Kamis, 29 Juli 2021

Obituari: Carmel Yang Tak Pernah Menyerah….!

Carmel Budiardjo, 96 tahun akhirnya beristirahat di London. Setelah perjuangan panjang untuk hak-hak para tahanan politik (TAPOL) Orde Baru ditingkat internasional. Sebelumnya sebagai pejuang, Carmel sudah terlibat dalam pembentukan Republik Indonesia menuju masyarakat adil makmur, yang disabot oleh imperialis dan kaki tangannya di Indonesia pada tahun 1965. Carmel tidak pernah kapok dan menyerah. Saleh Abdullah, aktivis 1980-an menulis di akun Facebooknya, sebuah Obituarinya sebagai penghormatan terakhir. Bergelora.com memuatnya kembali. (Redaksi)

Oleh: Saleh Abdullah

CAROLYNE mengantar saya ke rumah di pinggiran kota London itu jelang sore. Rumah itu bersih dan rapihnya banget-banget, dengan halaman belakang berumput yang juga tampak sangat dirawat. Semua pada tempatnya. Rasanya tak sebutir debupun saya temui di rumah itu. Betul-betul. Sekira 3 hari saya tinggal di rumah itu. Saya akan ke Geneva untuk menghadiri dan pidato pada sidang sub komisi HAM PBB, tahun 1990. Kalau tidak salah ingat, rumah itu juga menjadi kantor tempat bekerjanya: TAPOL. Sebuah NGO yang bekerja melakukan kampanye tentang pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia.

Carmel Budiardjo, penghuni rumah tersebut, membimbing saya membuat teks pidato yang tidak boleh lebih dari 7 menit ketika dibacakan. Sebagai Campaigner dan lobbiest kawakan pada sidang-sidang HAM PBB, saya direkomendasikan untuk “belajar” darinya sebelum ke Geneva. Dari seorang expert HAM PBB asal Belgia, ketika di Geneva, saya dengar, “sidang-sidang sub komisi HAM tidak akan seru kalau tidak ada Carmel, Ramos Horta, dan kawan-kawan. Merekalah yang selalu membuat suasana pertemuan jadi hangat dan menarik.”

“Latih dirimu membaca teks ini. Jangan lebih dari 7 menit. Nanti kalau di sub-komisi harus aktif. Bicaralah kepada banyak orang, terutama para expert. Sampaikan pada mereka apa-apa yang ada di dalam teksmu itu,” begitu pesan Carmel. Lembut, penuh senyum, tapi juga tegas. Ia betul-betul sosok perempuan aktifis senior yang berwibawa. 3 hari di tempatnya waktu istirahat saya hanya tidur, makan, minum teh di halaman belakang, dan ngobrol-ngobrol santai dengan Carmel. Selebihnya saya berlatih pidato, baca-baca buku, dan tanya-tanya beberapa hal relevan.

Carmel Bidiardjo lahir pada 18 Juni 1925 di London. Alumni fakultas Ekonomi Universitas London ini menikah dengan Budiardjo dan dikaruniai 2 orang anak. Pada 1951 Carmel dan keluarga pindah ke Indonesia dan bekerja di Departemen Luar Negeri. Ia juga aktif di Himpunan Sarjana Indonesia (HSI). Peristiwa 65 pecah. Suaminya ditahan Orba Suharto selama 12 tahun. Carmel, karena keterlibatannnya di HSI yang dianggap sebagai organisasi underbow PKI, ikut ditangkap dan ditahan selama 3 tahun, tanpa pengadilan. Karena lobby pemerintah Inggris Carmel berhasil dibebaskan dan pulang ke Inggris.

Tidak kapok, bersama dengan sejumlah temannya Carmel mendirikan TAPOL pada 1973. Dengan TAPOL Carmel dan kawan-kawan melakukan kampanye international tentang pelanggaran-pelanggaran HAM di Indonesia. Aceh, Lampung, Papua, Timor Timur, Papua, korban-korban 65, penangkapan aktifis dan mahasiswa, dan lain-lain. Selain menerbitkan news letter TAPOL, TAPOL juga menerbitkan beberapa buku yang merupakan hasil-hasil investigasi mereka tentang pelanggaran HAM di Indonesia. Salah satu buku TAPOL yang saya ingat betul judulnya adalah Indonesia: Muslims on Trials (1984). Buku yang berlatar belakang Peristiwa Tanjung Priok (1984) ini menyoroti pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan Suharto dan pasukan-pasukannya terhadap para tokoh Islam yang memprotes pembantaian terhadap umat Islam di Tanjung Priok.

Karena vocal dan aktifitas Carmel dan TAPOL yang membuat Suharto dan rejimnya jengkel, Pangdam Jaya Kentot Harseno pernah mengumpulkan para pimpinan perguruan tinggi di Jakarta dan memberi breafing agar para mahasiswa dikendalikan dan tidak terhubungan dengan mereka yang dianggap tokoh-tokoh komunias internasional, di antaranya Carmel Budiardjo.

Setelah Timor Timur lepas dari Indonesia, menjadi negara Timor Leste, saya usulkan ke beberapa teman di Timor Leste agar ada nama jalan di Dili yang memakai nama Carmel Budiardjo. Karena sudah banyak sekali yang dilakukan Carmel sampai Timor Leste merdeka.

Dini hari tadi, pada jam postingan WA seorang teman yang saya terima dari Amsterdam, 01:57, berbunyi: “Leh, Carmel meninggalkan kita…”

Carmel telah wafat di London. 96 Tahun adalah usia yang panjang. Dari mulai negeri ini merdeka dan merangkak untuk berdiri, hingga hari ini, Carmel terus memonitor. Terima kasih Carmel atas semua kebaikan dan kerja kerasmu di bidang hak asasi manusia. Istirahatlah dalam damai.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

6FansSuka
8PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru