Selasa, 26 Mei 2026

IRAN OGAH NIH..! Trump Ungkap AS Siap Setop Perangi Iran, Kirim 15 Syarat Perdamain

JAKARTA – Presiden Donald Trump mengatakan AS dan Iran saat ini tengah melakukan negosiasi, bahkan menyebut Teheran menunjukkan keinginan mencapai kesepakatan damai. Ada 15 poin pengakhiran perang yang disebut telah dikirimkan Washington ke Teheran

Pernyataan itu disampaikan di tengah bantahan Iran yang menegaskan tidak ada pembicaraan langsung dengan Washington.

Berbicara di Oval Office pada Selasa (24/3/2026), Trump menyatakan bahwa ia memutuskan mundur dari ancaman sebelumnya untuk memerintahkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses diplomatik yang sedang berlangsung. Ia menyebut langkah tersebut diambil “berdasarkan fakta bahwa kami sedang bernegosiasi”.

“Mereka berbicara dengan kami, dan pembicaraan mereka masuk akal,” kata Trump ketika diminta menjelaskan perubahan sikapnya.

Laporan lain muncul beberapa jam kemudian. Harian The New York Times, mengutip dua pejabat yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa AS telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang. Menurut laporan itu, dokumen tersebut disampaikan melalui Pakistan.

Namun, belum jelas seberapa luas rencana tersebut telah diedarkan di kalangan pejabat Iran. Surat kabar itu juga menyebut belum mengonfirmasi apakah Israel, yang menyerang Iran bersama AS, akan mendukung rencana tersebut.

Sehari sebelumnya, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa terdapat “sekitar 15” poin kesepakatan antara Washington dan Teheran. Ia menambahkan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir menjadi prioritas utama.

“Mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir adalah ‘Nomor 1, 2, dan 3’,” ujar Trump.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan sejumlah pejabat AS terlibat dalam negosiasi tersebut, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Sebelumnya ia juga mengatakan utusan khusus AS Steve Witkoff dan menantunya yang juga penasihat dekat, Jared Kushner, telah melakukan pembicaraan dengan mitra Iran pada Minggu malam.

Di tengah perbedaan pesan antara Washington dan Teheran mengenai negosiasi, sejumlah media melaporkan bahwa para pemimpin kawasan melakukan upaya diplomatik di belakang layar untuk membantu mengakhiri perang.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Selasa sebelumnya menyatakan melalui platform X bahwa negaranya bersedia memfasilitasi pembicaraan antara kedua pihak. Trump kemudian membagikan tangkapan layar unggahan Sharif tersebut di akun resmi Truth Social miliknya.

Ketika ditanya apakah unggahan Trump menandakan ia akan menerima tawaran Pakistan, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada CNBC bahwa pembahasan diplomatik tersebut bersifat sensitif.

“Ini adalah pembahasan diplomatik yang sensitif dan Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui media berita,” tuturnya.

Leavitt menambahkan bahwa operasi militer tetap berjalan meskipun peluang diplomasi muncul.

“Ketika Presiden Trump dan para negosiatornya mengeksplorasi kemungkinan diplomasi yang baru ini, Operation Epic Fury tetap berlanjut tanpa henti untuk mencapai tujuan militer yang ditetapkan oleh panglima tertinggi dan Pentagon,” ujarnya.

Dalam pernyataan Selasa sore, Trump kembali mengulang klaimnya bahwa Amerika Serikat telah memenangkan perang di Iran. Ia mengatakan tujuan utama konflik tersebut adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Kami sedang membicarakan hal itu, dan saya tidak ingin mengatakannya terlebih dahulu, tetapi mereka telah setuju bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya,” tuturnya.

Meski demikian, pemerintahan Trump belum mundur dari rencana meminta Kongres meloloskan paket pendanaan tambahan terkait perang yang dilaporkan dapat mencapai US$200 miliar.

Iran Menolak Damai

Ketua parlemen Iran dan salah satu tokoh non-ulama yang paling terkemuka, Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah keras adanya pembicaraan. Teheran juga menuduh Trump sedang melakukan “manipulasi ke pasar energi”.

