Sabtu, 24 Februari 2024

Muhasabah Kebangsaan : Masih Ada NU!

Oleh: Al-Zastrouw

Istigasah Kubro Nahdlatul Ulama Jawa Timur tegas menyatakan dengan anggun Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat untuk semua). Bergelora.com merasa perlu memuat tulisan budayawan Gus Durian, Al-Zastrouw dengan judul asli ‘Muhasabah Kebangsaan’ di bawah ini.

 

Saya kok lama-lama geregetan sama NU (Nahdlatul Ulama), masak bikin event sebesar itu, dihadiri massa ratusan ribu orang kok ya adhem-adhem saja, tanpa ada kontroversi, perdebatan atau hiruk pikuk yang memenuhi media. Kok ya tidak cari tempat di jalan raya gitu supaya bisa memancing kegaduhan yang heroik.

Mbok ya sebelum menggelar acara sebesar itu tokoh-tokoh NU woro-woro dulu di depan media massa atau bikin status atau meme yang garang dan heroik kemudian di sebar di medsos dengan bumbu-bumbu agitasi dan sedikit fitnah agar masyarakat heboh.

Kemudian aparat keamanan sibuk mempersiapkan diri untuk antisipasi keadaan dengan kordinasi serius siang dan malam hingga perlu mengeluarkan anggaran pengamanan milayaran rupiah yang mestinya bisa untuk kebutuhan yang lebih maslahah bagi rakyat. Lebih hebat lagi kalau pelayanan publik bisa terganggu karena sibuk negosiasi dan persiapan pengamanan aksi.

Atau para tokoh-tokoj NU itu bikin agitasi yang provokatif agar semua orang resah, takut dan khawatir….. Dengan demikian maka para tokoh-tokoh ini akan diajak negosiasi dan kompromi oleh berbagai kelompok kepentingan. Bisa tidur di hotel bintang lima dengan para kolega. Setelah itu mereka akan jadi tokoh hebat di depan publik, jadi pahlawan yang dianggap bisa mengendalikan massa, karena mampu memberikan jaminan dengan menyatakan aksi super duper damai,  kemudian jadi tokoh figur hebat di media massa

Saya geregetan pada NU, kenapa mereka tidak menggunakan momentum sedahsyat itu untuk mencaci maki orang-orang yang selama ini menghina dan mencibir NU, melecehkan kyai NU dan memfitnah orang-orang yang jadi panutan massa NU.

 Mengapa para tokoh NU itu tidak menghasut ummatnya agar membenci orang-orang yang tidak sepaham dengan NU atau menghujat pemerintah yang dianggep merugikan ummat Islam dengan mengutip ayat-ayat suci. Padahal beliau-beliau kan faham ayat-ayat dan kitab suci, kenapa  tidak digunakan biar terkesan heroik dan islamik?

Kenapa elit-elit NU itu tidak mau mendramatisir dan mengeksploitir semangat warga NU yang militan itu dengan membuat cerita-cerita tentang perjuangan mereka mendatangi acara seperti kisah seorang janda yang menjual ayamnya yang mau ngendog untuk sangu berangkat ke istighatsah. Atau cerita tentang seorang bocah yang harus dipaksa berpisah dengan radio kesayangannya karena harus digadaikan untuk ongkos berangkat istighosah. Atau cerita dramatik lain yg mengharu biru dan bisa menyedot emosi kemudian diupload di medsos. Lalu membuat mistifikasi angka-angka keramat seperti 909, 999, 191 dan seterusnya pokoknya ada angka 9 gitu biar terkesan mistis dan religius.

Saya yakin banyak kader NU yang punya kemampuan mendramatisir cerita-cerita seperti itu. Tapi kenapa itu tidak dilakukan padahal cerita-cerita seperti itus sangat efektif mempengaruhi opini publik di medsos, bahkan bisa jadi bahan komodoti (dagangan-red).

Aku makin gregetan ketika di tempat itu tidak terdengar pekik takbir yang bisa membakar semangat  perlawanan dan kibaran bendera asing yang bisa mengancam kedaulatan NKRI. Malahan di sana ummat diajak menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan gegap gempita dan semangat yang menyala…. Wahh jiiiaaannn malah bikin hati makin cinta Indonesia

Kini aku jadi berpikir, siapa sebenarnya yang benar-benar ikhlas membela NKRI, menjaga keberagaman dan merajut perbedaan. Siapa yang benar-benar menerapkan dan mengamalkan ajaran dan ayat-ayat suci secara tepat dan istiqamah di negeri ini. Mereka yang tidak banyak berteriak sambil mengutip ayat dan mengobral simbol agama tapi kelakuannya mencerminkan akhlak agama? Atau mereka yang teriak-teriak pake ayat dan bertaburan simbol agama tapi ucapan dan kelakuannya jauh dari akhlak agama.

Meski gregetan tapi hati merasa tentram karena jangkar dan benteng NKRI itu ternyata masih tegak dan kokoh berdiri meski terus digerogoti. Semoga keikhlasan seperti ini tidak tdk dimanfaatkan para pecundang dan petualang.

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru