Senin, 15 Juli 2024

MOLOR TERUS..! Pertamina Targetkan Blok Masela Nyembur Gas di Tahun 2029

JAKARTA- PT Pertamina (Persero) menargetkan proyek Lapangan Abadi, Blok Masela dapat onstream pada 2029 mendatang. Hal tersebut menyusul masuknya konsorsium PT Pertamina (Persero) dan Petronas menggantikan Shell yang sudah hengkang dari blok gas raksasa itu.

Wakil Direktur Utama Pertamina Wiko Migantoro menyampaikan Final Investment Decision (FID) pengembangan Lapangan Abadi Masela ditargetkan dapat terlaksana pada akhir 2026 atau awal 2027.

“Untuk Blok Masela kami targetkan FID di akhir 2026 atau di awal 2027 supaya 2029 sudah berproduksi,” ujar Wiko dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (12/6/2024).

Di samping itu, Wiko membeberkan bahwa desain dan rekayasa atau front-end engineering and design (FEED) proyek LNG Abadi Blok Masela telah rampung dan telah memasuki persiapan bid document lelang.

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan untuk merealisasikan proyek Blok Masela, Inpex Corporation selaku operator Blok Masela tengah melakukan pencarian dana.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan Inpex tengah melakukan penjajakan dengan beberapa pihak funding untuk pendanaan proyek di Blok Masela. Meski begitu, ia tak memerinci secara detail mengenai skema pembiayaan. “Mereka sekarang masih penjajakan dengan para pihak funding dan tentu saja dengan Bank Jepang juga ya kan,” kata dia di Gedung Kementerian ESDM, Senin (18/3/2024).

Di sisi lain, Dwi menegaskan bahwa hingga kini belum ada rencana penambahan mitra baru untuk Inpex di Blok Masela. Menurut dia, konsorsium Blok Masela telah berkomitmen untuk mengembangkan Blok Masela usai pemerintah memberikan persetujuan revisi rencana pengembangan (plan of development/PoD) I.

“Kalau mereka sudah menyampaikan PoD berarti kan mereka punya tanggung jawab untuk melaksanakan jadi ya mereka punya untuk yang equity nya, sebagian besar kan dari perbankan,” tambahnya.

Molor Terus

Sebelumnyanl kepada Bergelora.com di Jakarta dilaporkan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan sederet biang kerok yang akhirnya membuat pengembangan Lapangan Gas Abadi, Blok Masela masih tersendat.

Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto mengatakan banyak sekali faktor yang membuat pengembangan Blok Masela jalan di tempat. Salah satunya seperti pandemi covid-19 beberapa tahun belakangan.

Ditambah lagi, Shell memutuskan hengkang dari proyek itu pada pertengahan 2020. Hal ini pun membuat proyek yang masuk dalam daftar strategis nasional tersebut mengalami kemunduran.

Sementara, untuk mencari investor pengganti Shell dengan kondisi harga minyak mentah dunia pada saat itu yang cukup rendah tidaklah mudah.

“Sehingga masalah Shell divestasi harus cari pengganti 35% kan besar gak bisa oleh operatornya,” kata Dwi dalam RDP bersama Komisi VII, dikutip Kamis (28/3/2024) lalu.

Tak berhenti di situ, setelah masuknya konsorsium PT Pertamina (Persero) dan Petronas di Blok Masela menggantikan Shell, Inpex selaku operator mengajukan revisi rencana pengembangan Blok Masela. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan net zero emission (NZE).

“Berkaitan dengan pendanaan sangat sulit peroleh pendanaan memperoleh investasi energi fosil tanpa dilengkapi dengan ramah lingkungan. Jadi rangkaian itu yang kemudian terjadi penundaan kapan selesainya ini kita yang diskusi dengan Inpex,” tambah Dwi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi D. Suryodipuro menyampaikan bahwa SKK Migas mendorong INPEX untuk dapat melakukan berbagai langkah dan upaya guna memastikan bahwa apa yang direncanakan dapat dilaksanakan sesuai waktu yang telah ditetapkan.

“Perkembangan yang ada, tidak lepas dari upaya SKK Migas untuk mendorong akselerasi pengembangan Proyek LNG Abadi sejak Pemerintah menyetujui revisi ke-2 POD I. melalui kegiatan kick off PMT di akhir Desember 2023 dan focus group discussion (FGD) di awal Februari 2024,” kata Hudi dalam keterangan tertulis.

Lebih lanjut, Hudi mengatakan pihaknya terus mendorong INPEX untuk dapat lebih aktif melakukan koordinasi dengan SKK Migas. Sehingga proyek dengan nilai investasi sebesar US$ 20,9 miliar atau sekitar Rp 324 triliun tersebut dapat onstream pada 2029.

“Untuk mendukung target long term plan (LTP) produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas 12 miliar kaki kubik per hari dapat diwujudkan” ujarnya. (Calvin G. Eben-Haezer)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru