Selasa, 26 Mei 2026

MULAI KLOJOTAN NIH..! Industri Chip dan Dirgantara Amerika Kekurangan Rare Earth China

JAKARTA – Industri dirgantara dan semikonduktor Amerika Serikat menghadapi tekanan baru akibat terbatasnya pasokan rare earth dari China, terutama yttrium dan scandium.

Kelangkaan ini terjadi meskipun perang dagang kedua negara menunjukkan tanda mereda.

Dikutip dari mining.com, data Bea Cukai China menunjukkan ekspor yttrium ke AS turun tajam sejak pembatasan diberlakukan pada April. Dalam delapan bulan setelah pembatasan, ekspor hanya mencapai 17 ton, dibandingkan 333 ton pada periode yang sama sebelumnya.

Kelangkaan ini mulai berdampak pada rantai pasok industri. Dua perusahaan Amerika Utara yang menggunakan yttrium untuk pelapis mesin terpaksa menghentikan sementara produksi.

Salah satu perusahaan juga mulai menolak pelanggan kecil untuk mengamankan pasokan bagi klien utama, termasuk produsen mesin pesawat.

Harga yttrium melonjak signifikan akibat keterbatasan pasokan. Sejak November, harga naik 60% dan kini mencapai sekitar 69 kali lipat dibandingkan tahun lalu. Beberapa produsen juga mulai membatasi penggunaan bahan tersebut.

Yttrium digunakan untuk pelapis yang melindungi mesin dan turbin dari suhu ekstrem. Tanpa pelapis tersebut, mesin tidak dapat beroperasi dengan aman.

Kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu (4/3) dilaporkan,seorang pejabat pemerintah AS mengatakan beberapa produsen kini menghadapi “kekurangan” rare earth dari China. Pemerintah AS menyatakan akan memastikan akses terhadap mineral penting, termasuk melalui negosiasi dengan China dan pengembangan rantai pasok alternatif.

“Ini termasuk bernegosiasi dengan China dan memantau kepatuhan terhadap kesepakatan Presiden Trump dengan Presiden Xi, serta mengembangkan rantai pasok alternatif jika diperlukan.”

Selain yttrium, produsen chip AS juga menghadapi kekurangan scandium, bahan penting dalam produksi chip generasi baru dan perangkat 5G. Produsen semikonduktor dilaporkan mengalami keterlambatan dalam memperoleh lisensi ekspor dari China dan mulai meminta dukungan pemerintah AS.

“Ini adalah hal yang harus diawasi dan contoh nyata bagaimana China menggunakan kekuatan rare earth-nya,” kata Kevin Michaels, Managing Director AeroDynamic Advisory.

Saat ini, AS tidak memiliki produksi scandium domestik maupun sumber alternatif yang siap beroperasi. Cadangan yang tersedia diperkirakan hanya cukup untuk beberapa bulan.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas produksi industri strategis AS, termasuk pertahanan, dirgantara, dan teknologi semikonduktor.

90% Logam Rare Earth Dunia Diproses di China

Sebagian besar orang pernah mendengar bahwa Tiongkok mendominasi pasar logam tanah jarang, sekitar 90% logam tanah jarang dunia diproses di sana. Namun, mereka belum memikirkan apa arti sebenarnya ketika pasokan terputus.

Jepang telah menyadari hal ini beberapa dekade lalu dan membangun cadangan strategis yang mencakup konsumsi nasional selama dua hingga tiga tahun. Namun, Amerika Serikat tidak menimbun apa pun. Begitu pula Eropa.

Ketika China sempat membatasi ekspor tahun lalu, sebuah pabrik Ford terpaksa tutup hampir seketika. Ketika Trump mengancam akan mengenakan tarif 100%, respons China sederhana: tidak ada lagi logam tanah jarang olahan. Trump segera menarik kembali ancamannya.

Dominasi China bukan terletak pada tanahnya. Melainkan pada proses pengolahan hilir. Ketika pemerintah AS menyuntikkan dana sebesar $8,5 miliar untuk merebut kembali rantai pasokan, industri ini menyadari sebuah kebenaran pahit: pabrik tidak beroperasi menggunakan batu, melainkan logam.

“China tidak memenangkan ini dengan penambangan. Mereka menang dengan membangun seluruh sistem—pemisahan, pemurnian, logam, magnet—semuanya terhubung,” kata CEO REalloys, Lipi Sternheim dikutip dari Oilprice.com

Ia menjelaskan pada saat logam tanah jarang menjadi penting secara strategis, infrastruktur yang menentukan siapa yang sebenarnya dapat membangun sudah terkonsentrasi di satu tempat. Kemudian infrastruktur tersebut dimanfaatkan sebagai senjata, dengan Beijing memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang untuk mengontrol program pertahanan dan manufaktur canggih mana yang menerima pasokan.

Kebutuhan Militer

Sternheim mempertimbangkan dampaknya dari sisi militer. Pada tahun 2024, Ukraina memproduksi 1,2 juta drone tempur, dan setiap magnet di setiap drone tersebut diproduksi di Tiongkok. Sebuah F-35 membawa 435 kilogram logam tanah jarang. Sebuah kapal perusak generasi berikutnya milik AS membutuhkan 4,5 ton. Sebuah kapal selam nuklir membutuhkan 1,5 ton.

Tanpa pasokan material yang aman, tidak satu pun dari sistem tersebut dapat dibangun, yang berarti China secara efektif memegang kendali penuh atas produksi pertahanan Barat.

Pentagon juga mengetahuinya. Itulah mengapa peraturan pengadaan baru yang mulai berlaku pada 1 Januari 2027 akan melarang logam tanah jarang yang bersumber dari Tiongkok dari seluruh rantai pasokan pertahanan AS, mulai dari tambang hingga produk jadi.

“Itu berarti setiap kontraktor pertahanan di negara ini akan membutuhkan sumber yang berkualitas dan bukan dari Tiongkok,” tandasnya. (Web Warouw)

 

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles