Rabu, 2 September 2026

RI SIAP HADIR NIH..! Putin Bertemu Xi Jinping, Rusia Ingin Kerja Sama AI dengan China

JAKARTA – Moskow berencana menjalin kerja sama dengan Beijing di bidang kecerdasan buatan (AI) dan inovasi digital. Hal ini disampaikan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada Presiden China Xi Jinping saat kedua pemimpin bertemu di Kirgistan.

Dilansir AFP, Selasa (1/9/2026), keduanya tiba di negara Asia Tengah tersebut untuk menghadiri pertemuan puncak dua hari Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO), sebuah blok regional yang bertujuan menjadi penyeimbang kekuatan Barat.

Rusia, yang pasukannya sedang terjebak dalam konflik di Ukraina, telah mempererat hubungan dengan pelanggan minyak utamanya, China–negara yang tidak pernah mengecam Moskow atas invasi yang telah berlangsung selama empat setengah tahun itu.:

“Kerja sama berkembang dengan sukses di berbagai bidang,” ujar Putin kepada Xi menjelang pembicaraan mereka.

Kepqea Beegwlora.com si Jakarta, Rabu (2/3( dilaporkan, pertemuan terakhir mereka berlangsung pada bulan Mei di Beijing.

“Inovasi digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan, juga membuka peluang baru bagi pembangunan ekonomi negara kita,” kata Putin.

Dalam beberapa bulan terakhir, Kremlin berupaya memperketat kendali atas ranah daring dengan menerapkan pemutusan akses internet massal secara berkala serta pembatasan terhadap aplikasi pesan populer.

Moskow mendorong warga Rusia untuk menggunakan platform pesan Max yang didukung pemerintah–sebuah aplikasi serbaguna tanpa enkripsi yang mirip dengan WeChat milik China; aplikasi ini menuai kritik karena dianggap menimbulkan kekhawatiran terkait privasi dan potensi pengintaian.

Pemerintah Rusia juga berulang kali mengancam akan memblokir situs-situs milik asing; langkah ini dipandang oleh para aktivis hak asasi sebagai bagian dari upaya lebih luas pihak berwenang untuk mengendalikan dan memantau penggunaan internet.

Bahas Ketidakpastian Global

Presiden Russia, Vladimir Putin, dan Presiden Tiongkok. Xi Jinping, pada Senin (31/8) bertemu dan melakukan pembicaraan di Kyrgyzstan, tempat selusin kepala negara lainnya juga berkumpul untuk mengikuti KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Kedua pemimpin negara itu terakhir kali bertemu pada Mei lalu.

Turut hadir di KTT blok regional yang digelar di Bishkek itu pemimpin dari Iran, Masoud Pezeshkian, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Presiden India, Narendra Modi, dan Presiden Pakistan, Shehbaz Sharif, serta sejumlah pemimpin negara lain.

KTT SCO ini berlangsung empat setengah tahun setelah invasi Moskwa ke Ukraina dan enam bulan setelah dimulainya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Putin dan Xi sebelumnya telah menggunakan KTT SCO untuk mempromosikan visi mereka tentang dunia multipolar dan menampilkan front persatuan melawan Barat.

Xi mengatakan kepada Putin bahwa dia senang bisa bertemu dengannya, dan menyatakan bahwa hubungan Russia-Tiongkok telah menjadi lebih solid dan prospek hubungan kedua negara  akan semakin cerah.

“Tingkat ketidakpastian dalam tatanan internasional jelas telah meningkat,” kata pemimpin Tiongkok itu.

Sementara itu Putin mengatakan kepada Xi bahwa jalinan kerja sama kedua negara telah berkembang dengan sukses di semua bidang.

Saat ini perekonomian Russia semakin bergantung pada Tiongkok setelah invasi Moskwa selama 4,5 tahun ke Ukraina. Sementara itu negara-negara Barat telah menyerukan kepada Beijing untuk menekan Moskwa agar mengakhiri serangannya.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan kepada media Russia bahwa keduanya hanya membahas perang Ukraina secara sepintas.

Selain dengan Xi Jinping, Putin juga mengadakan pembicaraan terpisah dengan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Russia dan Iran yang termasuk negara-negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia, telah memperdalam hubungan militer dan ekonomi mereka secara besar-besaran sejak Moskwa menginvasi Ukraina.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah memperingatkan Moskwa dan Beijing agar tidak mempersenjatai Iran.

Pertemuan Putin dengan Pezeshkian berlangsung beberapa hari setelah direktur CIA, John Ratcliffe, melakukan kunjungan langka ke Moskwa, dengan media AS berspekulasi bahwa ia mungkin telah membahas isu Ukraina dan Iran dengan rekan-rekannya dari Russia.

Raih Momentum

Secara historis, SCO fokus membahas isu-isu ekonomi, tetapi telah meraih momentum dalam beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Moskwa dan Beijing. Selain 10 anggotanya, kini organisasi tersebut memiliki 15 mitra dialog, termasuk dengan Turki, Arab Saudi, dan Qatar. Selain itu, terdapat dua negara pengamat yaitu Afghanistan dan Mongolia.

KTT Bishkek berlangsung pada saat beberapa anggota SCO berada di tengah-tengah perang nyata atau perang dagang, dengan pemberlakuan tarif AS terhadap barang-barang Tiongkok dan India.

Bulan ini, AS memberlakukan sanksi sekunder terhadap mitra dagang Iran di sektor emas, teknologi, aset digital, penerbangan, dan transportasi maritim, dengan tujuan melumpuhkan ekonomi Teheran. Selain itu Washington DC juga mengancam sekutu Iran dengan sanksi.

Tiongkok yang merupakan negara importir utama minyak Iran, menanggapi ancaman AS itu dengan mengatakan bahwa mereka akan dengan tegas membela kepentingannya.

Sedangkan Iran yang telah dikenai sanksi sejak revolusi tahun 1979, secara konsisten menyatakan bahwa mereka tidak akan menyerah pada tekanan ekonomi walau Presiden Pezeshkian mengakui bahwa negaranya saat ini menghadapi kesulitan ekonomi.

Teheran percaya bahwa keanggotaan dan partisipasi aktifnya dalam aliansi seperti SCO ini dapat memungkinkannya untuk menghindari sanksi AS dan Eropa, walau manfaat nyata dari kelompok tersebut masih belum pasti,” ungkap Mohammad Hassan Najmi, seorang pakar hubungan internasional. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,900PelangganBerlangganan

Latest Articles