Kamis, 29 Juli 2021

OBITUARI MUNIF LAREDO: Ketua Umum SMID Yang Pertama Itu Telah Pergi Selamanya

Munif Laredo, Ketua Umum Pertama SMID, Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi berangkat duluan. Ia adalah seorang orator yang membangkitkan perlawanan dalam aksi-aksi mahasiswa dan rakyat dimasa Orde Baru yang tak kenal takut. Petrus H. Harijanto, mantan Sekjen Partai Rakyat Demokratik.(PRD) menulis obituari untuknya dan dikutip Bergelora.com. (Redaksi)

Oleh: Petrus Hari Harijanto

MALAM itu udara Yogya terasa gerah sekali, membuat tubuhku berkeringat. Saat itu aku dan Munif sedang duduk di pinggir jalan menunggu datangnya bus jurusan ke Surabaya. Saking lamanya membuat kami berdua bisa mengobrol dengan penjual gudeg pinggir jalan.

“Mas, Merapi mengeluarkan “Wedus Gembel”. Katanya banyak korban yang dibawa ke rumah sakit,” ungkap sang penjual gudeg.

Belum sempat aku bertanya lebih jauh lagi bus jurusan Surabaya datang. Aku dan Munif segera melambaikan tangan agar bus berhenti. Kami bergegas naik karena hari telah larut dan kuatir bus berikutnya jaraknya semakin lama.

Peristiwa ini adalah pertama kalinya aku dan Munif berpergian jarak jauh. Kami berdua baru saja terpilih menjadi Pengurus Pusat SMID (Agustus 1995). Munif menjadi Ketua Umum dan aku menjadi Ketua Departemen Pengembangan Organisasi.

Hari itu kami akan menuju Surabaya untuk meninjau calon cabang SMID Surabaya. Setelah dari Surabaya, kami berdua rencananya akan diantar Herman Hendrawan (korban aktivis diculik dan sampai hari ini belum diketemukan) dan Nia menuju Jember,untuk menemui Aktivis Pers Mahasiswa SAS, Fakultas Sastra Universitas Jember, yang baru saja dibredel.

Hampir setiap hari, aku dan Munif keliling kota-kota untuk mendorong kawan-kawan mendeklarasikan dirinya menjadi SMID cabang.

Bagiku, menjadi pengurus pusat adalah hal baru. Aku harus bekerja bersama kawan-kawan dari berbagai kota. Departemen agitasi dan propaganda dijabat Anom Astika (Surabaya), Departemen Hubungan Luar Negeri dijabat Bimo Nugroho (Yogyakarta), Sekjen dijabat Fernando Manulang (Jakarta). Sementara aku punya dua staf, yakni Yanto (Yogyakarta), Kelik Ismunanto (Solo). Dewi Marhaeni dari Jakarta menjadi sekretaris.

Sesuatu yang baru juga karena SMID telah menjelma menjadi organisasi tingkat nasional. Bagi kami seperti membuka hutan. Yang terpilih harus mandiri mencari dana untuk membiayai operasional organisasi. Boro-boro membiayai aktivitas organisasi, untuk makan saja kami kesusahan,

Aku, Munif, Anom, Yanto, Kelik harus tinggal di Kantor Walhi. Sebutan kami “Walhi Malam”. Malam hari kami baru bisa beraktivitas setelah seluruh kru Walhi pulang. Pagi hari kami harus melipat kasur dan keluar ruangan karena akan segera berdatangan para staf Walhi.

Seringnya hanya makan mie goreng dan roti seharga Rp 150. Yang menggembirakan bila Munif mengajak kami makan ke rumah keluarganya di Jakarta. Kami punya kesempatan makan enak. Atau diajak rapat di rumah Fernando Manulang, di sana kami bisa menyantap sosis. Sesekali Anom mengajak makan ke Condet di mana dua kakaknya Agung Ayu dan Gungtri bersama Fay tinggal.

Akhirnya, kami tak kuat menahan lapar setiap harinya dan pindah ke Depok, tempat kawan-kawan organizer buruh bermarkas.

Bisa dibilang cukup lama hidup satu kolektif bersama Munif. Aku lupa pertama kali berjumpa denganya. Yang jelas, sebelumnya aku sering mendengar cerita kawan-kawan Yogya kalau dirinya adalah “Macan Mimbar Bebas”. Kalau sudah pegang megaphone dalam aksi, ia akan menjadi orator yang ulung, mampu membakar semangat massa.

Dalam berkomunikasi, Munif seorang yang ramah dan mudah tersenyum. Gaya bicaranya bercerita. Ketika mengagitasi orang lewat model bercerita yang mampu menggugah kesadaran politik si target.

Penampilan dia yang rapi dan face wajahnya yang kalem tak menandakan Munif seorang demonstran. Hanya Jayadi yang mampu menandinginya dalam kemampuan memikat perempuan. Dua orang itu bila bertemu cewek di pinggir jalan, tak sampai lima menit sudah bisa mengetahui alamat rumah sang cewek.

Peristiwa 27 Juli lah yang membuat kami berdua berpisah. Selama aku di dalam penjara sudah tak mendengar kabar beritanya lagi.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu aku bertemu kembali dengannya di rumah kontrakanku di Jalan Pertani. Ia menumpahkan semua isi hatinya. Ia katakan bahwa dirinya ditangkap dan disiksa tanpa ada orang yang mengetahuinya.

“Aku disiksa berhari-hari sampai tubuhku hancur,” ujarnya dengan terbata.

Munif ingin aku mempercayai pengakuannya. Selama bertahun-tahun dia hanya berkomunikasi denganku. Aku melihat seperti kawan yang kesepian, terpisah dengan kawan-kawan lamanya. Ketika berkomunikasi dia selalu haus bertanya kabar kawan-kawan lamanya. Dia akan bahagia bila mendengar si A sudah sukses.

Munif sangat fasih menceritakan si A, sangat hapal momen kebersamaan dengan si A, Si B dan lainnya.

Bertahun-tahun dia menyepi dari dunia gerakan, tinggal di Moga. Dia menjadi menantu seorang haji yang aktif di Muhamadiyah. Punya anak laki-laki kembar.

“Mampirlah ke Moga, aku sekarang buka optik dan apotek,” rayunya ke aku.

“Suatu hari Munif mengeluh ke aku karena dikerjain aparat. Sang aparat pura-pura membeli amoxilin tanpa resep. Setelah itu langsung diproses karena dianggap menjual antibiotik tanpa resep. Katanya, ujung-ujungnya uang.

Munif tetaplah seperti yang dahulu, akan sedih bila temannya susah. Ia akan dengan ringan tangan membantu kawannya. Berkali-kali dia membeli buku ke aku dengan jumlah yang begitu banyak. Aku tahu buku itu tidak akan dibacanya semua, ia hanya ingin membantu aku.

Beberapa bulan lalu kesepian Munif mulai sirna. Ia aku masukan ke WAG Klub Sepeda Alumni SMID. Mulailah dia bisa menyapa kawan-kawannya yang lama itu. Bahkan, ketika ayahnya meninggal tanggal 1 Juli lalu semua menyatakan rasa duka cita kepada Munif.

Kok sepertinya itu caramu berpamitan dengan kami untuk pergi selamanya. Malam tadi berita kepergianmu membuat aku shock dan menangis.

Kamu orang baik, pergilah dan temuilah Tuhanmu. Damailah dalam tidur panjangmu.

Artikel Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

6FansSuka
8PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terbaru