Pernyataan Trump itu dikatakan setelah sebelumnya, ia memberi waktu hingga Selasa malam untuk membuka Selat Hormuz seraya mengancam akan membombardir pembangkit listrik Iran. Perlu diketahui, harga minyak turun dan pasar saham melonjak usai pernyataan ia berikan.

Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan memang mereka telah menerima pesan melalui “negara-negara sahabat” tentang permintaan dari Amerika untuk berdialog. Namun membantah ada “negosiasi” sejak awal perang, sesuatu yang sebelumnya juga diklaim Trump.

“Selama beberapa hari terakhir, pesan diterima melalui beberapa negara sahabat yang menunjukkan permintaan AS untuk negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang,” kata juru bicara kementerian luar negeri Esmaeil Baqaei, menurut kantor berita resmi IRNA, dikutip AFP.

“Namun kami membantah adanya negosiasi atau pembicaraan dengan Amerika Serikat selama 24 hari terakhir perang yang dipaksakan,” tegasnya.

Sekutu AS di Teluk Siap Terlibat Perangi Iran

Sementara itu kepada Bergelora.com di Jakarta, Rabu 25/3) dilaporkan, sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah dilaporkan semakin mendekati keputusan untuk terlibat dalam perang melawan Iran.

The Wall Street Journal melaporkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mulai condong bekerja sama dengan AS dan Israel setelah serangan Iran berulang kali mengganggu perekonomian mereka dan berpotensi memperkuat pengaruh Teheran atas Selat Hormuz.

Dilansir Anadolu Anjasi, langkah terbaru negara-negara Teluk dinilai memperkuat kemampuan AS melakukan serangan udara sekaligus membuka jalur baru untuk menekan sumber pendanaan Iran.

Meski begitu, mereka belum secara terbuka mengerahkan pasukan militer ke medan perang.

Negara-negara Teluk sebelumnya menyatakan enggan terlibat langsung dalam konflik dengan Iran, namun tekanan meningkat seiring ancaman Teheran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan kaya energi tersebut.

Arab Saudi dilaporkan mulai membuka akses bagi militer AS untuk menggunakan Pangkalan Udara King Fahd di wilayah barat Semenanjung Arab.

Sikap ini menandai perubahan setelah sebelumnya Riyadh menolak fasilitas dan wilayah udaranya dipakai untuk menyerang Iran. Perubahan posisi ini terjadi di tengah serangan rudal dan drone Iran terhadap Riyadh serta fasilitas energi Saudi.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan, menegaskan kesabaran negaranya terhadap serangan Iran tidak tanpa batas.

Sementara itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman disebut ingin memulihkan efek penangkal (deterrence) dan semakin dekat mengambil keputusan untuk bergabung dalam serangan.

Di sisi lain, UEA mulai menekan aset milik Iran, yang selama ini menjadi salah satu jalur penting bagi aktivitas ekonomi Teheran.

Dubai dilaporkan menutup Iranian Hospital dan Iranian Club sebagai bagian dari langkah yang menargetkan institusi yang dianggap terkait dengan pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

UEA, yang telah lama menjadi pusat finansial bagi bisnis Iran, juga memperingatkan bahwa mereka dapat membekukan miliaran dolar aset Iran.

Langkah tersebut berpotensi membatasi akses Iran terhadap valuta asing dan jaringan perdagangan global, sehingga dapat semakin menekan ekonominya yang sudah terdampak inflasi dan sanksi.

Serangan terbaru terhadap fasilitas energi di Arab Saudi, Kuwait, UEA, dan Qatar meningkatkan kekhawatiran kawasan, sekaligus memperkuat sikap bersama negara-negara Teluk terhadap Iran.

Qatar bahkan mengecam serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang mengancam keamanan nasionalnya.

Para sekutu AS di Timur Tengah terus berkomunikasi dengan pemerintahan Presiden Donald Trump mengenai langkah selanjutnya dalam konflik dengan Iran.

Para analis menilai, jika serangan Iran terhadap negara-negara Teluk terus berlanjut, mereka kemungkinan akan terdorong untuk ikut terlibat langsung dalam perang. (Web Warouw)

Related Articles

Stay Connected

22,949FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,800PelangganBerlangganan

Latest Articles