Selasa, 23 Juli 2024

NAAH…! PolMark Indonesia: Majelis Taklim dan NU, Jaringan Sosial Terpenting Jelang Pemilu 2019

Polmark Indonesia dan Polmark Research Center (PRC) mengadakan diskusi bertema ‘Tiga Rentak Pilkada 2015-2018 dan Peta Baru Pilpres 2019 Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/10). Diskusi ini menghadirkan narasumber Eep Saefulloh Fatah sebagai Founder and CEO Polmark Indonesia, Rocky Gerung sebagai pengamat politik, Abdul Kadir Karding sebagai Ketua DPP PKB, Eddy Suparno, sebagai Sekjen PAN dan R. Siti Zuhro sebagai peneliti LIPI dengan moderator, Ariana Herawaty. (Ist)

JAKARTA- Untuk menghadapi pemilihan legislatif dan pemilihan presiden, jaringan sosial merupakan faktor terpenting untuk merebut suara di kotak-kotak suara pada pencoblosan di bulan April 2019 nanti. Sampai saat ini jaringan sosial dalam Pengajian Majelis Taklim sebesar 40,7% dan Nahdlatul Ulama sebesar 34,2% masih menempati posisi paling strategis. Sementara jaringan sosial berikutnya adalah Muhammadiyah hanya sebesar 6,7%. Demikian hasil riset dari Polmark Research Center (PRC)  yang dilakukan dari 13 – 25 November 2017 pada 2.600 responden yang dipaparkan oleh Eep Saefulloh Fatah sebagai Founder and CEO Polmark Indonesia di  Jakarta, Kamis (18/10).

Lebih rinci dipaparkan, di Jawa, dalam 16 survei yang dilakukan, peta jaringan sosial menggambarkan dominasi Pengajian Majelis Taklim sebesar 43,3%, Nahlatul Ulama sebesar 36,4% dan Muhammadiyah sebesar 6,8%.

Sementara 13 survei di Sumatera, Majelis Taklim sebesar 33,0%, Nahdlatul Ulama sebesar 19,05% dan Muhammadiyah hanya sebesar 6,2%.

Sebanyak 13 survei di wilayah lainnya menunjukkan Pengajian Majelis Taklim sebesar 16,3%, Nahlatul Ulama sebesar 11,3% dan Muhammadiyah sebesar 5,5%.

Sehingga rata-rata 42 survei provinsi menunjukkan Majelis Taklim sebesar 31,8%, Nahdlatul Ulama sebesar 23,4% dan Muhammadiyah hanya sebesar 6,2%.

Khusus untuk Provinsi NTB, dalam dua kali survei yang dilakukan (2018), simpatisan dan anggota aktif Nahdatul Waton berada dalam jumlah yang signifikan, rata-rata 15, 2% .

Karakter Provinsi

Karakteristik provinsi dan jaringan sosial terpenting juga dapat dipetakan dalam 34 survei yang dilakukan. Lebih dari 80% pemilih muslim berada di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, Bangka-Belitung, Riau, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, NTB, Jawa Timur, Kalimatan Timur. Pemilih muslim di sini di dominasi oleh Pengajian Majelis Taklim sebesar 35,2%, Nahdlatul Ulama sebesar 26,6% dan Muhammadiyah hanya sebesar 6,4%.

Dari 6 survei yang dilakukan, sebanyak 67%-80% pemilih muslim di Kepulauan Riau, Kalimatan Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara didominasi oleh Pengajian Majelis Taklim sebesar 17,7%, Nahdlatul Ulama sebesar 11,6% dan Muhammadiyah hanya sebesar 6%.

Dari 2 survei yang dilakukan, sebanyak kurang dari 67% pemilih muslim di Sumatera Utara dan di Sulawesi Utara Utara didominasi oleh Pengajian Majelis Taklim sebesar 20,1%, Nahdlatul Ulama sebesar 6,1% dan Muhammadiyah hanya sebesar 4,5%.

Keunikan Pemilu 2019

Keunikan Pemilu 2019 adalah pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) diadakan serentak. Maka, kampanye Pilpres diadakan bersamaan dengan kampanye Pileg. Partai Politik yang tidak berhasil menempatkan kadernya di dalam bursa Pilpres harus menghadapi komplikasi kampanye yang sulit dikelola. Mereka harus menjalankan kampanye Pileg sambil mengkampanyekan kandidat Pilpres yang merupakan kader atau usungan partai lain.

Tiga Jaringan Sosial

Pada bagian ini, fokus diarahkan pada jaringan sosial terpenting di kalangan para pemilih. Sumber datanya adalah jawaban responden untuk pertanyaan survei mengenai keterlibatan mereka dalam organisasi, paguyuban atau jaringan sosial yang ada yaitu NU, Muhammadiyah, Majelis Ta’lim, Partai Politik, Organisasi Kepemudaan, Organisasi Kemasyarakatan, Paguyuban berbasis daerah atau kesukuan, dan lain-lain.

Laporan ini kemudian memfokuskan diri pada jaringan sosial terpenting yang di dalamnya para pemilih melibatkah diri sebagai simpatisan dan anggota aktif. Dari banyak nama organisasi, paguyuban dan jaringan sosial yang disebut oleh pemilih, laporan ini hanya memfokuskan diri pada tiga organisasi/jaringan sosial yang paling penting, yakni yang simpatisan dan anggota aktifnya terbesar dalam semua survei yang diadakan.

Kepada Bergelora.com dilaporkan ini merupakan hasil olahan data dari 106 survei PolMark Research Center – PolMark Indonesia di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota dalam rentang waktu 20 Mei 2013 sampai dengan 6 Juni 2018. Metode pengambilan sampel untuk masing-masing survei tersebut adalah multistages random sampling.

Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Nasional adalah 2.250 orang MoE 2.1% dan 2600 orang MoE 1.9%. Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Provinsi adalah 1.200 orang dengan margin of error (MoE) + 2,9%.

Jumlah responden untuk masing-masing survei di tingkat Kabupaten dan Kota adalah 880 orang (MoE + 3,4%) dan 440 orang (MoE + 4,8%). Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah responden atau calon pemilih yang pandangannya tercakup dalam laporan ini adalah 96.930 orang.

Polmark Indonesia dan  Polmark Research Center (PRC) mengadakan diskusi bertema ‘Tiga Rentak Pilkada 2015-2018 dan Peta Baru Pilpres 2019 Baru, Jakarta Selatan, Kamis (18/10). Diskusi ini menghadirkan narasumber Eep Saefulloh Fatah sebagai Founder and CEO Polmark Indonesia, Rocky Gerung sebagai pengamat politik, Abdul Kadir Karding sebagai Ketua DPP PKB, Eddy Suparno, sebagai Sekjen PAN dan R. Siti Zuhro sebagai peneliti LIPI dengan moderator, Ariana Herawaty. (Web Warouw)

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

342FansSuka
1,543PengikutMengikuti
1,100PelangganBerlangganan

Terbaru