kelihatannya merupakan satu-satunya strategi agar pasangan Prabowo – Sandi menang dalam Pilpres 2019. Kendati beberapa kali gagal, pelaksanaan strategi itu akan diulangi terus. Sukmadji Indro Tjahyono, seorang pemimpin gerakan 1978 dari Institute Teknologi Bandung (ITB) menuliskan dan dikutip Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Sukmadji Indro Tjahyono

UPAYA pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden  No 2 untuk mengahokkan Jokowi bukanlah isapan jempol. Berdasarkan lembaga survei, pasangan Prabowo -Sandi hanya bisa menang kalau menggunakan strategi luar-biasa (extra ordinary). Atau mengandalkan adanya keadaan luar biasa seperti kondisi keamanan, politik, atau ekonomi yang memburuk.

Pikiran inilah yang diperkirakan akan digunakan mereka. Hal ini mengingat bahwa  menjatuhkan kredibilitas dan elektabilitas dengan mengumbar kata “bohong” dianggap kurang efektif. Pasalnya Jokowi mampu menunjukkan hal kongkrit yang kasat mata. Padahal dalam pandangan paslon No 2, kata “bohong” dapat menggugurkan citra Jokowi selain mudah dimengerti publik. Hal ini mirip dengan penggunaan yel pada tahun 2014, “Jokowi adalah presiden boneka”.

Untuk pemenangan 2018 pasangan Prabowo-Sandi dapat dipastikan strategi mengahokkan Jokowi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini mengingat bahwa strategi menuduh Jokowi gagal dan berbohong sudah tidak manjur. Kalau Jokowi dituduh gagal selalu bisa dilawan dengan data yang lebih sahih. Sedangkan menuduh bohong bisa dipatahkan dengan bukti-bukti kongkrit yang sudah terbuka untuk umum. Strategi ini sebenarnya belum terbukti ampuh dan tuduhan bohong bisa berbalik ke Prabowo. Karena ia melakukan kebohongan besar dengan tidak menang pada Pilpres 2014.

Karena itu pasangan Prabowo -Sandi kemungkinan tetap akan menggunakan strategi bagaimana kelompok ini telah mengalahkan Ahok saat pilgub DKI Jakarta 2015. Hanya strategi mengalahkan Ahoklah yang secara empirik berhasil.

Strategi Mengahokkan Jokowi

Strategi ini terdiri atas beberapa komponen, yakni:

(1) Mencari atau membuat jebakan sehingga lawan melakukan blunder

(2) Blunder yang dimaksudkan harus bersifat SARA atau HAM, khususnya agama atau penggunaan kekerasan berupa pelanggaran HAM. Isu  bernuansa SARA dan HAM lebih mudah untuk membakar sentimen masyarakat

(3) Disiapkan tokoh-tokoh reaksioner yang segera memberi tanggapan atas blunder berupa pelanggaran SARA dan HAM tersebut.

(4) Dimobilisasi pemberitaan meluas untuk mempublikasikan tanggapan elite reaksioner tersebut. Dengan demikian terjadi heboh pemberitaan yang dapat memprovokasi kemarahan publik secara massal.

(5) Mempersiapkan dan mengkapitalisasi  organ di beberapa kota yang siap menggerakkan sentimen massa yang marah

(6) Melakukan replikasi atau penularan gerakan ini ke seluruh Indonesia dengan menggerakkan organ yang telah dikapitalisasi

(7) Sementara gerakan berlangsung di lapangan, dilakukan proses litigasi dengan melaporkan kasusnya ke  kepolisian. Dengan demikian ada efek kriminalisasi atas kasus tersebut

(8) Dilakukan lobby politik lebih intens dengan parpol anggota koalisi pasangan Prabowo – Sandi. Tujuannya adalah menjadikan aksi massa sebagai peristiwa sosial menjadi peristiwa politik yang punya nilai politik bagi Pilpres 2019.

