JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengklaim Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang masuk 5 besar dunia. Dari segi aset, Danantara memiliki US$ 1.042 miliar atau sekitar Rp 17.031 triliun (kurs Rp 16.345).
Hal ini dipamerkan Prabowo pada sambutannya di depan kepala daerah dalam agenda Asosiasi Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) Otonomi Expo 2025, di ICE BSD, Tangerang, Banten.
“Kekayaan kita luar biasa. Saudara-saudara saya sudah buktikan aset yang ada di pemerintah, aset BUMN saya kumpulkan di Danantara nilainya lebih dari US$ 1.000 miliar,” beber Prabowo dikutip Bergelora.com di Jakarta Jumat (29/8/2025).
Aset sebesar itu disebut Prabowo menjadi kelima yang terbesar di dunia. Nomor satu adalah Norwegia dengan Norway Goverment Pension Fund Global dengan aset US$ 1.740 miliar.
Kemudian ada SWF asal China mengisi posisi kedua dan ketiga. Lalu, SWF dari Uni Emirat Arab di posisi keempat dalam susunan dana investasi dengan aset terbesar di dunia. Setelah itu baru Indonesia dengan Danantara.
“Sovereign fund kita sekarang mungkin ke-5 di dunia. Norway, China, China itu sebetulnya punya 3, Abu Dhabi, baru kita. Tidak main-main. Selama ini tercecer nggak jelas,” kata Prabowo.
Daftar 5 SWF besar di dunia dari data yang dipaparkan Prabowo:
1. Norway Goverment Pension Fund Global dengan aset US$ 1.740 miliar (sejak 1990)
2. China Investment Corporation (CIC) dengan aset US$ 1.330 miliar (sejak 2007)
3. SAFE Investment Company dengan aset US$ 1.090 miliar (sejak 1997)
4. Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dengan aset US$ 1.060 miliar (sejak 1976)
5. BPI Danantara dengan aset US$ 1.042 miliar (sejak 2025)
Terbitkan Patriot Bond
Kepada Bergelora.com di Jakqrta dilaporkan sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan menerbitkan instrumen pembiayaan strategis berupa surat utang Patriot Bond.
Adapun penerbitan Patriot Bond sendiri nantinya akan dilakukan dengan mekanisme private placement.
Dalam mekanisme private placement kali ini, Patriot Bond yang diterbitkan oleh Danantara akan ditawarkan secara langsung kepada sekelompok kecil investor terpilih, dalam hal ini kepada konglomerat dan kelompok usaha besar di Indonesia dan bukan kepada masyarakat umum. Dengan kata lain, surat utang ini tidak tersedia secara bebas dan tidak bisa diserap oleh investor ritel.
Sejumlah pebisnis tersohor, pemilik konglomerasi bisnis terkemuka di Indonesia telah mengungkapkan antusiasme dan ketertarikan atas penerbitan Patriot Bond ini.
Orang terkaya Indonesia pemilik Grup Barito, Prajogo Pangestu, mengungkapkan penerbitan ini harus dimanfaatkan karena memberikan kesempatan bagi pebisnis untuk memberikan kontribusi lebih.
“Pembangunan Indonesia adalah tanggung jawab bersama, Patriot Bonds memberi kesempatan bagi dunia usaha untuk berkontribusi dalam transformasi ekonomi nasional,” sebut Prajogo dalam keterangan tertulis.
Sementara itu pengendali kelompok usaha Sinar Mas, Franky Widjaya menyoroti percepatan pertumbuhan dari penerbitan surat utang ini.
“Instrumen ini memberi kepastian investasi sekaligus mempercepat pertumbuhan yang inklusif bagi masyarakat luas,” ungkap Franky.
Antusiasme yang sama juga dibagikan oleh pemilik Grup Adaro, Garibaldi ‘Boy’ Thohir, yang menurutnya akan sangat berguna dan dampaknya dirasakan oleh masyarakat Indonesia secara luas.
“Patriot Bonds mencerminkan semangat gotong royong. Apalagi instrumen ini akan mendanai proyek waste-to-energy yang sangat dibutuhkan rakyat Indonesia,” ujar Boy.
Sebagai informasi, total emisi yang akan diterbitkan adalah senilai Rp 50 triliun dan ditawarkan dalam dua tenor berbeda yakni 5 dan 7 tahun. Sementara itu kupon atau imbal hasil yang ditawarkan dikabarkan berada di level 2%.
Secara umum Danantara mengungkapkan penerbitan Patriot Bond ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional. Adapun secara lebih spesifik, emisi dari penerbitan surat utang spesial tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek transisi energi, yakni pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy). Selain itu Patriot Bond ini juga diharapkan dapat memperluas basis pembiayaan domestik. (Calvin G. Eben-Haezer)