(9) Jika dampak politiknya dinilai kurang signifikan,  maka aksi-aksi massa yang sudah meluas ke seluruh pelosok akan dijadikan kerusuhan berskala nasional. Dengan demikian akan diberlakukan kondisi darurat yang dapat menggagalkan pemilu.

(10) Dengan ditundanya pemilu, Jokowi yang sudah mereka buat babak belur diperkirakan akan kalah.

Tiga Kali Gagal

Dalam catatan penulis strategi mengahokkan Jokowi ini sudah 3 (tiga) kali dicoba tetapi mengalami gatot (gagal total).

Pertama, saat akan melakukan Deklarasi #2019Ganti Presiden. Deklarasi tersebut sudah diantisipasi akan mendapat reaksi keras dari pendukung #2019Tetap Jokowi. Agar deklarasi #2019Ganti Presiden menarik publik, dihadirkan artis seperti Ahmad Dani dan Neno Warisman. Acara deklarasi #2019Ganti Presiden, baik di Riau maupun di Surabaya, akhirnya memang mendapat reaksi keras dari pendukung Jokowi. Namun dari kerusuhan dalan acara deklarasi tersebut tidak ada blunder yang bisa diblowup untuk menyudutkan pemeritahan Jokowi. Misalnya peserta yang tewas tertembak senapan Polisi.

Kedua, peristiwa kebohongan artis Ratna Sarumpaet yang “menjual” foto operasi plastik untuk digunakan sebagai “blunder” yang bisa dihebohkan agar pasangan Prabowo – Sandi terkesan didzolimi. Cara ini meniru pilpres di Taiwan ketika seorang presiden inkumben ditembak oleh anggota Tim Kampanyenya sendiri agar mengesankan bahwa ia didzolimi  sebaliknya lawannya bertindak brutal. Walaupun akhirnya sang presiden memenangkan pilpres, tapi hasilnya dibatalkan karena polisi berhasil membongkar konspirasi di belakangnya. Upaya kolaborasi dengan Ratna Sarumpaet ini gagal saat ada pengakuan bahwa klaim penganiayaan hanya satu kebohongan. Justru kasus ini telah “membakar” seluruh hasil dari kampanye kebohongan yang dituduhkan ke Jokowi. Sebaliknya elit pendukung pasangan Prabowo – Sandi malah secara kolektif terlibat dalam kasus kebohongan Ratna Sarumpaet.

Ketiga, adalah terbakarnya bendera HTI yang bertuliskan kalimat Tauhid saat  acara Hari Santri Nasional di Garut. Kasus ini adalah buah dari aksi penyusupan HTI yang simpatisannya selama ini mendukung pasangan Prabowo – Sandi. Aksi “menyusup dan lakukan aksi dalam kubu lawan” semacam ini juga menjadi andalan pasangan Prabowo – Sandi. Setelah gagal lakukan penyusupan di Kampus UGM, tampaknya di Garut mereka berhasil. Sehingga Banser terpancing membakar  bendera  HTI (yang mencantumkan aksara Tauhid). Namun dari teori penyusupan, kemungkinan Banser sendiri sudah disusupi mereka untuk membuat trigger factor atau blunder yang bisa dimanipulasi menjadi heboh nasional.

Sayang memang kerusuhan untuk meramaikan kasus pembakaran bendera HTI di berbagai kota,menyusul peristiwa di Garut, tidak terblowup secara nasional. Sehingga harapan menjadikan kasus Garut sebagai strategi mengahokkan Jokowi pupus sudah. Memang tidak ada alasan lagi untuk membuat satu kerusuhan nasional, karena Banser sudah minta maaf dan polisi telah menindak tegas pelakunya.

Namun karena upaya mengahokkan Jokowi kelihatannya merupakan satu-satunya strategi agar pasangan Prabowo – Sandi menang dalam Pilpres 2019, kendati beberapa kali gagal, pelaksanaan strategi itu akan diulangi terus. Ibarat kesebelasan sepak-bola yang terus-menerus mengincar kapan harus lakukan serangan balik yang tepat, karena dengan satu-satunya cara itu mereka akan menang.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru